Yah, beginilah hal-hal yang cuma bisa dirasakan oleh penulis online profesional

Profesi penulis semakin lama semakin beragam jenisnya. Kalau dulunya kita cuma tahu penulis novel, wartawan surat kabar, dan jurnalis, kini nggak cuma itu aja. Salah satu profesi penulis yang sedang banyak dibutuhkan adalah penulis online.

Penulis online adalah seorang penulis yang menulis artikel untuk sebuah website. Sama seperti profesi lainnya, penulis online juga banyak mengalami suka-duka. Kadang pahit, kadang manis, kadang asem, kadang asin, dan kadang rame rasanya!

Di artikel ini Wovgo mau berbagi cerita tentang hal-hal yang cuma dialami oleh para penulis online. Ini dia…

1. Menulis bukan lagi sebuah hobi. Bagi kami, menulis adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Sekali lagi, HARUS!

foto: undocopy.tk

foto: undocopy.tk

Buat Wovger, menulis mungkin merupakan sebuah hobi yang sangat menyenangkan. Penuh dengan imajinasi, media untuk mencurahkan isi hati, dan media untuk berbagi dengan kawan.

Tapi tidak demikian bagi penulis online profesional. Bagi kami, menulis bukan lagi sebuah hobi. Ia sudah menjadi suatu profesi yang harus dilakukan! Mau tidak mau, sekering apapun otak kita saat itu, harus tetap dipaksa untuk menyelesaikan tulisan. Kalau tak segera dikerjakan, akhir bulan kami beli beras pakai apa? Barter sama pensil alis?

2. Ide ide ide. Kamu kemana kok sukanya ngilang nggak ada kabar.

foto: business2community.com

foto: business2community.com

Ide adalah makhluk yang susah ditemukan. Sama kayak mantan! Suka ngilang tanpa kabar, padahal harusnya ninggalin kenangan, eh malah ninggalin utang. Nasib!

Sebagai penulis online, kami dituntut untuk bisa menemukan ide dengan cepat. Ide yang dicari pun bukan sembarangan. Ide tulisan haruslah sesuatu yang menarik minat orang untuk membaca.

Keterbatasan ide tidak lantas menjadikan kami mandeg. Kami selalu berusaha bagaimana caranya agar ide langsung muncul saat dibutuhkan. Masing-masing penulis biasanya memiliki ritual yang berbeda-beda untuk memanggil datangnya ide. Ada yang baca buku dulu, ada yang refreshing dulu, bahkan mungkin ada juga yang ngundang pawang!

3. Pas idenya muncul, gantian waktunya yang ilang.

foto: store.baggagereclaim.co.uk

foto: store.baggagereclaim.co.uk

Nah kan, sekalinya muncul ide, ia muncul di waktu yang sama sekali tidak tepat. Ada saja hambatannya untuk menulis saat itu. Sering banget ide tiba-tiba muncul saat kita sedang di jalan. Atau ia muncul saat kita sedang tidak membawa smartphone, laptop maupun catatan. Nggak jarang juga ia muncul saat kita sedang antri beli bahan bakar di SPBU. Kalau udah begini, bawaannya pengen nulis idenya di batu prasasti deh.

Paling nggak enak emang kalau nggak ada media untuk nulis. Parahnya lagi, kalau beberapa menit setelah ide muncul, kemudian ide itu kabur entah kemana. Padahal belum sempat ditulis. Apes!

Kalau sudah begini, rasanya pengen makan cabai mentah setangkai-tangkainya. Sepohon-pohonnya. Atau kalau perlu, yang menanam cabainya sekalian!

4. Waktu, ide, dan mood, adalah tiga makhluk langka yang jarang ditemukan secara bersamaan.

foto: sarahpjwhite.com

foto: sarahpjwhite.com

Tiga makhluk ini entah kenapa jarang sekali datang bersamaan. Nampaknya mereka bertiga bermusuhan, soalnya satu sama lain nggak pernah ketemuan bareng. Atau jangan-jangan, ini semua konspirasi? Ah, entahlah.

Bagi Wovger yang hobi menulis pasti sadar atas kehadiran ketiganya. Tentunya waktu, ide, dan mood harus hadir secara bersamaan agar mampu menghasilkan tulisan yang baik.

Bagi kami, ketiganya tidak harus hadir dalam satu waktu secara bersamaan. Seringkali waktu datang tidak diiringi dengan mood yang baik. Jika seperti ini, penulis online biasanya melakukan sesuatu yang membangkitkan mood dan ide, alih-alih hanya menunggu ide serta mood datang.

