Macet itu ngeselin ya? Tapi dari sekian penyebab macet ini, kamu setuju sama yang nomer 5 nggak?

macet lagi Sumber Foto : www.infolubuklinggau.com

Kemacetan merupakan salah satu hal yang akrab di kehidupan kita sehari-hari. Khususnya buat Wovger yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung, dan Surabaya. Wovger yang tinggal di kota kecil juga tidak terlepas dari ancaman macet, untungnya intensitasnya tidak seperti mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Macet, salah siapa?

“Yang jelas bukan gara-gara Si Komo lewat.”

Pastinya banyak pihak yang terlibat dalam permasalahan kemacetan. Tidak hanya pemerintah, tetapi kita juga ikut menyumbang permasalahan. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya tidak begitu saja berpangku tangan dan menyalahkan pihak lain.

Yuk cermati dulu penyebab macet di bawah ini. Jangan-jangan kita salah satu pelakunya.

1. Jumlah kendaraan pribadi di jalan yang terus meningkat setiap tahun tanpa ada usaha pencegahan pengurangannya.

foto: backthelight.wordpress.com

foto: backthelight.wordpress.com

Penyebab macet yang utama bukanlah kecilnya ruas jalan atau kesalahan pemberian izin mendirikan bangunan. Penyebab paling utama dari yang paling utama adalah bertambahnya jumlah kendaraan dari tahun ke tahun.

Jumlah pertumbuhan kendaraan tidak bisa dianggap main-main. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 mencatat bahwa jumlah total kendaraan Indonesia lebih dari 104 juta unit. Jumlah tersebut didominasi oleh sepeda motor, yaitu sebanyak 84,7 juta unit. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahunnya, sejalan dengan pertumbuhan penduduk.

Pertumbuhan kendaraan juga didukung dengan semakin mudahnya pengajuan kredit. Cukup pergi ke dealer, kamu sudah bisa membawa pulang satu unit motor/mobil dengan cicilan rendah.

2. Pedagang kecil yang jualan di pinggir jalan juga ikut menjadi sebab musabab terjadinya kemacetan.

foto: ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

foto: ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan salah satu penyebab terjadinya macet. Bagaimana tidak? Umumnya mereka berjualan di trotoar atau di pinggir jalan atau di lahan lain yang tidak berizin. Semua pemerintah dari tingkat kabupaten sampai nasional merasakan dilema yang sama dalam mengatasi PKL.

Kalau diberesi, PKL yang demo. Kalau nggak diberesi, pengguna jalan yang protes. Jadi PKL itu boleh-boleh aja kok. Asal jualannya tidak mengganggu ketertiban umum. Jangan berjualan di trotoar jalan sempit yang dampaknya mengganggu pengguna jalan. Dan, jangan jualan juga di tengah jalan. Nanti ketabrak!

3. Angkutan umum yang berhenti di sembarang tempat.

foto: cookiesound.com

foto: cookiesound.com

Tidak cuma kendaraan pribadi saja yang bisa bikin macet. Kendaraan umum juga bisa bikin macet kalau ngetemnya tidak teratur. Biasanya, angkutan umum yang ngetem jumlahnya berbondong-bondong, sehingga banyak ruas jalan yang termakan.

“Ngomong-ngomong, Wovger tahu kan apa itu ‘ngetem’?”

“Minum, ya?”

“ITU NGE-TEH!”

4. Banyak yang lebih memilih naik kendaraan pribadi daripada naik kendaraan umum.

foto: ayobandung.com

foto: ayobandung.com

Sebenarnya di setiap kota/kabupaten sudah tersedia kendaraan umum yang siap mengantarkan penumpang kemanapun mereka pergi. Namun fasilitas kendaraan umum ini masih belum memadai.

Di mata masyarakat, naik kendaraan umum justru tidak efisien. Waktu tunggu yang lama, kondisi kendaraan yang jauh dari nyaman, dan biaya yang boros. Menghadapi masalah yang satu ini, diperlukan kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah harus bisa meningkatkan minat masyarakat agar lebih memilih naik kendaraan umum.

5. Demo masyarakat. Hadeh, ingin haknya diperhatikan tapi kok tidak memperhatikan hak pengguna jalan lainnya.

foto: portaltigaimage.com

foto: portaltigaimage.com

Tidak ada yang melarang demonstrasi. Pemerintah sendiri secara terbuka dan secara resmi telah memberikan izin mengenai dibolehkannya demonstrasi. Semuanya sudah diatur dalam UU No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Tapi tolong jangan parah-parah banget. Meski boleh demo di jalan, tolong dipikirkan juga nasib pengguna jalan lainnya. Jalan raya adalah fasilitas umum, bukan fasilitas pribadi milik pendemo semata.

Wahai para pendemo, sebelum demo, sebaiknya posisikan diri kalian sebagai pengguna jalan lainnya. Sudah etiskah demo yang akan kamu lakukan?

“Demo-lah yang mendatangkan manfaat bagi orang lain.”

“Contohnya?”

“Demo masak! Manfaatnya, bisa bikin orang lain kenyang.”

6. Parkir liar alias parkir tidak resmi telah mengurangi ruas jalan secara signifikan.

foto: jabar.pojoksatu.id

foto: jabar.pojoksatu.id

Penyebab lain dari kemacetan yaitu adanya parkir liar. Lagi-lagi pemerintah harus menghadapi dilema untuk mengatasi hal yang satu ini. Jika diberantas, nanti warga mengeluh kehilangan pekerjaan. Jika tidak diberantas, kok ya gimana gitu. Serba salah deh jadi pemerintah. Kayak cowok yang selalu salah.

Sebagai pembaca yang budiman, gimana tanggapan Wovger? Setujukah dengan adanya parkir liar? Yuk usahakan selalu parkir kendaraan di tempat resmi, supaya parkir liar tidak semakin merajalela.

Nah, bener kan? Tanpa disadari, kita bisa-bisa malah salah satu penyebab terjadinya kemacetan di jalanan. Daripada terus-terusan menyalahkan pihak lain, yuk benahi kemacetan dari diri sendiri.

si komo macet