Belajar dari Eugenie Patricia dan Adrian Christopher Agus, kakak-beradik dibalik suksesnya bisnis Puding Puyo

Sebagian dari kamu mungkin sudah pernah mendengar tentang pudding Puyo atau bahkan sudah mencicipi. Bagi yang belum tahu nggak usah khawatir. Wovgo akan memberi tahu apa itu Pudding Puyo.

Pudding Puyo adalah sebuah merek dagang yang didirikan oleh dua orang muda-mudi, yaitu Eugenie Patricia dan Adrian Christopher Agus. Pudding ini rasanya lembuuuttt banget. Kalau Wovgo udah nulis sampai 3 huruf “u” dan 3 huruf “t” berarti itu pudding emang enak parah dan yang pasti lembut banget. Jadi kalau makan nggak perlu mengunyah, karena saking lembutnya.

Pudding Puyo telah berhasil mengantarkan kakak-beradik ini menuju kesuksesan. Dari awal didirikan hingga sekarang perkembangannya bisa dibilang sangat pesat. Berkat Puyo, keduanya bisa mencicipi kesuksesan di usia muda. Sejak artikel ini ditulis, Adrian sendiri umurnya belum ada 25 tahun. Apalagi adiknya!

Selanjutnya, kita bahas cerita sukses mereka aja ya. Bukan muka cakep mereka. Kalau cakepnya kan bawaan, dan kalau suksesnya: diupayakan!

Yuk intip cerita keduanya.

1. Iseng-iseng ‘serius’ berhadiah.

Inspirasi untuk membuat pudding datang dari ayah mereka yang hobi memasak. Sang ayah saat itu sedang membuat pudding dan rasanya sangat enak. Berangkat dari situ, muncullah ide untuk menjualnya ke khalayak.

Puding Puyo

Foto : www.perutgendut.com

Selama tiga bulan, mereka fokus mengembangkan resep pudding tersebut agar berbeda dari pudding yang banyak dijual. Keseriusan atas keisengan yang terjadi mampu mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan.

2. Pada awal didirikan, mereka tidak menggunakan banyak modal.

Pudding yang didirikan pada Juli 2013 lalu ini tidak membutuhkan banyak modal. Keduanya mengawali dengan modal hanya Rp 5.000.000 saja. Itu pun pinjam dari orangtua. Promosi yang dilakukan juga sebatas di social media (secara online).

Siapa sangka ternyata perkembangannya begitu pesat. Permintaan masyarakat cukup tinggi. Mall Living World Alam Sutra adalah booth pertama Puyo yang dibeli Oktober 2013, terhitung hanya dalam waktu tiga bulan sejak Juli 2013.

Kini kamu bisa menemukan booth Puyo di 16 mall di Jakarta. Di mall mana saja itu? Kamu bisa cek di http://www.puyodesserts.com/. Dulu mereka hanya mampu berproduksi 100 cup. Kapasitas produksi mereka kini sudah meningkat, hingga mampu memproduksi 2.000-3.000 cup per hari.

Berapa ya omzet mereka perbulannya? Dikalikan saja: 2.000 cup x 30 hari x Rp 12.500 = Rp 750.000.000/bulan. Sedikitnya omzet yang mereka raup sebanyak Rp 750.000.000. Wowwww! Dari Rp 5.000.000 berubah menjadi Rp 750.000.000 dalam waktu 2 tahun!

Gila! Duit segitu kalau buat beli mur dan baut pasti udah dapat banyak!

3. Resep rahasia pudding puyo.

Tentu Puyo memiliki resep rahasia yang tidak sembarangan. Adrian menuturkan, pembeda Puyo dari pudding lain yaitu dari segi bahan dasar dan rasa. Adrian lebih memilih menggunakan susu nabati daripada susu hewani, karena lebih sehat.

Ada banyak varian rasa yang bisa Wovger coba. Ada bubble gum, hazelnut, green tea, mangga, coklat, taro, leci, stroberi, dan peach. Ada juga Puyo Drink sebagai inovasi dari Puyo pudding. Wovger bisa mencoba milky blue citrus, milky strawberry, ice latte, blue citrus yakult, dan strawberry yakult. Tapi jangan pernah tanya:

“Kalau pudding yang rasanya, rasa yang dulu pernah ada, ada nggak?”

Karena rasa yang kayak gitu jelas-jelas nggak ada!

Satu buah pudding Puyo dibanderol dengan harga Rp12.500. Sedangkan untuk minuman Puyo dibanderol dengan harga Rp23.000 per gelasnya.

Satu lagi keunikan pudding Puyo selain teksturnya yang lembuuuttt, pudding ini bentunya cair banget seperti air tapi nggak akan tumpah kalau cup puddingnya dibalik. Itulah mengapa pudding Puyo disebut juga silky dessert.

Kalau Wovger nggak percaya, silakang buktikan! Pudding ini nggak akan tumpah meski cup puddingnya dibalik. Serius deh. Apalagi kalau penutup puddingnya nggak dibuka. Nggak akan tumpah! Coba aja.

4. Target konsumen yang jelas.

Kalau diperhatikan, semua gerai pudding Puyo letaknya di mall. Tidak ada yang letaknya di luar mall. Hal ini bukan tanpa tujuan. Adrian berusaha menembak kalangan menengah dan menengah ke atas untuk usia 15-25 tahun.

Karena di usia tersebut, mereka sedang gemar-gemarnya mencoba makanan baru tanpa khawatir mengenai isu kesehatan. Dan lagi, dilihat dari rentang umurnya, pastilah mereka menggunakan media sosial yang sesuai dengan cara promosi Puyo.

Jadi jangan pernah mencari pudding Puyo di angkringan-angkringan atau warteg manapun ya! Karena sampai kapanpun Wovger nggak akan pernah menemukannya.

5. Aktif mengejar peluang.

Sebagai pemilik, Adrian sadar bahwa bisnis kuliner tidak selamanya bersinar dengan cerah. Banyak pesaing-pesaing baru yang muncul. Strategi yang ia lakukan yaitu tetap aktif mengenalkan ke masyarakat lewat bazar dan jejaring sosial.

Ia juga terus berinovasi agar Puyo bisa bertahan dan berkespansi. Adrian berencana membuka gerai di luar kota. Ia juga sedang berusaha menstandarkan produknya agar menjadi produk berstandar internasional.

***

Nah, itu tadi cerita dibalik suksesnya pudding Puyo. Berawal dari hobi memasak sang ayah kemudian ditekuni ternyata bisa membuahkan kesuksesan. Dan asal Wovger tahu, itu uang Rp 5.000.000 yang dulu dipinjam juga udah dibalikin kok.

Jadi gimana, apakah hobi Wovger yang masih ditekuni sampai hari ini mampu mengantarkan hingga ke gerbang kesuksesan finansial? Atau Wovger berniat untuk mengubah hobi menjadi ladang bisnis? Yuk segera bergerak agar bisa seperti mereka!!!