Saptuari: Pengusaha cetak digital sekaligus pendiri Gerakan Sedekah Rombongan

saptuari sugiharto

Saptuari Sugiharto. Dari namanya saja ‘Sugiharto’ sudah mengisyaratkan nantinya pemuda ini bakalan Sugih Arto yang artinya Kaya Uang.

Dia adalah pengusaha yang berasal dari Yogyakarta dengan predikat lulusan Universita Gajah Mada (UGM) yang sukses berbisnis.

Beberapa bisnisnya antara lain Kedai Digital, Kaos Jogist, Bakso Granat, dll. Namun usaha yang paling membuahkan hasil adalah usaha cetak digital.

Entah karena kehokian namanya atau tepatnya pilihan hidup Saptu, pada akhirnya membawa pemuda ini menjadi juara kedua kontes Wirausaha Muda Mandiri.

Untuk memulai bisnis bisa dibilang cukup complicated. Mengalami jatuh bangun sudah menjadi aktivitas sehari-hari.

Diawali ketika Saptu bekerja sebagai Event Organizer (EO) disebuah perusahaan di Yogyakarta.

Saat itu EO nya sedang sibuk menangani konser band Dewa.

Konser tersebut membuat Pria kelahiran 8 September 1979 terheran-heran, mengingat ada salah satu insiden tawuran antar penonton karena berebut merchandise sang artis

Dalam pikiran Saptu, merchandise bergambar dan berlogo artis seperti kaos, topi atau pin sebetulnya bisa dibuat sendiri dan diperbanyak. Dari situlah ide Kedai Digital tercetus.

Berkat tawuran di konser Dewa, tahun 2005 ia mendirikan Kedai Digital, sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual berbagai macam cenderamata seperti mug, pin, gantungan kunci, kaos, foto, mouse pad, dan poster keramik, serta banner hasil print digital.

Membutuhkan waktu enam bulan sebelum Kedai Digital benar-benar bisa beroperasi.

Banyak hal yang disiapkan oleh Saptu seperti mendapatkan mesin digital printing, mencari sumber bahan baku, menyiapkan lokasi tempat usaha dan menyusun konsep produk mulai dari desain sampai bentuk jadi, serta tak lupa dia harus merekrut staf.

Awalnya, macam cendramata yang diproduksi hanya sebatas pada pin dan kaos.

Ketika bisnisnya mulai berjalan stabil, pemuda dari jurusan Perencanaan Pengembangan Wilayah ini, mulai merekrut desainer dari kampus seni terdekat yang tersebar di Yogyakarta.

Karena Kedai Digital ini memiliki target pemasaran untuk mahasiswa, jadi untuk promosi, Ia tak segan untuk meminta bantuan mahasiswa dari universitas ada di kota pelajar tersebut.

Pada kenyataannya, sebelum ada Kedai Digital ada  banyak toko souvenir yang sudah berdiri. Hal itu yang membuat Saptu berpikir keras uantuk menonjolkan pembeda dari toko lain.

Untuk menciptakan keunikan ini, Saptu harus melakukan riset pasar dan membutuhkan waktu yang tak singkat. Masyarakat perlu diberikan edukasi terlebih dahulu apa yang ditawarkan oleh Kedai Digitalnya.

Kedai miliknya, lebih mengedepankan sentuhan pribadi alias bisa custom. Pelanggan boleh mencetak hasil karyanya sesuai apa yang diinginkan. Hal inilah yang menjadi keunikan tersendiri bagi kedai Saptu, yang jarang souvenir lain angkat.

Saptu juga tak puas hanya dengan konsep custom, dia tetap melakukan pengembangan untuk kedainya. Menurutnya  produk tersebut yang paling popular.

Kemudian, Saptu juga mengenalkan brand baru yang disebut Kedai Cutting untuk kaos.

Pelanggan boleh mengorder kaos dengan desain gambar sesuai selera, baik tulisan maupun gambar logo.

Kedai ini juga melayani orderan satu item barang sesuai dengan slogannya “Bikin Mug Satu Saja atau Bikin Merchandise Semau Kamu”.

Kebanyakan pelanggan Saptu adalah anak muda yang banyak maunya jadi Saptu memaklumi hal tersebut. Justru karena ulah anak muda inilah, Kedai Digital membuat pelanggan betah dan setia.

