Berbeda pendapat dengan orang tua? Ini tips untuk menghadapinya

sharing dengan orang tua

Pegaruh orang tua dalam kehidupan seseorang sangatlah kuat. Manusia nggak bisa lahir ke dunia tanpa peran orang tua. Dikata lahirnya lewat batu?

Prosesnya lahiran pun nggak sederhana. Dalam jangka waktu 9 bulan, ibu harus mengandung janin dan memberinya makanan yang bergizi. Tidak berhenti di situ, setelah lahir ke dunia perjuangan masih harus berlanjut. Prosesnya bahkan membutuhkan waktu lebih lama.

Bertahun-tahun lamanya mereka harus mengurusi anak-anaknya sebelum akhrinya menjadi dewasa.

Udah sewajarnya kalau seorang anak harus menghormati orang tuanya. Namun, menghormati tidak lantas setuju dan mengikuti semua yang beliau katakan. Berbeda pendapat boleh saja. Memang harus demikian agar suatu hubungan berjalan dengan baik. Nah, berikut ini Wovgo mau ngebahas beberapa tips yang bisa kamu coba biar meski diantara anak dan orangtua ada perbedaan pendapat, hubungannya masih tetep yoi.

Sadari kalau semua hal nggak bisa diceritakan ke orang tua.

Anak dan orangtua hidup di zaman yang berbeda. Emang ada sih, orangtua yang bisa akrab banget sama anaknya. Kayak temen gitu. Tapi selain orangtua-orangtua yang jenisnya begitu, diluar sana ada begitu banyak orangtua yang masih terlalu cepat khawatir dengan keadaan putra-putrinya.

Khawatir sih boleh banget. Malah bagus itu, karena bentuk perhatian.

Tapi, sikap “terlalu” itu yang bikin anak ngerasa nggak nyaman. Jadi mereka lebih milih buat nggak menceritakannya.

Terlalu khawatir itu bisa terlihat dari sikap orangtua yang dikit-dikit nanyain, dikit-dikit ngebantu anak yang pengen mandiri dan ngomentarin apapun yang dia lakukan. Nggak percayaan lah pokoknya.

Ada nih, orangtua, si anak udah pamit berangkat kuliah aja masih khawatiran,

Mama: “Nak, kamu udah nyampe kampus?”

Anak: “Udah, Ma.”

Mama: “Sekarang lagi ngapain?”

Anak: “Lagi buka pintu kelas, Ma.”

Mama: “Yaudah. Nanti kalau udah duduk di kursi, kabar-kabarin Mama ya?”

Anak: “….”

Maka dari itu anak jadi sadar kalau semua hal nggak bisa diceritakan, karena nggak semua hal bisa dikompromikan.

Buat kesepakatan: mereka hanya memberikan nasihat ketika diminta.

Orang tua selalu memberikan apapun yang ia miliki kepada anaknya. Kasih sayang, uang jajan, rasa aman, perlindungan, warisan dan termasuk juga nasihat.

Nah untuk urusan nasihat, orang tua punya paling banyak stok: mulai soal pasangan, kehidupan, keluarga, model rambut, cara makan, dan panjang kuku di jempol kaki.

Semakin besar kita tumbuh, ada beberapa nasihat yang membuat anak jadi nggak nyaman. Apalagi kalau udah menyangkut jodoh dan kerjaan.

Perkara yang super sensitif.

Orangtua maunya si anak nikah sama yang mapan, eh si anak maunya nikah sama yang nyaman. Orangtua maunya si anak kerja yang ada pensiunan, eh si anak maunya kerja di bidang yang ia ngerasa punya passion.

Kebanyakan anak sih lebih milih ngangguk-angguk pura-pura setuju.

Nah, biar nggak timbul perselisihan, sampaikan ke orangtua atau bikin semacam kesepakatan:

“Kalau ngasih nasihat jangan berlebihan. Ma, Pa, aku udah dewasa. Tahu mana yang baik dan yang enggak. Toh, kalau aku emang bener-bener butuh nasihat, tanpa disuruh, pasti aku langsung minta ke Mama dan Papa.”

Berbeda pendapat boleh tapi jangan lupa tunjukkan kesopanan dan ucapkan terima kasih.

