Kabut asap tak terkalahkan!

kabut asap di Palembang Sumber Foto : REUTERS/Beawiharta. Via: Viva.co.id

Sudah beberapa waktu ini, kabut asap menyelimuti kota-kota di Sumatra dan Kalimantan. Riau, Jambi, Palangkaraya dan mungkin masih ada beberapa kota yang sekarang sedang berjuang melawan bencana asap ini. Ini bukan lagi bencana alam, ini sudah mengarah ke “pembunuhan”.

Masih ada saja yang keukeh bahwa kabut asap adalah bencana alam yang terjadi secara alami karena kemarau panjang yang terjadi di Indonesia. Tapi dibalik bencana ini, ternyata ada campur tangan manusia yang memicunya. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menyatakan bahwa kabut asap ini terjadi karena adanya kebakaran hutan dan lahan pertanian tanaman industri. Ketidak patuhan pengusaha dan petani berbasis pertanian tanaman industri yang melakukan pembakaran lahan inilah yang mengakibatkan bencana ini terjadi.

kabut asap

Foto kabut asap oleh satelit NASA di wilayah Kalimantan dan Sumatra.

Pembakaran lahan untuk membuka areal pertanian masih lazim digunakan para pengusaha karena cara ini dinilai murah dan efisien. Padahal lahan yang dibakar akan sulit dipadamkan, apalagi pembakaran ini juga terjadi di lahan gambut. Bencana ini akhirnya semakin meluas, bukan lagi menjadi bencana nasional, tapi bencana ini sudah merambah ke negara tetangga kita, Singapore dan Malaysia.

Sekalinya Terbakar, Pemadamannya Akan Sulit Dilakukan.

Keefisienan kerja yang diharapkan pengusaha dengan melakukan pembakaran untuk pembukaan lahan, sebenarnya kurang bisa diterima. Dengan pembakaran ini memang pengusaha tidak perlu repot-repot lagi, karena hanya perlu sekali menyalakan api dan api itu akan menrambat sendiri. Tapi itulah yang menjadi masalah sekarang, saat sudah terjadi pembakaran, apinya susah dipadamkan. Apakah ini relevan dengan harapan para pelaku pembakaran lahan? Tentu saja tidak.

pemadaman api

Petugas berupaya memadamkan api dengan cara tradisional. Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. (Foto : CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Seperti api cemburu, akan sangat sulit memadamkan emosi seseorang yang sedang cemburu. Begitu juga dalam kasus ini. Sangat sulit memadamkan api yang sudah menyala di lahan gambut. Jangan persulit lagi orang-orang yang hidupnya sudah teraniaya karena harus menghirup asap ketidak percayaan hasil kecemburuan, dan sekarang mereka harus menghirup asap hasil pembakaran lahan. Apakah kalian para pelaku tidak merasa kasihan?

Bencana ini sudah terjadi beberapa bulan dan belum bisa ditanggulangi secara menyeluruh. Wilayah yang terbakar sangatlah luas apalagi kebakaran ini juga terjadi dilahan gambut. Kondisi kekeringan dan kemarau panjang juga menjadikan api semakin sulit dipadamkan. Disamping itu, masih banyak juga titik-titik api yang sangat sulit dijangkau, sehingga proses pemadamannya agak sedikit terhambat.

Kabut asap belum mereda juga walaupun sudah dilakukan berbagai macam cara penanggulangan. Walaupun titik-titik api sudah ada beberapa yang dipadamkan, tapi asap hasil pembakaran masih akan tetap ada. Memang akan sangat sulit menghilangkan kabut asap ini secara menyeluruh jika belum terjadi hujan. Apalagi BMKG memperkirakan, bahwa perkiraan hujan akan turun masih nanti dipertengahan bulan November. Bisa dibilang, masyarakat Riau, Jambi, Palangkaraya dan kota-kota lain harus menghirup asap selama satu bulan kedepan sesuai perkiraan datangnya hujan.

Api itu membakar, bersifat menghancurkan. Bijak-bijaklah menggunakannya, jangan pernah bermain-main dengannya, jika tidak tau cara memadamkannya.