5. Pas lagi kerja, ada aja yang ngajak ngobrol.

foto: tyba.com

foto: tyba.com

Saat sedang bekerja, ada saja hal-hal yang mengganggu. Dipanggil adik-lah, disuruh orangtua-lah, diajak balikan mantan-lah. Macam-macam pokoknya.

Duh, plis. Kita ini lagi kerja. Bukan lagi browsing nggak jelas.

Gangguan menjadi penulis online sering muncul dari orang-orang di sekitar yang ngajak ngobrol. Mereka mengira bahwa profesi kami adalah profesi yang santai dan bisa dilakukan sambil ngobrol. Padahal pekerjaan ini juga punya jam kerja yang sama dengan mereka-mereka yang kerja di kantor. Yang membedakan cuma tempat kerjanya. Kalau jam kerja, jumlahnya mungkin sama 8 jam. Tapi kalau penulis online, kadang 8 jam itu adalah jam 1 dini hari sampai jam 9 pagi. Atau jam 5 pagi sampai jam 1 siang, dan seterusnya.

6. Godaan social media dan artikel lain yang tidak pernah usai.

foto: timesofisrael.com

foto: timesofisrael.com

Ketika sudah di hadapan laptop, godaan mulai muncul ketika jendela browser di klik. Bukannya mencari sumber informasi yang relevan, eh malah browsing artikel yang sama sekali tidak berhubungan.

Misalnya, materi yang harus ditulis adalah tentang kesehatan. Eh yang di browsing malah tips bagaimana memahami bahasa jerapah. Atau, cara menyadarkan pria yang nggak peka saat dikasih kode!

Dan. Gangguan. Begini. Terjadi. Setiap. Saat. Ketika. Kami. Menulis. Ya. Setiap. Saat!

7. Sudah capek-capek nulis, eh nggak ada yang baca! 🙁

foto: bobgraysr.com

foto: bobgraysr.com

Fiyuh! Akhirnya jadi juga tulisannya.

Setelah berusaha sekuat tenaga mengumpulkan ide, waktu, dan mood serta berdamai dengan orang-orang di sekitar bahwa kami ini sedang bekerja, dan menghindari browsing nggak jelas, akhirnya selesai juga!

Publish ah!

Beberapa saat kemudian…

Yah, kok nggak ada yang baca. Kok views-nya cuma 1 orang doang. Padahal udah capek-capek bikinnya.

Huft!

8. Komentar negatif sudah biasa kami hadapi. Mereka sudah seperti makanan sehari-hari bagi kami.

foto: yummymummyclub.ca

foto: yummymummyclub.ca

Kami cukup sadar bahwa selalu ada pihak-pihak yang tidak suka dengan apa yang kami tulis. Padahal kami sama sekali tak bermaksud demikian. Kami sudah berusaha menghadirkan informasi yang seberguna mungkin.

Tapi yah sudahlah. Dunia selalu memiliki dua sisi. Ada yang suka, ada juga yang tidak. Komentar negatif itu kami anggap sebagai masukan agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Tapi apapun komentarnya, kami akan terus dan terus membuat tulisan yang baik dan semakin baik lagi. Kalau ada yang tidak suka? Itu urusan yang membaca. Sekali lagi, tugas kami sebagai penulis ialah menyajikan tulisan sebaik-baiknya dengan fakta sebenar-benarnya.

9. Tidak mudah menjelaskan kepada orang lain atas apa yang sebenarnya kami kerjakan.

foto - Tanya Tania: youtube.com

foto – Tanya Tania: youtube.com

Penulis online tergolong sebagai profesi baru. Pekerjaan jenis ini belum ada saat Bandung Bondowoso membuatkan candi untuk Roro Jonggrang. Namun meski sudah banyak yang menggelutinya, profesi ini masih belum sepopuler dokter, pengacara, dan guru. Seringkali kami merasa kesulitan untuk menjelaskan ke orang lain, atau orangtua, atau calon mertua, tentang profesi kami.

“Kamu kerja di mana?”

“Jadi penulis online di website.”

“Oh, dengan siapa?”

“Ya, dengan temen-temen sekantor.”

“Terus, semalam berbuat apa?”

“*(%*&$*$((^&%$&!*@$#*”

*Malah nyanyi Kangen Band*

10. Jadi penulis online itu nggak selamanya pahit, karena ada banyak juga sisi membahagiakannya.

foto: thebarefootwriter.com

foto: thebarefootwriter.com

Terlepas dari hal-hal pahit di atas, ternyata banyak juga hal yang membahagiakan. Ah, bener kan, dunia memang punya dua sisi? Hehehe. Manusia itu nggak mungkin sedih terus. Mustahil juga kalau seneng terus.

