Ini bukan modus balikan! Tapi cara paling pas untuk membuat mantan jadi teman

putus cinta

Banyak dari kamu yang enggan membahas soal mantan. Membahas aja males, gimana mau berteman? Apalagi balikan. Atau jangan-jangan malah kamu lagi menggebu-gebu pengen balikan? Move on woy, move on!

Tapi Wovgo sih yakin, kalau beberapa dari kamu pasti ada yang menggunakan modus “berteman” atau “menjaga silaturahim” padahal aslinya pengen balikan. Hayo ngaku?

Bentar ah, ngakak dulu:

“HA.. HA.. HA.. HA.. HA..”

Ada perang batin dalam diri kamu. Antara musuhan atau berusaha melapangkan hati, bahwa kamu ingin memulai hubungan baru dengan berteman.

Sebenarnya berteman dengan mantan merupakan modus buat balikan atau bukan, itu tergantung niatan kamu juga sih. Kan kamu, yang paham perasaanmu sendiri. Kalau dengan berteman bikin hubungan kamu jadi lebih baik daripada pacaran, maka lakukanlah. Asal jangan sampai, pas awal-awal niat temenan. Tengah-tengah, masih temenan. Lalu lama-lama baper dan akhirnya balikan.

Bentar ah, ngakak lagi:

“HA.. HA.. HA.. HA.. HA..”

Yaudah, apapun motif utama kamu, tapi yang jelas, di sini Wovgo pengen ngasih solusinya buat kamu yang niatnya pengen temenan aja. Bukan yang balikan. Ingat ya, yang niatnya temenan. Tolong. Tolong, dan tolong banget jangan disalahgunakan.

Ada hal yang perlu kamu pertegas, yakni dengan memberikan dia ruang dan waktu.

beri dia waktu

Foto : india.com

H+1 setelah putus, bukanlah waktu yang tepat untuk mendekati dia sebagai teman. Itu sih lebih ke baper malahan. So, tunggu waktu yang kondusif setelah insiden badai yang mengarungi perasaan kalian berdua.

Hal ini disebabkan, masih adanya perasaan-perasaan labil yang menyelimuti kedua belah pihak. Misalnya perasaan emosi karena salah satu pihak merasa nggak siap diputusin atau perasaan sedih karena masih ingat kenangan masa lalu.

Pemberian waktu ini juga nggak ada targetnya loh. Bisa aja memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Tergantung seberapa parah kamu bener-bener menghancurkan hatinya. Atau, seberapa kuat kenangan diantara kalian masih menempel dalam pikiran dan benak satu sama lain.

Sebaiknya beri ruang dan waktu, baik kamu maupun dia. Pertegas hati kamu dengan sangat yakin bahwa waktu merupakan jalan satu-satunya untuk saling melepaskan dan saling intropeksi diri dengan keadaan.

Mencapai kata sepakat dengan kepala dingin.

Kamu yang masih berkeyakinan bisa berteman dengan mantan hendaklah teguh dengan pendirian. Meskipun dia marah-marah atau bahkan sampai ngajak balikan, kamu harus sadar bahwa kalian nggak bisa lagi bersatu. Ingat komitmen awal loh.

Setelah memberikan waktu selama sebulan, dua bulan, kamu boleh mencoba menghubunginya kembali dengan perkataan maaf. Wovgo yakin, perasaan kamu jauh lebih tenang, pikiran kamu lebih dingin dibanding harus memaksakan berteman di H+1 setelah putus.

Coba tanya keadaan dan kabarnya. Pertanyaan yang simpel tapi berpotensi bikin baper sih:

“Gimana kabarnya?”

“Sekarang lagi sibuk apa?”

Asal jangan sampai kamu nanya begini:

“Sekarang, ukuran celana jadi berapa? Kayaknya makin gendutan ya?”

Karena kalau sampai pertanyaan terakhir itu bener-bener kamu tanyakan, jangan harap rencana menjalin silaturahim akan mulus.

Intinya, jujur sama niatan kamu kalau emang pengen temenan.

Ingat loh ya, temenan. Ungkapkan ini bener-bener dan patuhi komitmen diri secara serius. Kalau perlu, kasih dia semangat dan motivasi soal hubungan persahabatan yang ternyata lebih baik daripada sekedar pacaran. Jelaskan pula tujuan baik kamu mengajaknya berteman.

Dengan bersahabat, kamu bisa selalu ada untuk dirinya tanpa ada kata putus. Jika butuh bantuan, teman bisa jadi nomer 1 untuk diandalkan, daripada jadi pacar. Bukankah menyambung tali silaturahmi itu bisa memperluas rejeki? Yakinkan dia, kalau kamu tetep masih bisa diajak hang out tanpa ada rasa suka dan benci satu sama lain. Bisa saling bertukar pikiran tentang cowok atau cewek yang mau kamu deketin nantinya. Ya, kayak kalau sama temen gitu.

Tutup kenangan lama, dan mulai dengan kenangan baru sebagai seorang sahabat.

jadi teman

Foto : askmen.com

Sebuah hubungan pertemanan harus berjalan konsisten sebagai mana mestinya. Jika dulu kamu punya kenangan buruk bersamanya, cobalah minta maaf. Ceritakan hal-hal yang menyenangkan, jangan ungkit lagi masalah di masa lalu.

Kalau emang pada akhirnya harus ada yang dibicarakan, maka berdiskusilah secara terbuka. Atasi masalah-masalah yang belum terselesaikan dengan cara yang dewasa.

Setelah itu, fokuslah dengan hal-hal yang terjadi di depan. Sekarang bukan waktunya untuk mengumbar aib, tapi lebih kepada rencana membangun persahabatan baik antara kamu dengan dirinya.

Dengan niat baik ngajak temenan, kamu mungkin bisa merasa lega, tapi belum tentu bagi mantan kamu. Maka jangan dipaksakan jika hasilnya nggak sesuai.

Pertemanan merupakan hubungan yang didasari kesepakatan kedua belah pihak. Jika salah satu pihak ada yang nggak sepakat, maka jangan dipaksakan untuk mengikuti ego loh.

Kamu harus menyadari bahwa segala niat baik kamu mungkin nggak diterima dengan baik, tapi dibalik itu kamu udah bersikap berani kok. Kamu cukup berpikir positif aja, kira-kira apa yang menyebabkan mantan kamu memilih untuk tidak menerima ajakan kamu untuk berteman.

Mungkin aja dia masih nyimpen perasaan terpendam ke kamu. Atau mungkin dia lagi deket dengan sosok yang lain, sehingga kehadiranmu malah dianggap kurang nyaman juga baginya.

Di titik ini kamu bekewajiban untuk menghargai pendapat dan perasaannya. Kalau mantan kamu mulai bersedia menerimamu sebagai sahabat, maka bersyukurlah dan mulai dari awal lagi. Kayak petugas pom bensin itu loh:

“Mulai dari nol ya?”

Tapi ingat, jangan di awal semangat banget bilang “mulai dari nol” eh nggak tahunya besok-besok ternyata balikan. Pasti ada yang gitu. Ada. Pasti ada!

Bentar ah, lagi-lagi pengen ngakak lagi:

“HA.. HA.. HA.. HA.. HA..”