Tak Ada Lagi Yang Indah, Asap Menutupi Pemandangan. Tidak Bisa Kemana-mana, Asap Menghalangi Pandangan.

Kabut asap yang melanda Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sangat tebal

Kabut asap yang melanda Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sangat tebal, Kamis (24/9/2015). Foto : Kompas

Jangankan melihat pemandangan yang indah, melihat jalanan sehari-hari saja tidak bisa. Akibat kabut asap ini, jarak pandang di Riau dan beberapa kota korban kabut asap ini sangatlah pendek. Seperti di Riau yang jarak pandang normal bisa menjacapai 1.000 meter keatas, sekarang di Pekanbaru jarak pandangnya hanya 50 meter.

Penampakan Asap Menyelimuti Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang

Sumber : detikcom

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin di Pekanbaru menyatakan bahwa ini adalah kabut asap yang terburuk dan terlama yang pernah ada. Selain mengganggu transportasi darat, kegiatan dilaut juga terhambat. Nelayan sepi melaut karena kabut asap ini. Selain itu sempat terjadi hambatan bagi beberapa maskapai penerbangan. Para pilot mengalami kesulitan mendaratkan pesawat karena jarak pandang yang sangat buruk.

Keindahan alam di Riau, Jambi, Palangkaraya dan tempat-tempat lain korban kabut asap saat ini belum bisa dinikmati. Sangat disayangkan, alam yang begitu indah ini dihancurkan oleh beberapa pihak tak bertanggung jawab. Penurunan jumlah turis dan tentu saja transportasi yang terhambat ke daerah-daerah ini pasti sangat mempengaruhi perputaran ekonomi.

Indonesia itu indah dengan alamnya. Jangan rusak keindahan itu dengan industri yang tidak bertanggung jawab dan hanya mencari keuntungan pribadi semata.

Sekolah Diliburkan, Bagaimana Siswa-Siswa Mempersiapkan Ujian.

Kabut asap yang sangat mengganggu kesehatan menjadikan beberapa sekolah di Riau, Jambi, dan Palangkaraya mengambil inisiatif untuk sementara meliburkan siswanya. Sangat disayangkan karena di Jawa sekarang ini sudah memasuki masa-masa UTS dan bagi yang kelas 3 pasti akan sangat kesulitan mengejar materi untuk ujian. Liburan yang tidak menyenangkan. Saya yakin siswa-siswa disana tidak menikmati liburan mereka karena bencana kabut asap ini.

kabut asap sekolah libur

Imbas kabut asap, Palangkaraya 4 kali perpanjang libur sekolah. Foto : Liputan 6

Sektor pendidikan sudah dirugikan. Siswa-siswa ini direnggut haknya untuk menikmati masa-masa belajar mereka disekolah. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini secara tidak langsung sudah merugikan sektor pendidikan yang notabene tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan pertanian industri mereka.

Anak-anak ini tidak salah, tapi mendapat masalah karena tindakan semena-mena yang dilakukan para pelaku pembakaran lahan.  Apakah pelaku pembakaran lahan mau bertanggung jawab jika siswa-siswa ini mengalami penurunan nilai disekolah karena harus libur terus menerus dan ketinggalan banyak materi pelajaran. Tentu saja para pelaku ini tidak mau tau. Sepertinya pelaku pembakaran lahan ini juga butuh dididik untuk bisa lebih bertanggung jawab dengan segalam macam tindakannya.

Menjadi Manusia Berpendidikan Belum Tentu Terdidik. Manusia Terdidik Akan Menggunakan Pendidikannya Untuk Membantu Banyak Orang, Bukan Malah Menyusahkan.

