Nikmatnya Kopi Luwak berbanding terbalik dengan kondisi luwak yang tragis

Kopi Luwak

Kopi luwak emang mahal, dia merupakan salah satu jenis kopi yang eksklusif. Gimana nggak eksklusif, karena juga hasil karya si Luwak —ya kamu tau sendirilah— tapi nikmatnya bukan main.

Bingung kan? Sama Wovgo juga.

Nah berhubung tulisan kali ini membahas soal Luwak, ada baiknya segera kamu hentikan mengkonsumsi Kopi Luwak ini. Kamu udah tau kopi ini berasal dari kopi yang “dipadukan” dengan K*+*r4n si Luwak tapi kamu masih candu? Hmm..mungkin kamu harus nerusin baca tulisan ini sampai akhir deh.

kopi luwak

Jangan fokus ke kopinya tapi pikirkan segi kelangkaan si Luwak. Populasinya udah makin sedikit loh.

Di TV udah jarang ada program hewan-hewan sih jadi kamu nggak kenal kan sama hewan yang satu ini.

Luwak atau dalam bahasa ilmiahnya Paradoxurus hermaphroditus, merupakan hewan musang yang biasanya hidup di daerah perkebunan kopi. Sering kali di jumpai di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina.

Kopi Luwak

Foto : www.theguardian.com

Salah satu makanan dari hewan ini adalah kopi yang berkualitas, hidungnya tuh ajaib bisa milih mana kopi yang benar-benar bagus dan mana yang enggak.

Ketika makan biji kopi, di perutnya ada enzim yang bertugas memproses kopi tersebut menjadi rasa yang khas, kemudian dengan santai mengeluarkan kopi bersama kotorannya.

Inilah yang sering dicari para pemburu untuk ditangkap. Penangkapan secara liar membuat populasi si Luwak makin dikit. Dia dijadikan mesin kopi secara terus menerus. Mesin penggilingan kopi aja lama kelamaan bisa rusak gimana dengan makhluk hidup.

 Susahnya menangkap si Luwak bikin kopi juga semakin mahal.

Meski hewan ini hidup di deket manusia tapi hewan ini tergolong pemalu jadi susah ditemukan kecuali di pelosok hutan.

Salah satu situs online mematok harga kopi luwak senilai 149 dolar. Hitung sendiri ya kalau dirupiahkan jadi berapa, apalagi dengan kenaikan dolar saat ini. Harga selangit itu untuk ukuran 100 gram.

Meskipun lebih murah jika membeli langsung dari petani yakni sekitar 20 dolar per 100 gram, tapi perlu dipertanyakan lagi ke diri kamu apasih sensasinya minum dari “kotoran” hewan? Mahal lagi…

Terlebih lagi kondisi Luwak yang terkurung dalam kandang, apa kamu masih bisa menikmati?

Sepertinya mewah ya minum kopi Luwak dengan keadaan hangat ditambah cemilan sore hari gitu. Hmm…tapi kamu nggak tau kan gimana kondisi si Luwak, tragis loh.

Luwak liar ditangkap kemudian dimasukkan ke kandang. Kondisi ini membuat si Luwak nggak hanya merasa terkekang tapi juga stres karena berdesakan dalam kandang yang fasilitasnya nggak memadai.

luwak di kandang

Organisasi penyelamat hewan dunia, People For the Ethical Treatment of Animals atau PETA merilis investigasi di balik produksi kopi Luwak di Bali.

Hasilnya mencengangkan, PETA menemukan adanya penyakit Zukosis, yaitu indikasi hewan menjadi gila. Hal ini dilihat dari tingkah lakunya seperit suka mengangguk-anggukkan kepala, berputar dan mulai menggigiti bagian tubuhnya.

Mereka juga dipaksa untuk memakan biji kopi sebanyak mungkin, tak ayal banyak Luwak yang mati dalam kandang karena kondisi yang menyedihkan ini.

Manusia sih tinggal enak menunggu hasil si Luwak yang bernilai tinggi, tapi pikirin perasaan mereka. Coba ditukar posisinya gimana?

Permintaan kopi Luwak yang semakin ekstrem, membuat sang Luwak makin menderita.

Selain kandang yang nggak memadai, mereka dipaksa untuk makan kopi setiap hari, padahal kopi bukanlah satu-satunya sumber makanan bagi mereka.

Hal yang berlebihanpun akan menghasilkan sesuatu yang nggak baik pula kan, sama halnya jika memaksakan si Luwak makan kopi terus menerus.

Untuk melawan kafein dari kopi, luwak harus menggunakan kalsium yang berasal dari struktur tulang mereka, hal itu justru melemahkan kondisi tubuhnya sehingga bisa mengganggu sistem pencernaan yang bisa berakibat kematian.

Kondisi ini tidak diimbangi dengan permintaan pasar yang meninggi, kebayangkan gimana si Luwak harus memproduksi kotoran seberapa banyak.

Parahnya, jika perminataan ini tidak dipenuhi, maka produsen kopi nggak segan untuk mencampur kopi luwak dengan kopi biasa. Kejam..

 

Hingga pada akhirnya Tony Wild yang berbicara.

Siapa Tony Wild?

Dilansir dari laman Republika, Pria ini mengaku telah memperkenalkan kopi Luwak ke Inggris pada tahun 1991.

Meskipun dia terlibat dalam penyebaran kopi Luwak tapi justru menentang produksi kopi mahal ini. Dia mengungkapkan kekesalannya atas apa yang terjadi pada nasib si Luwak.

Tony, yang kini mengelola laman Facebook ‘Kopi Luwak: Cut the Crap’, telah mendorong adanya penolakan sertifikasi UTZ bagi mereka yang membuat kopi dari luwak.

UTZ adalah program terbesar di dunia yang menyatakan bahwa kopi telah dibuat secara ramah lingkungan, termasuk kondisi pekerja pertanian, praktek-praktek pertaniannya, dan perawatan terhadap lingkungan hidup.

Sumber : Merdeka, Kaskus