Sisi dukanya kami anggap sebagai sebuah konsekuensi yang harus dijalankan. Sisi sukanya kami anggap sebagai pemacu semangat. Toh mau profesi apapun juga tetap ada suka-dukanya. Coba kasih tahu Wovgo, profesi mana yang nggak ada suka-dukanya?

11. Menulis yang tadinya cuma jadi hobi, kini sudah bisa jadi hobi yang menghasilkan.

foto: goodcreativeacademy.com

foto: goodcreativeacademy.com

Kami termasuk orang-orang yang beruntung karena diberi kesempatan dan wadah untuk bisa menulis setiap hari. Banyak orang di luar sana yang bercita-cita menjadi penulis namun mereka tidak memiliki wadah khusus, sehingga jatuhnya masih malas-malasan dalam menulis.

“Kata siapa deh? Kami punya blog loh, Wovgo.”

“Oh, punya blog. Kapan terakhir kali update?”

“Eh… ng… ng… ng… anu…”

Menulis yang dulunya hanya hobi, kini sudah menjadi salah satu ladang penghasilan bagi kami. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengerjakan hobi yang dibayar. Atau istilahnya, happynomic!

12. Pengetahuan terus bertambah, karena harus membaca setiap hari.

foto: blog.dubizzle.com

foto: blog.dubizzle.com

Pengetahuan kami senantiasa bertambah, karena untuk bisa menulis, mau tidak mau harus membaca. Sebagai penulis online, artikel yang kita tulis memiliki tema yang bisa sangat berbeda. Kadang tentang kesehatan, kadang tentang biografi tokoh, kadang tentang film, atau kadang tentang aku, kau dan dia. Tema yang nggak pernah sama ini menghasilkan wawasan baru bagi kita. Nggak mungkin dong bisa nulis tentang tema yang diberikan tanpa membaca terlebih dahulu.

13. Writer’s block hilang dengan sendirinya karena praktik setiap hari.

foto: fecklessgoblin.com

foto: fecklessgoblin.com

Writer’s block adalah suatu keadaan dimana penulis sama sekali tidak bisa menuangkan idenya ke dalam tulisan. Di awal-awal, writer’s block menjadi kendala yang sangat besar. Artikel yang harus selesai dihadang oleh writer’s block dan rasa malas yang besar.

Seiring dengan banyaknya praktik, writer’s block bisa kami atasi. Ia hilang dengan sendirinya. Kini sudah jarang sekali menemui writer’s block. Kalau kamu hobi menulis tapi masih sering menghadapi writer’s block, berarti menulismu kurang banyak dan membacamu kurang dalam.

Tips terbaik menghilangkan writer’s block ya dengan tetap menulis meski diserang writer’s block. Mood dan ide itu nomer sekian! Nomer pertama: kerjakan dan selesaikan!

14. Meski komentar negatif selalu ada, banyak juga komentar positif yang cukup melegakan.

foto: popmagazine.com

foto: popmagazine.com

Komentar positif menjadi salah satu sumber kekuatan kami untuk terus menulis. Di tengah-tengah serangan haters, komentar positif bagaikan oase di padang pasir. Kehadirannya mampu menyejukkan mata dan menenangkan hati.

Adem… Seger… Damai…

Buat kalian yang sudah memberi tanggapan positif, terima kasih sebesar-besarnya dari kami. Tanggapan Wovger akan kami jadikan amunisi untuk melecut diri agar mampu menjadi penulis yang lebih baik lagi.

Itulah hal-hal yang dirasakan oleh hampir semua penulis online profesional. Seperti yang sudah Wovgo sampaikan di atas tadi, bahwa semua pekerjaan itu pasti ada suka dan dukanya. Maka apa-apa yang Wovgo sampaikan pada artikel ini, memang benar-benar kegelisahan dan kebahagiaan yang kami rasakan. Kami tak bisa memilih salah satunya. Atau kalau memang diijinkan untuk memilih hanya salah satunya saja, kami tetap ingin memilih dua-duanya. Sepaket! Bukankah segala sesuatu itu diciptakan saling berpasang-pasangan?

Ngomong-ngomong, apa profesi Wovger? Seperti apa suka-dukanya? Boleh dong tukar cerita di kolom komentar. Kali aja sama. Atau kalau beda, siapa tahu bisa Wovgo muat di artikel berikutnya.