Masker Menjadi Fashion Yang Tidak Trendi.

masker kabut asap

Warga menggunakan masker menembus kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau (Foto : ANTARA/FB Anggoro / VIVA.co.id)

Semua orang di Riau, Jambi, Palangkaraya dan kota-kota lain yang merasakan bencana kabut asap ini memakai masker sebagai pelindung pernafasan mereka. Begitu kasihan saat mereka harus berjuang melawan asap untuk kesehatan, mereka juga harus menutupi muka mereka dengan masker. Bagaimana mereka bisa membanggakan muka ganteng atau cantik mereka jika mukanya saja ditutupi dengan masker? Masker menjadi perlengkapan wajib digunakan bagi orang-orang diwilayah yang terkena kabut asap. Ini bukanlah fashion yang keren. Bagaimana bisa terlihat trendi jika harus memakai masker tiap hari.

Penggunaan masker hanya sedikit membantu mengurangi asap yang dihirup oleh orang-orang ini. Tapi tetap saja hal ini tidak bisa membantu mengatasi hal ini. Apakah ini cukup berguna? Nyatanya semakin banyak orang yang mengidap ISPA karena terlalu banyak menghirup asap.

Kesehatan tentu saja menjadi lini yang paling urgent untuk ditangani. Banyak orang-orang dari Jawa dan daerah-daerah lain ikut membantu mengirimkan obat-obatan dan masker ke Riau, Jambi, Palangkaraya dan kota lainnya. Kabut asap ini harus segera diatasi, jika tidak akan semakin banyak korban berjatuhan.

Sampai Kapan “Pembunuhan” Ini Harus Terjadi.

Patung tarian Sekapur Sirih ditutup dengan masker di Jambi

Patung tarian Sekapur Sirih ditutup dengan masker di Jambi. Foto : ANTARA/Wahyu Putro A.CNNIndonesia

Seperti yang saya bilang diatas, ini bukan lagi bencana alam. Ini seperti sebuah pembantaian yang dilakukan secara massive dan membabi buta. Sudah banyak korban berjatuhan. Baru-baru ini, berdasarkan informasi yang Wovgo peroleh dari Antara, seorang bayi berusia 28 hari, warga Kota Palembang, meninggal dunia diduga terkena infeksi saluran pernapasan akut, di RS Muhammadiyah Palembang, Rabu (7/10). Hal ini terjadi tentu saja karena malaikat malang ini terlalu banyak menghirup asap.

Koran Republika

Kabut asap bikin koran tidak bisa di baca (Foto : redaksicepat.com)

Apakah hal ini masih akan terus dibiarkan. Mau sampai kapan harus berjatuhan korban. Pembakaran lahan yang menimbulkan kabut asap ini memang sudah menghancurkan kemerdekaan banyak orang. Kemerdekaan menempuh pendidikan, kemerdekaan untuk menghirup udara segar, kemerdekaan hidup nyaman, bahkan kemerdekaan untuk hidup juga sudah direnggut.

***

Kejadian ini menjadi rentetan panjang kasus kabut asap di Sumatra dan Kalimantan. Sudah saatnya hal ini dihentikan. Jangan meneror warga dengan ancaman kabut asap yang akan terjadi lagi di tahun-tahun mendaang. Sudah saatnya pemerintah mengambil sikap. Memberi hukuman bagi para pelaku pembakaran lahan. Baik itu perusahaan atau personal, penegak hukum diharap tidak melakukan tebang pilih. Tindak para pelaku sesuai dengan perbuatannya.

Harus ada pencegahan juga agar hal ini tidak terjadi terus menerus di Indonesia. Pemerintah harus meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang terbukti terlibat dengan kasus ini, dan juga memberikan pemahaman mengenai mekanisme pembukaan lahan yang sudah disesuaikan agar tidak terjadi bencana seperti ini.

Kembalikan Hak Manusia Untuk Merdeka. Mereka ini manusia, bukan nyamuk yang bisa kalian bunuh dengan asap secara semena-mena.

 

Tips : Alat bantu pernapasan.

Masker buatan untuk kabut asap

Alat bantu pernapasan handmade untuk kabut asap. Foto : Adjie50%

 

Sumber : Antaranews.com, Tempo.co, CNNIndonesia.com, Okezone.com, Liputan6.com, Republika.co.id, VIVA.co.id