Fakta dibalik pesawat R80 karya Pak Habibie, untuk Indonesia!

Presiden Joko Widodo (kanan) mendengarkan penjelasan dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kedua kiri) mengenai industri penerbangan didampingi Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir (kedua kanan) saat mengunjungi stan

Sosok yang satu ini udah melekat banget di hati masyarakat Indonesia. Kamu nggak mungkin ngerasa lupa sama Pak Habibie, mantan presiden ke-3 Republik Indonesia yang cukup banyak mengharumkan nama bangsa dengan kecerdasan yang dimilikinya. Yah, begitulah. Mantan memang susah sekali untuk dilupakan.

Sejak kehidupannya difilmkan dalam layar lebar berjudul Habibie & Ainun, masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, mulai orang tua maupun anak muda semakin paham prestasi yang dicapainya. Bapak jenius ini terkenal bukan setelah filmnya saja, tapi namanya memang sudah mendunia dari era krisis moneter.

Pria pemilik nama lengkap Prof.Dr.Ing B.J. Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas Teknik Mesin di Jerman selama lima tahun. Beliau memperoleh gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik kala itu. Sebagai catatan, diploma teknik di Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain. Kemudian, Ia terus mendalami bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang di tahun 1965, dengan menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.

BACA JUGA: Kuliah adalah masa mencari ilmu. Namun bukan berarti kamu nggak boleh berbisnis ketika jadi mahasiswa

Kini, pria yang pernah menjabat sebagai menteri riset dan teknologi itu berencana membuat suksesor pesawat N250 produksi IPTN (saat ini menjadi PT Dirgantara Indonesia) yang diberi nama R80.

Pesawat R80 ditargetkan mulai dibuat pada pertengahan 2016 dan kabarnya baru diterbangkan pada 2021. Masih lama memang, tapi bagi kamu yang ngerasa penasaran sama kecanggihan pesawat ini, boleh deh Wovgo kasih fakta menarik pesawat R80 yang bikin kamu makin kagum sama Habibie.

Kapasitas muatan lebih banyak dibanding dengan N250

foto: flightsim.com

foto: flightsim.com

Dulu N250 sempat dihentikan oleh International Monetary Fund (IMF) karena krisis ekonomi 1998. Kini Pak Habibie bangkit lagi dengan menciptakan pesawat R80 yang merupakan penerus dari N250. Tentunya R80 memiliki lebih banyak keunggulan, salah satunya adalah kapasitas yang lebih besar. Jika dibandingkan N250 yang hanya memiliki kapasitas muatan 50-60 kursi, R80 mampu memuat hingga 80-90 kursi. Melalui proses modifikasi, badan R80 dibuat lebih besar. Pada 2018 pesawat ini sudah siap didaftarkan sertifikat layak terbang.

Lebih ekonomis dari segi bahan bakar maupun perawatan

foto: indonesiaproud.wordpress.com

foto: indonesiaproud.wordpress.com

Keunggulan lainnya terletak pada keekonomisan dari segi bahan bakar, perawatan dan harga. Pesawat ini memang lebih murah, karena merupakan pesawat terbang berbaling-baling (turboprop). Pesawat ini juga dapat dikendalikan secara elektronik atau dikenal istilah fly by wire.

BACA JUGA: Hal-hal keren ini cuma bisa didapat kalau kamu duduk di dekat jendela saat naik pesawat

By pass ratio yang dimiliki R80 mencapai angka 40 yang artinya, semakin tinggi bypass ratio, maka konsumsi bahan bakar makin sedikit dibandingkan dengan Airbus atau Boeing yang memiliki bypass ratio 12. Bypass ratio merupakan perbandingan antara angin dingin yang dihasilkan dari body pesawat, dengan angin yang dikeluarkan pada mesin di belakang pesawat.

Tentunya pesawat ini didesain cocok banget untuk negara kepulauan seperti Indonesia

foto: defense-studies.blogspot.com

foto: defense-studies.blogspot.com

Kalau menurut Wovgo sih, Pak Habibie bikin selain pesawatpun, misalnya helikopter gitu, terjamin banget lah teknologinya. Ibarat kata, sesuai sama bidang dan kebutuhan Indonesia, termasuk si R80 ini. Asal jangan bikin onde-onde aja, karena bukan bidangnya.

R80 di desain untuk rute pendek dengan jarak tempuh kurang dari 600 km, hal ini juga bertujuan untuk bisa menghubungkan pulau-pulau terpencil di seluruh Indonesia. Selain itu, R80 mampu diakomodasi oleh bandara dengan landasan pendek. Cocok banget untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

BACA JUGA: Sejatinya pahlawan seperti apa sih yang dibutuhkan Indonesia saat ini?

Meskipun R80 masih menggunakan baling-baling bukan berarti kuno loh, teknologi yang digunakan termasuk teknologi baru, karena dapat menentukan antara angin dingin dan angin panas yang dihasilkan dari mesin. Sehingga pesawat dapat melaju dengan kecepatan tinggi.

Made in Indonesia, karya anak bangsa

foto: segalaberita.com

foto: segalaberita.com

Jangan ditanya, Pak Habibie selalu bisa memanfaatkan tangan-tangan jeli anak bangsa kok. Buktinya pesawat ini benar-benar made in Indonesia, jadi kamu patut bangga. R80 sepenuhnya dikembangkan oleh anak bangsa, desainnya dikerjakan oleh 50 pakar, termasuk para ahli dari PT Dirgantara Indonesia.

Tapi, orang Majalengka-lah yang pertama kali bangga. Soalnya pesawat ini akan terbang perdana di sana!

foto: abarky.blogspot.com

foto: abarky.blogspot.com

Bukan main!

Rencananya pesawat ini akan diterbangkan secara perdana di Majalengka, Jawa Barat tepatnya pada tahun 2018 bulan Agustus. Menurut Pak Habibie, keputusan memilih lokasi penerbangan perdana R80 dilakukan setelah mendengar kabar pemerintah Jawa Barat yang sedang menyiapkan bandara baru di sana, yaitu Bandara Kertajati.

Karya Pak Habibie ini udah banyak yang melirik

foto: jakartagreater.com

foto: jakartagreater.com

Hal ini berdasarakan Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) yang mengungkapkan, meski belum di produksi, pesawat R80 sudah banyak peminatnya. Dari tujuh maskapai, sudah ada tiga maskapai yang telah menandatangani LoI (Letter of Intent) untuk pembelian pesawat R80. Mereka membeli pesawat sebanyak 145 unit.

****

Pencapaian ini bukan cuma dirasakan oleh Habibie saja, tapi benar-benar menginspirasi anak-anak Indonesia untuk terus optimis bahwa bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang hebat. Pro Indonesia!