Khalid Mustofa kantongi Rp 60 juta/hari dari berbisnis coklat

Khalid Mustofa Kampung Coklat

Bicara soal bisnis, kurang afdol kalo kamu nggak ngerasain kerja dari bawah. Kenapa? Kamu yang suka memandang dari sisi kesuksesan semata, nggak akan pernah paham apa arti dari perjuangan.

Sama halnya dengan sosok Khalid Mustofa. Dia adalah sosok pebisnis yang pantang menyerah hingga pada akhirnya, usaha yang ia bangun mampu menuai eksis di panggung bisnis. Sosok Khalid yang dulunya pernah gagal dalam bisnis ayam, kini hadir dengan inovasi bisnis baru dengan mendirikan Kampung Coklat. Wow, Coookklaatttt.

Apa itu Kampung Coklat?

Kampung Coklat - Blitar

Foto : Wovgo.com

Kampung Coklat, berlokasi di Desa Plosorejo, Blitar, Jawa Timur dengan luas 32 hektar, sebuah tempat pengolahan coklat.

Kampung Coklat yang didirikan oleh Khalid menawarkan suasana back to nature dengan pemandangan alami pedesaan yang menyenangkan bagi pengunjung. Nah, buat kamu yang ingin singgah ke sana, cukup dengan Rp. 5000, kamu bisa menikmati sejuknya perkebunan coklat dengan pohon-pohon yang rindang.

Kampung Coklat - Blitar

Foto : Wovgo.com

Selain, disegarkan sama perkebunan coklat yang cocok untuk piknik, ada paket wisata edukasi untuk kamu yang mau belajar berkebun, mulai dari pembibitan biji coklat hingga ada forum diskusi pasca produksi sehingga kamu bisa belajar banyak soal bisnis yang memiliki omzet besar ini. Nggak berhenti sampai situ, kamu juga bisa mencicipi kuliner serba coklat – seeeerrrbbaa cooookkklllattt – seperti mie cokelat, jagung bakar cokelat, bakso, dan makanan khas lainnya.

Oh ya, bisnis Kampung Coklat ini, sempat mengalami pasang surut, karena masih banyak orang yang merasa asing tentang konsep wisata yang diusung oleh Khalid ini. Tujuan dari Kampung Coklat ini adalah selain memberikan wisata edukasi, Khalid juga ingin pengunjung lebih tau tentang seluk beluk coklat. Sebagai contoh, dark coklat, dimana belum banyak orang yang paham manfaat sebenarnya dari dark coklat itu sendiri terutama untuk lidah orang Indonesia yang masih asing terhadap dark coklat.

Kampung Coklat - Blitar

Foto : Wovgo.com

Namun seiring berjalannya waktu, usahanya ini mampu memikat banyak orang. Hingga warga asing juga merasakan dampak dari bisnis ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan pertukaran budaya dari turis yang setiap dua hari sekali belajar memproduksi biji kakao sendiri. Keren!

Kampung Coklat milik Khalid ini masih tergolong bisnis baru, masih sepuluh bulan. Tapi siapa sangka, kabarnya omzet dari Kampung Coklat sudah mencapai Rp.60juta/hari, wow… Pengunjung yang datang mencapai 600 orang setiap harinya. Untuk weekend bisa mencapai 6000 orang.

Kampung Coklat - Blitar

Foto : Wovgo.com

Kedepannya, Kampung Coklat sudah merancang akan membangun home stay untuk para petani dari seluruh Indonesia yang mau menginap untuk belajar produksi cokelat. Dengan harapan, para petani bisa lebih mandiri dan berani mencoba mengembangkan bisnis pertanian dan perkebunan coklat serta menjadikan Indonesia sebagai produsen cokelat terbesar di dunia. Yang kayak gini nih, harus bener-bener mendapat dukungan.

Perlu diketahui, selain bekerja dengan warga asli Desa Plosorejo, djuga bekerja sama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Petani) – 200 petani biji kakao dari seluruh Blitar ia rangkul bersama untuk mengembangkan bisnis ini.

Kampung Coklat - Blitar

Foto : Wovgo.com

Gimana Wovger? Dari sini dapat diambil pelajaran, kalo kamu ingin berbisnis jangan tanggung-tanggung dan jangan takut gagal. Buka ‘link’ selebar-lebarnya karena kamu nggak tau bisnis kamu akan dikenal sampai mana. Dan pastinya ketika kamu udah sukses jangan lupakan orang-orang yang menjadi faktor penentu kesuksesan kamu. Rangkul mereka untuk diajak kerja sama lebih jauh lagi. Siapa tau kamu bisa memberikan sumbangsih prestasi kamu untuk membangun Indonesia lebih baik.

Punya kisah inspiratif lainnya? Share di komentar atau kirimkan ke [email protected]