Dengan menikmati hujan, kita menuai kebaikan. Dengan melamunkan mantan, kita memanen kenangan

hujan Sumber Foto : iphonesia.com

Pergeseran musim di Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Saat hujan pertama turun, banyak yang menyambutnya dengan suka cita. Terutama para pejuang pdkt yang baru saja ditolak gebetan. Karena mereka bisa menangis sejadi-jadinya di bawah derasnya hujan tanpa terlihat bahwa mereka sedang meratapi penolakan cinta.

Lambat laun, sampai hujan yang kesekian kali, mulai ada yang mengeluh. Semakin lama semakin banyak hujan yang turun. Semakin banyak pula orang yang mengeluh. Apalagi mereka yang baru saja menjalin hubungan asmara, dan hanya bisa pergi-pergi menggunakan motor.

Tapi nggak semua seperti itu. Banyak juga di antara kita yang menjadi pencinta hujan sejati. Mereka yang mencintai hujan dikenal dengan nama pluviophile. Kabarnya, para pluviophile ini dianggap lebih bisa menikmati kehidupan. Kenapa demikian? Ini dia alasan-alasannya.

1. Mereka lebih percaya pada diri sendiri.

foto: lonemind.com

foto: lonemind.com

Kok bisa orang yang suka hujan lebih percaya diri? Iya dong. Coba bayangkan, pencinta hujan tanpa rasa malu rela hujan-hujanan layaknya anak kecil umur 5 tahun yang belum pernah lihat hujan.

Ketika hujan turun, mereka tanpa sungkan langsung keluar menuju halaman. Becek-becek dan berbasah-basahan. Mereka tidak peduli pendapat orang lain.

“Mau dibilang kayak anak-anak ya biarin. Selama tidak jomblo!” begitu pendapat mereka. Tinggi banget kan rasa percaya dirinya?

Kalau bukan orang pencinta hujan, sudah pasti malu melakukannya di umur yang udah nggak kecil lagi. Tentu yang paling pede adalah ketika ada kakek-kakek atau nenek-nenek tiba-tiba hujan-hujanan. Luar biasa pede!

2. Mereka lebih tabah menghadapi kehidupan yang keras.

foto: selfesteemart.com

foto: selfesteemart.com

Pencinta hujan paham kalau awan mendung yang datang tidak selamanya bertengger di langit dan menutupi matahari. Sesaat setelah hujan, semburat mejikuhibiniu terlihat menghiasi kaki langit.

Awan mendung pembawa hujan ikut berperan menghasilkan pelangi. Air yang ia turunkan ikut mengaliri kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Nilai filosofis ini berkaitan erat dengan kehidupan mereka.

Mereka paham bahwa kesulitan dalam hidup sifatnya sementara. Sama seperti awan gelap yang datang. Hidup yang penuh kesulitan jika dilalui dengan tabah akan membuahkan hasil yang indah seperti pelangi.

3. Mereka tahu bagaimana menjaga sesuatu dalam perspektif yang baik.

foto: micheleborba.com

foto: micheleborba.com

Banyak orang menjadikan hujan sebagai excuse. Contohnya yang paling sering: bolos sekolah hanya karena hujan deras. Sebaliknya, orang yang benar-benar mencintai hujan tidak pernah merasa terganggu dengan cuaca.

Bisa dibilang mereka punya sudut pandang positif terhadap kehidupan.

“Itu kan cuma hujan air, bukan hujan batu, apalagi hujan air mata,” begitu kata mereka.

Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

4. Mereka memiliki kepekaan yang lebih tinggi.

foto: ravepad.com

foto: ravepad.com

Pencinta hujan bisa mendeskripsikan dengan baik hujan yang turun. Kepekaan mereka sudah diasah sejak mereka mulai suka hujan.

Mereka mampu menggambarkan aroma tanah kering yang terguyur hujan. Mereka mampu menggambarkan kemana arah angin menuju. Bahkan hingga sedetail-detailnya. Keahlian deskripsi ini membuat mereka lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Tuh, Wovger, lihat ya. Terhadap lingkungan aja dia peka, apalagi kepada pasangan.

5. Mereka totalitas ketika melaksanakan sesuatu.

foto: rugbyworldcup.com

foto: rugbyworldcup.com

Para pluviophile punya kecenderungan lebih total ketika melaksanakan sesuatu. Mereka akan memfokuskan seluruh energi yang dibutuhkan agar diri mereka terlibat secara penuh terhadap aktivitas tersebut. Terdapat hubungan positif antara kebahagiaan dengan totalitas dalam melaksanakan aktivitas.

6. Mereka mampu melihat kebahagiaan dalam kesedihan.

foto: lifehack.org

foto: lifehack.org

Jika hujan diibaratkan sebagai kesedihan, maka pluviophiles adalah orang-orang yang pandai mengambil suatu kebahagiaan dan hikmah segala peristiwa di kala sedih melanda.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari hujan yang turun. Keluarlah menuju halaman ketika hujan turun, dan rasakan hikmah apa yang sudah kamu dapat.

Cara ini dapat kamu gunakan sebagai salah satu cara untuk mensyukuri kehidupan. Meski sedang dirundung duka, pasti ada kebahagiaan tersembunyi dibaliknya. Seperti yang sudah Wovgo singgung di atas, hidup tidak selamanya mendatangkan kepahitan. Sifat mereka hanyalah sementara. Pandai-pandailah menemukan kebahagiaan tersembunyi tersebut.

7. Mereka lebih bisa menghargai alam.

foto: todaysparent.com

foto: todaysparent.com

Pencinta hujan tahu bahwa hujan merupakan salah satu fenomena alam. Oleh karena itu, turunnya hujan ke bumi harus disyukuri. Hujan bukanlah sebuah bencana atau malapetaka yang dikirim dari langit. Ia sama seperti musim-musim lainnya, kecuali musim cherry. Jadi tidak ada yang perlu dihindari dan ditakuti dari hujan.

Apakah Wovger termasuk pluviophiles? Apapun pilihannya, entah iya atau tidak, keduanya sama baiknya kok. Yang tidak baik itu kalau sering mengeluh ketika panas/hujan turun dan disaat itu tak henti-hentinya melamunkan mantan. Karena baik hujan maupun panas, keduanya sama-sama anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri. Keduanya saling menyeimbangkan satu sama lain. Tapi kalau melamunkan mantan, itu bukan anugerah. Melainkan hal yang Wovger bikin-bikin sendiri. Selamat berhujan-hujan ria!