Tari Kipas Pakarena dari Gowa, Sulawesi Selatan

Tari Pakarena Sumber Foto : kulturaindonesia.com

Pernahkah Wovger mendengar tentang Tari Kipas Pakarena? Tari ini berasal dari daratan Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Gowa, provinsi Sulawesi Selatan. Dinamakan tari kipas karena dalam pementasannya, tari ini menggunakan kipas sebagai properti.

Meski bukan sebagai ritual keagamaan, tari ini memiliki peran penting bagi masyarakat Gowa. Eksistensinya bertujuan untuk menghibur dan melestarikan budaya masyarakat Gowa. Yuk, simak lebih jauh tentang tari ini bareng Wovgo.

Tarian yang penuh nilai filosofis di dalamnya.

foto: jendelanusa.com

foto: jendelanusa.com

Tari kipas Pakarena bukanlah bagian dari upacara keagaaman masyarakat seperti yang sudah Wovgo sampaikan di atas tadi. Tapi bukan berarti tari ini tidak memiliki nilai filosofis. Justru, banyak banget nilai filosofis yang terkandung dalam setiap gerakannya.

Tari ini mengisahkan tentang perilaku wanita Gowa yang menghormati pria Gowa. Gerakan dalam tarian ini menunjukkan prinsip-prinsip kehidupan yang dianut masyarakat Gowa. Gerakan memutar menunjukkan siklus kehidupan manusia yang seperti roda yang selalu berputar.

Kesantunan para penari digambarkan dengan adanya posisi duduk. Kesantunan mereka juga tercermin pada pandangan mata yang selalu menunduk ke bawah. Sikap menunduk ke bawah ini tentu akan lebih menguntungkan lagi jika sang penari juga nemu duit.

Secara keseluruhan, tarian ini memiliki ritme yang lamban. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan kelembutan wanita Gowa.

Mulanya, tari ini tidak menggunakan kipas. Properti yang digunakan yaitu tanaman padi. Seiring dengan perkembangan zaman, tanaman padi kemudian diganti dengan kipas. Jadi ingat ya, kipas ini digunakan bukan karena sang penari kegerahan. Tapi demi mempercantik penampilan di atas panggung.

Tari Pakarena, tidak diketahui siapa penciptanya dan dari mana asalnya.

foto: youtube.com

foto: youtube.com

Uniknya, tari Pakarena sebagai salah satu kekayaan budaya Gowa, ternyata tidak diketahui dari mana asalnya. Akibatnya, banyak mitos bermunculan mengenai asal-usulnya.

Alkisah zaman dahulu kala, kerajaan Gowa Purba mengalami banyak pemberontakan. Pemberontakan ini tidak bisa diselesaikan oleh sang raja. Entah dari mana datangnya, tersiarlah kabar kalau ada seorang putri turun dari kahyangan untuk menyelesaikan pemberontakan tersebut. Tak hanya itu, putri kahyangan yang bernama To Manurung itu juga mengajarkan tari Pakarena.

Cerita lain menyebutkan, bukan To Manurung yang mengajarkan tarian secara langsung. Tapi masyarakatlah yang menciptakan tarian tersebut, demi mengenang jasa-jasanya. To Manurung telah mengajarkan banyak hal, termasuk cara bercocok tanam, menjadi nelayan, mengurus ternak, dsb.

Dimainkan oleh penari wanita yang diiringi pemusik pria.

Tari Pakarena

foto : daradaeng.com

Tari Pakarena dimainkan sedikitnya oleh tiga orang wanita Gowa. Penari maksimal sekitar 12 orang. Umumnya para penari adalah gadis-gadis belia yang berusia kurang dari 20 tahun.

Musik yang mengiringi tarian ini berasal dari iringan para pemusik pria. Tidak lengkap rasanya memainkan tari Pakarena tanpa pemusik pria. Biasanya mereka adalah pria setengah baya yang berusia 30 tahun lebih. Tak jarang ada juga yang berusia 60 tahun lebih.

Tarian ini dimainkan semalam suntuk sampai pagi! Dibutuhkan pemain cadangan untuk menggantikan penari dan pemusiknya.

foto: youtube.com

foto: youtube.com

Tari Pakarena yang asli dimainkan semalam suntuk. Babak pertama dimainkan pada jam 8 malam. Babak kedua dimainkan pada jam 12 malam. Kalau babak pertama dan babak kedua sama kuat, tidak ada adu penalti. Karena ini mengiringi penari dengan musik. Bukan sepak bola.

Selanjutnya, setelah 2 babak, untuk bagian penutup dimainkan saat kokok ayam mulai terdengar, sekitar jam 4 pagi.

Satu orang pemain tidak mungkin membawakan permainan selama itu. Oleh karena itu, harus ada cadangan. Baik untuk penari dan pemusik untuk menggantikan mereka.

Gimana Wovger? Sudah siap traveling ke Gowa dan nonton tari Pakarena semalaman? Jangan lupa siapkan kopinya. Biar betah melek.

Kenali juga jenis-jenis tari Pakarena lainnya.

foto: shamawar.wordpress.com

foto: shamawar.wordpress.com

Tari Pakarena terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Samboritta dan Jangang Leak-leak. Samboritta merupakan bagian awal, sebagai ucapan selamat datang para penari kepada pengunjung. Memasuki bagian inti, penonton akan disuguhkan gerakan-gerakan di bagian Jangang Leak-leak.

Selain dua jenis di atas, masih ada jenis-jenis Pakarena lainnya. Jumlahnya tak kurang dari 11: ma’biring kassi, bisei ri lau, angingkamalino, anni-anni, dalle tabbua, nigandang, so’nayya, iyolle’, lambassari, leko’ bo’dong, dan sanro beja. Hampir semuanya bercerita tentang kehidupan manusia.

***

Wah ternyata banyak juga ya budaya Indonesia. Semakin kita menggali lebih dalam, semakin banyak budaya Indonesia yang tidak kita tahu. Nah, daripada terus mengeluh tentang budaya Indonesia yang semakin hilang, lebih baik perbanyak pengetahuan tentang kebudayaan kita. Dengan demikian, kita sudah melakukan satu langkah nyata untuk menjaga serta melestarikannya.