Hal-hal asyik yang cuma bisa diperoleh ketika kamu tinggal di desa

Jaman sekarang, banyak orang yang memimpikan untuk hidup di perkotaan. Banyak yang bilang, hidup di kota itu lebih modern dan lebih gampang jika ingin mendapatkan fasilitas.

Namun tak selamanya hidup di kota itu lebih baik dari desa loh. Mungkin sekarang banyak orang berpikir bahwa dengan hidup di kota, segalanya akan tercukupi.

Tapi tahukah Wovger, diluar sana ada begitu banyak orang kota yang merasa penat dan bosan dengan hingar-bingar kota yang makin hari kian sumpek loh. Mereka memimpikan ingin hidup dan tinggal di desa. Karena ketika tinggal di desa, hal-hal asyik seperti ini akan terjadi:

Dengan hidup di desa kamu bisa menyaksikan pemandangan keren setiap pagi

foto: dewagrogol.besaba.com

foto: dewagrogol.besaba.com

Kamu bisa membandingkan pemandangan di desa dan kota saat pagi hari.

Hidup di kota, pagi-pagi pemandangannya ialah kemacetan di berbagai penjuru. Ditambah lagi dengan suara bising yang memekakkan telinga, polusi yang semakin pekat menyerang udara, dan mantan yang jalan bareng dengan pacar barunya. Wah!

Lebih dari itu, pemandangan alam yang semestinya ada tergantikan dengan gedung pencakar langit. Mulai dari hotel, perkantoran, mall, semuanya melahap lahan hijau yang padahal fungsinya untuk menyegarkan pandangan.

Apa yang bisa dibanggakan dari pemandangan kayak gitu?

Kalau Wovger tinggal di pedesaan, udara segar yang kaya akan oksigen selalu terpasok secara gratis. Mata juga disuguhi panorama alam yang indah, belum terjajah investor!

Dijamin, pemandangan kayak gini lebih bisa jadi mood booster ketimbang tinggal di kota.

Rasakan sensasi kekompakan warga satu kampung

foto: pkbl-telkom.com

foto: pkbl-telkom.com

Kehidupan warga kota cenderung inividualis. Kelihatan dari tingginya pagar dan tembok pembatas rumah. Bahkan rasa gengsi yang besar terkadang bikin orang malas untuk menyapa.

Kalau di desa, orang hidup individualis itu tabu.

Hampir semua orang yang hidup di desa saling peduli satu sama lain. Kompak.

Contoh kecil dan nyata yang pernah Wovgo rasakan ialah saat musim penghujan.

Jadi gini, pada suatu hari turunlah hujan. Sementara jemuran masih ada di luar rumah. Kagetnya lagi, para tetangga mulai teriak-teriak buat bangunin orang-orang yang pada tidur siang suruh angkat jemuran. Saling mengingatkan gitu.

Bagi yang rumahnya waktu itu kosong kareng ditinggal pergi ke sawah, warga-warga yang lain nggak segan-segan loh untuk membantu ngangkatin jemuran tetangganya. Nggak ada yang namanya gengsi buat ngangkat jemuran orang lain. Gotong royong banget lah.

Coba, Wovger emang pernah lihat pemandangan kayak gitu terjadi di masyarakat perkotaan?

Kebutuhan yang serba murah membuatmu makin betah berlama-lama di desa

foto: infopublik.id

foto: infopublik.id

Tentu aja, dibanding sama kota, desa menang telak dong kalau bicara soal harga.

Hal ini disebabkan karena kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani. Otomatis segala sandang dan pangan dari mereka sendiri lah. Langsung dari pabriknya gitu. Baik itu sayuran, buah, beras, serta semua yang mereka punya. Paling yang harganya masih sama-sama mahal dengan di kota cuma paketan internet!

Nggak cuma sekadar murah, bahkan kamu bisa dapat yang gratisan loh

foto: blogs.unpad.ac.id

foto: blogs.unpad.ac.id

Orang desa itu, selain menjual sandang dan pangan dengan harga murah, kadang mereka juga suka ngasih secara gratis. Kurang baik hati apa coba?

Orang desa identik dengan keramah tamahan. Mereka totalitas banget kalau ada orang kota yang berbondong-bondong berkunjung ke tempat mereka.

Akan ada suguhan dan jamuan khusus yang bisa bikin perut kamu kenyang. Udah jadi tradisi, kalau mereka memberikan yang terbaik sebagai bentuk penghargaan walaupun cuma acara silaturahim. Dan yang pasti, itu semua cuma-cuma alias gratis!

Lestarinya budaya Indonesia ya dari orang desa

foto: berita.suaramerdeka.com

foto: berita.suaramerdeka.com

Gimana enggak? Di desa itu yang paling terkenal adalah kelestarian budayanya. Bukan cuma hamparan sawah dan perilakunya yang ramah, tetapi juga acara-acara yang mengangkat tema tradisional. Ini masih sering digelar di panggung hiburan pedesaan.

Wayang, orkes, seni tari, keroncong dan campur sari itu kalau di desa masih beken banget loh.

Jadi jangan pernah tanya:

“Di desa, kalau ada acara-acara kedaerahan gitu, hiburannya ada boyband nggak?”

Nggak mungkin ada, lah. Kan nggak enak juga, masa boyband nama anggotanya: Paimin, Ngatijo, Sugito, Timin, dan semacamnya.

Ngomong-ngomong, yang baca artikel ini ada Wovger yang tinggal di desa? Kali aja kamu punya pengalaman asyik lainnya. Share di kolom komentar dong.