Bisnis Saptu terus menerus berkembang dengan beragam inovasi yang dibuatnya. Baik dari segi pelayanan sampai pada segi keunikan produk.

Sehingga semakin hari semakin banyak pelanggan yang datang . Tak heran berbagai penghargaan wirausaha pun berhasil disabetnya.

Diantaranya :

  • Tahun 2007 Pemenang II Wirausahamuda Mandiri Kategori Mahasiswa Program Pasca Sarjana dan Alumni
  • Tahun 2008 Penghargaan ISMBEA (Indonesia Small and Medium Bussiness)
  • Tahun 2008 Entrepreneur Award versi Majalah Wirausaha dan Keuangan

Hal yang membuat Kedai Digital ini sukses adalah produksi yang terus menerus tiada henti.

Untuk foto keramik produksi bisa tembus lebih dari 8000 biji per bulan sedangkan untuk mug bisa mencapai 15 ribu biji per bulan.

Di tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih omzet penjualan sebesar Rp 400 juta.

Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp 900 juta. Hasil penjualan ini digunakan Saptu untuk membuka outlet lebih banyak.

Pencapaian ini juga tak lepas dari sorotan media yang mulai mem-blow up usahanya. Melalui media, orang semakin mengenal usaha Saptu.

Tak mengherankan, pada 2007 penjualan semakin tinggi dengan angka Rp 1,5 miliar.

Bermula dari sebuah ­kios kecil di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini Kedai Digital memiliki outlet di 21 kota di Indonesia.

Di antaranya di Yogyakarta, Solo, Semarang,Magelang, Kudus, Klaten, Purwokerto, Sukoharjo, Wonogiri, Madiun, Malang, Surabaya, Jember, Balikpapan, Sukabumi, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

Setelah sukses dengan Kedai Digital, ia tak berhenti untuk mulai merintis usaha lain, seperti Jogist yang merupakan singkatan dari Jogja Istimewa.

Jogist merupakan kaos dengan desain berbau khas Jogja. Selain itu dia juga memiliki usaha Bakso dan usaha lainnya.

Selain itu, Ia juga menjadi Sosialpreuneur dengan membuat gerakan Sedekah Rombongan (SR). Melalui Sedekah Rombongan, Ia membantu orang-orang yang kurang mampu dan membutuhkan.

Keberhasilan yang diraih saat ini juga tak mungkin berjalan dengan mulus.

Dulu, saat masih duduk di bangku kuliah, Ia berasal dari keluarga yang pas-pasan.

Selain jiwa pebisnis sudah ada sejak lama, kondisi keluarga yang menyebabkan Saptu ingin meraih kesuksesan secepatnya.

Berbagai macam jenis usaha Ia geluti, Ia pernah berjualan celana gunung di kampusnya.

Ia juga sempat bekerja menjadi penjaga tas untuk mencari uang di koperasi mahasiswa.

Bahkan Ia pernah memelihara ayam dan menjual ayam-ayam tersebut.

Tak berhenti perjuangan dari seorang Saptu, Ia pernah juga menjual stiker hingga menjadi sales di agen kartu seluler dan rokok.

Ketika ide Kedai Digital ini muncul, terkumpul modal sebanyak Rp 28 juta hasil dari  menjual motor dan meminta orangtua menggadaikan rumah keluarga.

Ia menyewa sebuah tempat bekas pangkalan becak dan memulai usahanya disana.

Saat gempa melanda Jogja, usahanya sempat hancur, namun tak membuatnya patah semangat. Dia masih ingat kondisi keluarga yang harus diperbaiki.

Yang membuat salut adalah disaat jatuh-jatuhnya, Saptu masih terus berusaha dengan konsep bisnis yang ia pegang yaitu ATM dan PISS.

ATM kepanjangan dari Amati Tiru dan Modifikasi sedangkan PISS kepanjangan dari Positive Thinking, Ikhtiar dan Iklas, Sedekah dan Sukses Dunia Akhirat.

See? Omzet ratusan juta sudah diraihnya sekarang. Kisah Saptu mengingatkan kita semua bahwa dalam menjalankan bisnis harus mempunyai pegangan (berupa doa) dan tujuan serta kerja keras.