Ibu Yuniati, seorang buruh cuci asal Bantul Yogyakarta, sekolahkan anaknya hingga S-3 di Jepang

Ibu Yuniati

Ibu merupakan 3 huruf yang bermakna beribu-ribu. Kasih sayang ibu sepanjang masa tak akan berhenti hanya lewat sebuah deskripsi semata. Usahanya untuk membesarkan kamu nggak akan terbalas sampai akhir jaman. Kamu hanya perlu membalasnya dengan kesuksesan.

Dan salah satu besar perjuangan serta kasih sayang seorang ibu dapat dicontohkan melalui kisah seorang ibu Yuniati.

Beliau adalah seorang buruh cuci asal daerah Bantul Yogyakarta, yang rela melakukan apapun untuk buah hatinya hingga bisa bersekolah ke Jepang.

Tak tanggung-tanggung perempuan kelahiran 6 juni 1966 ini mampu menyekolahkan anak pertamanya Satya Chandra Wibawa Sakti hingga jenjang S3 di Universitas Hokaido Jepang. Betapa hebat ibu yang satu ini.

“Bagi saya, anak adalah segala-galanya. Jangan sampai mereka seperti saya. Karena itu, mereka harus sekolah tinggi bagaimana pun caranya,”. (penuturan Ibu Yuniati pada Kompas)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa dengan ikhlas Ibu yang telah berumur 49 tahun ini,  membiayai pendidikan anaknya.

Soal dana, Ibu Yuniati sempat menunjukkan senyum gelisah tatkala Ia mulai mengingat betapa uang selalu menjadi kendala. Tapi Ia tetap menjalani itu semua dengan tegar.

Ibu Yuniati, Buruh Cuci di Bantul yang Sekolahkan Anaknya Sampai Doktor di Jepang

Ibu Yuniati tengah memegang foto putranya, Satya Candra Wibawa Sakti, yang saat ini kuliah S3 di universitas Hokaido Jepang. Foto : Beritajogja.id

Ibu Yuniati memang harus pontang panting untuk mendapatkan uang demi membiayai sekolah Sakti. Biaya pendidikan untuk anaknya tersebut bukan lah perkara kecil. Bisa dibayangkan, penghasilan per sekali cuci yang hanya mencapai angka 10.000 rupiah, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Gali lubang tutup lubang alias berhutang menjadi pilihan.

Mencoba hutang pada beberapa bank pernah Ia coba, dari bunga yang kecil hingga bunga yang besar.

Semua ia tanggung sendiri.

Ia berusaha menutupi hal tersebut dari sang anak karena Ia tak mau anaknya minder dalam pergaulan di sekolah. Sungguh besar hati ibu Yuniati.

“Saya makan nasi sama daun pepaya enggak apa-apa, yang penting ada biaya untuk sekolah anak. Itu yang terpenting,” Ujarnya.

Begitulah keyakinan si Ibu. Ibu Yuniati ini juga mengaku bahwa pekerjaan sebagai buruh cuci mulai ia lakoni sejak tahun 1995, setelah suaminya keluar dari tempat kerja. Bekerja siang malam mencuci baju dan menyetrika bukan hal yang berat. Karena disela-sela pekerjaannya Ia selalu mengingat kebutuhan sang anak.

Pada akhirnya setiap doa dan kesulitannya perlahan di jawab oleh Tuhan. Setiap jenjang pendidikan yang dijalani, Sakti selalu mendapat bantuan.

Sejak menempuh S1 di jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sakti sudah mendapat bantuan dari pemerintah Bantul. Hal ini tentu meringankan beban Ibu Yuniati. Di tahun 2008 Sakti melanjutkan S-2 di jurusan Kimia UGM dan saat ini Sakti merupakan mahasiswa yang berhasil mendapatkan Beasiswa dari Dikti untuk menempuh jenjang S-3 di Universitas Hokaido.

Begitu indah rencana Tuhan.

Hal inilah yang membuat Ibu Yuniati semakin paham bahwa Tuhan tidak mungkin menguji hambanya lebih dari batas kemampuan.

Sampai saat ini, Ibu Yuniati masih harus membayar utang sekitar Rp 30 jutaan. Namun lagi-lagi Tuhan memberi jalan keluar. Kini, kedua anaknya terhitung sudah mampu membiayai hidup sendiri sehingga hasil dari mencuci dapat digunakan untuk mencicil sebagian hutangnya. Iya, Selain Sakti, beliau memiliki anak kedua yang kini menjadi perawat di Rumah Sakit Harjo Lukito bernama Oktaviana Ratna Cahyani.

Secara mantap Ibu ini selalu bersyukur atas apa yang terjadi pada kehidupannya. Dia menegaskan bahwa telah bangga membesarkan kedua anaknya dan mereka pun juga menghargai usaha ibunya dengan tidak pernah berulah.

Di balik kesulitan selalu ada akhir bahagia. Begitu juga dengan perjuangan seorang ibu yang tiada hentinya menahan derita demi belahan hatinya.

Sekarang, berhentilah untuk mengeluh pada keadaan. Bercermin dan lihatlah bahwa kamu sekarang adalah hasil dari perjuangan dan pengorbanan Ibu kamu yang hendaknya kamu hargai.

Sumber : Beritajogja.id, Kompas, Vemale