Supir bus asal Bima mampu memberikan pendidikan gratis. Kamu kapan?

M Saleh Supir Bus Pejuang Pendidikan Sumber Foto : www.incarberita.com

Pendidikan di Indonesia harus sampai ke pelosok negeri!

Ini bukan ucapan semata, tapi ini kejadian nyata dari Bang Alan, lelaki kekar bernama asli M. Saleh, yang membangun sekolah gratis di kampungnya. Lokasinya berada di Tololai Kecamatan Ambalawi Kab Bima.

Dusun Tololai yang letaknya jauh dari sekolah negeri menyebabkan warga setempat mengalami kesusahan mengakses pendidikan. Bahkan kondisi warga yang masih hidup dalam garis kemiskinan menjadi kendala bagi yang ingin menyekolahkan anaknya.

M Saleh Pejuang Pendidikan

Foto : ngguwumbojo.blogspot.com

Dana BOS dan Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang mestinya merealisasikan pendidikan sampai ke pelosok negeri juga tak kunjung bisa diharapkan. Buktinya masih banyak anak yang susah bersekolah seperti di Dusun Tololai, desa Mawu, kecamatan Ambalawi, kabupaten Bima.

Melihat hal tersebut, Bang Alan yang berprofesi sebagai supir bus malam jurusan Bima-Surabaya mau memperjuangkan hak pendidikan untuk anak-anak dengan mendirikan sekolah Madrasah di bawah naungan Yayasan Darul Ulum tahun 2008 silam. Sungguh mengejutkan sekaligus membawa kabar gembira bagi anak-anak daerah setempat.

Awal perjalanan bukanlah hal yang mudah bagi pria yang hanya tamatan SMA, namun dengan tekad kuat dia mampu merintis sekolah ini.

Sebelum sekolah itu resmi berdiri Bang Alan sering mondar mandir dari kantor yang satu ke kantor yang lain untuk urusan administrasi sekolah.

Dengan dana seadanya dari tabungan pendapatan sebagai seorang supir bus, akhirnya sekolah itu dibangun.  Berlokasi di atas tanah warisan orang tuanya, berupa kebun dengan tiang kayu berdinding anyaman bambu dan beratapkan seng yang diberi nama sekolah Madrasah Ibtidaiyah Swasta DARUL ULUM TOLOLAI.

Tidak hanya itu, pria yang memasuki usia kepala empat ini tak kenal lelah untuk mencari tenaga pengajar yang mau digaji seadanya. Adik-adik di kampungnya yang telah lulus kuliah dan belum bekerja menjadi sasaran Bang Alan untuk diajak bergabung mengajar di sekolahnya.

M Saleh

Foto : ngguwumbojo.blogspot.com

Ketika sekolah ini mulai aktif, jumlah siswa yang mendaftar hanya sebanyak 12 orang dengan satu kepala sekolah dan tiga tenaga pengajar. Aktivitas belajar mengajar para guru dan siswa pun berjalan alakadarnya. Tidak ada seragam ataupun fasilitas yang menunjukkan bahwa itu adalah sekolah.

Hal itu tak membuat Bang Alan berkecil hati, dia tetap mengelolah dengan sebaik mungkin. Banting tulang siang-malam dengan profesi supir dilakoninya agar bisa membiayai para pengajar dan memenuhi fasilitas sekolah gratisnya, termasuk seragam, buku, tas, sepatu dan alat tulis.

Tahun demi tahun berlalu, sekolah mulai kelihatan wujudnya. Darul Ulum memiliki 3 ruangan kelas, meskipun dinding ruangan madrasah masih memakai papan dan anyaman bambu. Siswa yang belajarpun makin banyak.

Tak berlangsung lama, yang awalnya tidak mendapat bantuan sama sekali akhirnya sekolah itu tercium juga oleh pemerintah.  Beberapa komunitas penggiat pendidikan mulai mempromosikan dan mendukung perkembangan MIS Darul Ulum Tololai sehingga mendapatkan dana BOS dan BSM walaupun masih terbatas.

Jika dihitung-hitung dana BOS yang diberikan hanya cukup untuk membayar pembuatan seragam sekolah bagi siswa dan untuk upah pengajar selama beberapa bulan.

Meski sekolah itu berlabel sekolah gratisan, proses belajar mengajar di sekolah MIS Darul Ulum Tololai ini telah banyak mencetak generasi yang memiliki pengetahuan seperti siswa yang sekolah di perkotaan. Misalnya  pengetahuan membaca, menulis, berhitung, membaca alquran, menghafal ayat-ayat pendek beserta terjemahan dan menulis huruf arab.

Dalam waktu 5 tahun sejak berdirinya sekolah dan berkat perjuangan sosok Bang Alan ini, MIS Darul Ulum Tololai akhirnya tercium dibeberapa media yang mem-blow up wajah pendidikan Indonesia.

Berita itu pun menjadi sorotan para Pemerhati pendidikan NTB, beberapa media lokal NTB dan media nasional lain mengangkatnya dalam Advetorial khusus.

Pencapaian yang luar biasa ketika Bang  Alan diberi anugrah dari acara bergengsi oleh Yayasan Dompet Duafa Award sebagai Pejuang Pendidikan Indonesia 2014.

Dihadapan kurang lebih 1.000 undangan se-Indonesia, Alan menyisihkan 200 peserta lainnya karena dinilai memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam meng-gratiskan sekolah dengan keterbatasan ekonomi yang dimiliki sebagai supir bus.

Rasa syukur tak henti diucapkan ketika Ia menerima hadiah uang tunai yang diserahkan oleh Ibu Rini Supriani selaku Ketua Dewan Juri Dompet Dhufa Award 2014. Selain itu MIS Darul Ulum Tololai juga menerima bantuan pembangunan MIS dari Dompet Duafah yang diberikan secara simbolis.

Bagitulah perjalanan sosok menginspirasi hari ini, pelajaran yang dapat diambil adalah kadang  menjadi manusia itu bukan hanya berjuang untuk kehidupan pribadi melainkan untuk berbagi dan memperjuangkan hak orang lain untuk membantu meraihnya termasuk membantu meraih pendidikan secara gratis.

Sumber : kmlanggudu, liputan6, kampung-media