Beda pendapat itu boleh-boleh aja sih, tapi jangan sampai berbuat nggak sopan juga loh. Kayak misalnya, membantah nasihat orangtua. Udah gitu, membantahnya sambil minta gendong orangtua pula. Kan nggak sopan banget itu!

Ingat, salah milih kata bisa membawa Wovger pada situasi yang nggak mengenakkan. Orangtua itu punya perasaan yang sangat halus.

Jadi sebisa mungkin, hindari perbedabatan yang dapat memicu perselisihan.

Bukankah dalam agama, membantah orangtua dengan bilang “ah” itu nggak boleh? Ucapan “ah” itu hanya contoh aja, karena aturan ini juga berlaku untuk ucapan bantahan sejenisnya.

Jadi kamu tetep nggak boleh dong, menggantinya dengan ucapan “eh” untuk membantah orangtua. Apalagi sampai diterusin jadi gini:

“Eh… hujan gerimis aje. Ikan teri, di asinin.”

Percaya deh, orangtua itu ngasih nasihat, selain karena mereka lebih punya banyak pengalaman, mereka ingin yang terbaik buat kamu.

Orangtua mana sih yang mau menjerumuskan anaknya?

Jadi sesudah orangtua ngasih nasihat, cocok nggak cocok, dipakai atau enggak, selalulah mengucapkan “Terima kasih” atas nasihatnya. Karena itu merupakan bentuk upaya orangtua untuk memberikan yang terbaik buat anaknya. At least, itu sesuai dengan standar bentuk terbaik yang orangtua Wovger percayai.

Atau mungkin kamu juga bisa bilang begini:

“Nasihat Mama/Papa baik, akan lebih baik lagi kalau….”

atau

“Menurut Mama/Papa, bagaimana jika….”

Kayaknya klise ya? Tapi boleh loh dicoba dulu. Kali aja works!

Sesekali, kamu perlu setuju untuk tidak setuju.

ya

Nggak semua anak berani mengutarakan perbedaannya pendapat dengan orang tuanya loh. Malahan, banyak yang menyimpan dan menguburnya dalam-dalam. Jika kamu memang merasa berbeda, bulatkan tekad untuk memperjuangkan pendapatmu. Kalau kamu sendiri aja nggak percaya dengan pendapatmu, gimana kamu bisa minta orangtua untuk percaya?

Nggak peduli seberapa tua usiamu, seberapa besar jenjang pendidikanmu, seberapa banyak negara yang sudah kamu kunjungi, seberapa banyak selingkuhanmu, atau seberapa banyak mantan yang pernah singgah dalam hatimu, kamu akan tetap menjadi bayi kecil bagi mereka.

Maka dari itu, tunjukkan pada mereka bahwa kamu udah cukup matang untuk mengambil keputusan sendiri. Caranya: percaya dan yakin pada diri sendiri, pada pendapat yang kamu anggap benar.

Persiapkan diri untuk badai yang akan datang, ketahui bagaimana mengendalikan percakapan ketika klimaks.

Wovgo berharap Wovger tidak akan melalui proses ini. Sedia mobil sebelum hujan, biar nggak kehujanan.

Lakukan langkah-langkah pencegahan dan cari tahu apa yang harus dilakukan jika beradu argumen dengan orang tua. Langkah pencegahan misalnya menahan untuk tidak terbawa emosi, berbicara dengan santun sembari senyum, temukan waktu yang tepat, dan hindari tempat umum.

Hargai mereka dan sekali lagi ucapkan terima kasih.

Membesarkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah. Orang tua memberikan nasihat yang banyak karena sampai kapanpun mereka tetap memiliki tanggungjawab terhadapmu.

Jadi, sering-sering ucakan terima kasih, kalau perlu berikan kejutan-kejutan kecil untuknya. Raih prestasi dan pembuktian di jalan yang positif.

**

Berbeda pendapat dengan orang tua merupakan hal yang wajar. Biar nggak depresi, cari teman untuk bercerita.

Curhat bisa bikin kamu jadi lebih lega.

Mereka (orang tua) sama sekali nggak punya maksud jahat sama kamu loh, seperti yang Wovgo tulis tadi: orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Lakukan komunikasi secara perlahan.

Yakinlah, suatu saat mereka akan mengerti jika kamu bersabar.