Terima kasih Pak Raden, sudah menemani masa-masa kecil kami. Selamat jalan. Karya-karyamu takkan pernah kami lupakan

pak raden

Minggu pagi, belum mandi, dan dalam keadaan ingus masih di sana-sini, aku dan teman-teman berjubel-jubel memenuhi rumah seorang teman untuk bersama-sama menonton TVRI. Duduk berdesakan dan tak sabar menanti munculnya Unyil, Ucrit, Usro, Pak Raden serta karakter-karakter lainnya di layar kaca. Masing-masing dari kami harus tiba lebih awal, jika ingin memperoleh tempat duduk di posisi paling depan. Bahkan kalau perlu, setelah subuh sudah stand by menunggu di depan pintu rumah teman pemilik TV itu hingga dibuka.

Maklum, saat itu jarang sekali ada orang yang punya TV. Atau kalaupun ada, pasti ia seorang pengusaha kaya raya atau pegawai negeri yang bulan demi bulan menyisihkan uang secara rutin hingga bisa cukup untuk membeli TV. Itu pun, ukurannya hanya 14 inch atau bahkan lebih kecil.

si unyil dan kawan kawan

Si unyil dan kawan kawan

Jangan kira, layarnya akan menghasilkan gambar warna-warni seperti TV-TV sekarang. Jaman dulu, TV itu cuma punya 2 warna: hitam dan putih. Belum lagi ditambah kualitas gambarnya yang masih mengharuskan para penonton untuk berjuang secara bergantian menggoyang-goyangkan antena demi mendapatkan hasil gambar terbaik.

Kami selalu bersemangat meski harus menonton rame-rame dan berdesak-desakan dengan penonton lain. Berusaha keras memanjangkan leher, cerdik menggeser kepala, dan tak jarang pula timbul bunyi ‘dug’ gara-gara adanya 2 kepala yang bergesakan berebut ingin mendapatkan posisi menonton terbaik. Yah, begitulah nasib para penonton yang datang terlambat untuk menyaksikan Unyil.

Ah, aku sangat merindukan masa-masa itu.

Si Unyil

pak raden

Nama ‘Unyil’ berasal dari kata ‘Mungil’ yang berarti ‘Kecil’. Sekecil keluarganya yang bahkan jauh sebelum KB digembar-gemborkan seperti sekarang, keluarga Unyil sudah melakukannya terlebih dahulu. Ya, orangtuanya memiliki 2 orang anak: ia sendiri dan Kinoy, adiknya.

Kami bahagia, memiliki masa kecil mengasyikkan yang selalu ditemani Unyil, Ucrit, Usro, Pak Raden, Pak Ogah, Pak Ableh, Kinoy, Meilani, Tina, Bun Bun, Cuplis, Endut, Mbok Bariah, Brehom, Pak Lurah, Hansip dan masih banyak lagi.

Bahkan kami juga hafal unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Seperti lagu pembukaan “Hom-pim-pah unyil kucing”, kalimat wajib Pak Ogah “Cepek dulu dong!” dan kebiasaannya mencuri mangga milik Pak Raden, sifat Pak Raden yang pelit, pemarah, pemercaya primbon dan selalu beralasan encok saat diajak bekerja bakti oleh warga-warga lain di Desa Sukamaju, serta kebiasaan-kebiasaan karakter lainnya yang hingga kini masih tertancap kuat dalam otak dan benak kami.

Meski dalam ceritanya selalu berperan antagonis, namun Pak Raden tak pernah gagal membuat kami tergelak melalui cerita-ceritanya yang jenaka.

Buku

Tak hanya berhenti pada serial Unyil saja, Pak Raden juga menghibur kami lewat buku-buku cerita anak hasil karyanya. Seperti buku-buku Bahasa Indonesia semacam ‘Ini Ibu Budi’, Art Book Gambar Dongeng, sketsa buku, hingga buku berjudul Petruk Jadi Raja yang rilis tahun 2008 lalu.

Pendongeng

“Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan cinta,” kata Pak Raden pada bulan Mei tahun 2013 lalu pada sebuah acara di Gedung Bentara Budaya, Jakarta.

Ya, cinta adalah energi yang menguatkannya sampai mampu bertahan untuk menjadi seorang pendongeng hingga kurang lebih 60 tahun lamanya.

Sosok Pak Raden sudah benar-benar menjadi ‘Top of Mind’. Setiap ada teman yang punya nama depan Raden, atau ada orang menyebut nama Raden, otak kami secara otomatis langsung membentuk gambaran seorang pria berkarakter Jawa kental, mengenakan kain beskap warna hitam, blangkon, tongkat mirip gagang pegangan payung dan sebuah kumis yang tebal melintang.

Ada begitu banyak judul dongeng yang sudah Pak Raden ceritakan kepada kami. Seperti pengorbanan seorang Ibu, Ibu dan Kelima Anak Gadisnya, dan tak jarang pula Pak Raden menggunakan nama-nama program pemerintah untuk dijadikan judul dalam dongengnya. Sebut saja ABRI Masuk Desa, Operasi Bersih, Buta Aksara, Hardiknas, Cinta Lingkungan dan masih banyak lagi judul-judul dongeng Pak Raden yang rasanya terlalu banyak jika ditulis semuanya.

Lukisan dan sketsa

lukisan pak raden

Lukisan terakhir karya Pak Raden yang belum sempat di selesaikan. Foto : Kompas

Pak Raden menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa ITB, lalu melanjutkan belajar animasi di Perancis pada tahun 1961 hingga 1965. Bakat dan pendidikan yang baik menjadikannya sebagai seorang pelukis mumpuni, pembuat sketsa di atas kertas yang handal serta ilustrator buku-buku anak yang konsep dan ceritanya ia rancang sendiri.

Suyadi – nama asli Pak Raden – telah menghasilkan puluhan karya bertema anak-anak dan dunia wayang bergaya figuratif-naratif. Ia penggemar wayang orang, yang selalu menggunakan waktu duduknya di teater wayang untuk membuat sketsa-sketsa. Kadang ada yang jadi, kadang pula ada yang tidak. Tetapi inilah saat yang paling Pak Raden sukai untuk membuat sketsa. Bahkan sekitar 60 sketsa karya pria kelahiran Jember itu pernah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, pada tanggal 25 April hingga 5 Mei 2013 lalu.

Dan masih banyak lagi karya-karya Pak Raden lainnya.

Kini, kami sudah tak bisa lagi bersua dengannya secara langsung. Namun, karya-karyanya selalu bisa menjadi penghantar yang baik untuk mengobati kerinduan kami kepadanya.

Terima kasih Pak Raden, sudah menemani masa-masa kecil kami.

Selamat jalan.

Karya-karyamu takkan pernah kami lupakan.

Sampai kapanpun!

selamat jalan pak raden