Penemuan tinta berbahan dasar daun kering karya anak Universitas Brawijaya Malang

mochammad wahyu muharyanto dan regina yolanda

Karya mahasiswa Indonesia memang nggak ada habisnya. Mochammad Wahyu Muharyanto dan Regina Yolanda mampu meraih medali perunggu dalam ajang International Young Inventors Award.

Usaha dua sekawan yang hobi traveling ini pada akhirnya berbuah manis ketika mereka menyodorkan tinta ramah lingkungan dari daun kering.

Kreativitas dua mahasiswa semester 5 dari jurusan Teknik Kimia Universitas Brawijaya (TK UB) ini jelas mengundang sejuta tanya bagaimana bisa daun kering disulap menjadi tinta.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa International Young Inventors Award atau IYIA ini, merupakan ajang bergengsi dengan kerja sama antara Indonesia, Korea dan Thailand. IYIA ini berusaha untuk mencetak para generasi muda untuk menjadi inventor dalam skala international. Juri yang hadirpun merupakan juri-juri dari luar negeri.

Kompetisi ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi baru dan kreatifitas dari remaja muda Indonesia yang sifatnya mengedukasi dan bermanfaat bagi masyarakat. Mengingat Indonesia memiliki beragam potensi alam yang dapat dipadukan dengan teknologi yang saat ini berkembang sehingga menjadi buah karya.

Hal inilah yang dicoba oleh Wahyu dan Regina dalam menciptakan tinta dari daun kering. Mereka menyebutnya ECO INK.

Eco Ink ini merupakan tinta berbahan baku daun kering. Jadi benar-benar bisa didaur ulang dan ramah lingkungan loh..

Dua sohib ini mencoba membuat tinta dengan dua macam varian. Ada tinta untuk kertas dan tinta untuk printer. Kelebihannya selain ramah lingkungan tinta ini tidak mudah luntur meski terkena air.

Pembuatannya cukup simpel, ini menurut si penciptanya loh. Kalo diperhatikan baik-baik bagi orang awam pembuatannya bikin kepala muter-muter.

Intinya pembuatan tinta ini dilakukan di Laboratorium Sains Teknik Kimia di UB Malang. Daun kering atau Daun Taman yang diperlukan ukurannya medium. Daun ini sudah dalam kondisi dikarbonisasi atau dibakar tanpa oksigen untuk menghasilkan bubuk tinta.

Hmm..kebayang nggak kalo ini dilakukan di rumah? Ribet kan.

“Kami menggunakan alat karbonisator untuk merubah 20 gram dedaunan kering menjadi enam gram bubuk karbon sebagai bahan baku tinta. Prosesnya butuh waktu dua jam untuk mendapat bubuk karbonnya. Kemudian karbon itu dicampur dengan aquades, resin, etanol dan propilen glicol” Ujar Regina kepada AntaraNews.

Kedua mahasiswa ini juga mengaku bahwa mereka mendapatkan inspirasi dari hasil penelitian karbon dengan bahan baku jerami yang sekarang sulit didapat, sehingga mereka mencoba untuk mencari alternatif lain dengan menggunakan daun kering.

Ketika membuat karya ini, mereka juga mengalami beberapa kali kegagalan. Setidaknya mereka membutuhkan uji coba hingga enam kali baru bisa berhasil. Suhu dan lama pembakaran menjadi kendala yang harus dihadapi untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Jika suhu pembakaran terlalu tinggi maka daun akan hangus dan selulosa dari daun juga ikut hancur. Begitu juga sebaliknya, suhu terlalu rendahpun tidak menjamin tinta menjadi bagus justru membuat warna tinta menjadi abu-abu dan tidak pekat serta tidak tahan lama. Perlu komposisi yang pas agar warna dan tekstur tinta sesuai dengan yang diharapkan.

Tinta yang sudah jadi dapat dijual seharga Rp 1.000 untuk satu botol ukuran lima ml.

Prestasi yang dicapai Wahyu dan Regina tidak lantas jadi berhenti ketika sudah mendapat medali perunggu dalam ajang International Young Inventors Award, mereka masih terus mengembangkan dan berusaha memodifikasi tinta yang bisa dipakai untuk media plastik seta mulai mengurus hak paten dari ECO INK itu sendiri agar nantinya tidak disalah gunakan.

Buat kamu yang statusnya mahasiswa dari pada galau, sajikan karya-karya yang berkualitas seperti Wahyu dan Regina ya. Wovgo tunggu kabar hits dari kamu…

Sumber : Ayisi, Prasetya.ub.ac.id

Foto : Suryamalang.com