Tarjono Slamet. Bangkit dari musibah dan menjadi lebih sukses

Tarjono Slamet

Tarjono Slamet adalah seorang pengusaha. Dia mendirikan sebuah perusahaan bernama Mandiri Craft yang memproduksi kerajinan berbahan dasar kayu.

Untuk mencapai titik kesuksesan ini Tarjono harus lebih dulu mengalami musibah yang sempat membuatnya putus asa dengan hidupnya. Tarjono yang awalnya memiliki hidup yang normal harus rela menerima musibah dimana kecelakaan kerja membuat dia kehilangan sebagian fisiknya.

Memiliki kekurangan fisik ternyata tidak membuat Tarjono Slamet menyerah pada keadaan. Dia terus berjuang melawan keadaannya dan membuktikan bahwa dirinya masih bisa produktif walaupun kondisi fisiknya tidak lengkap.

Kecelakaan kerja merenggut hidup normal Tarjono

Kala itu Tarjono bekerja di PLN unit Klaten. Saat itu dia sedang memperbaiki jaringan sebuah menara bertegangan tinggi bersama dengan kedua rekannya. Akhirnya musibah besar terjadi pada hidup Tarjono. Dia mengalami kecelakaan kerja dan tubuh Tarjono kesetrum listrik tegangan tinggi yang mengakibatkan dirinya tak sadarkan diri selama satu hari satu malam dan mengalami cacat permanen hingga sekarang ini.

Tarjono harus kehilangan kaki kirinya dan mengalami kerusakan syaraf pada sepuluh jari tangannya.

Perjalanan membuka usaha

Saat mengalami kecelkaan itu, Tarjono sempat mengalami putus asa, tapi dengan dukungan dari keluarga dan para sahabatnya, Tarjono mulai bangkit. Dia ikut bergabung di sebuah yayasan rehabilitasi penyandang cacat di  Yogyakarta. Disanalah Tarjono mendapatkan pemulihan mental dan berbagai pendidikan serta keterampilan khusus yang kini menjadi modal utamanya dalam menjalankan bisnis kerajinan kayu.

Dengan bekal keterampilan yang dia dapet dai berbagai pelatihan yang diikutinya, bahkan hingga Selandia Baru, Belanda, dan Australia, Tarjono memutuskan untuk mendirikan CV. Mandiri Craft yang memproduksi aneka macam alat peraga edukatif yang terbuat dari kayu.

Tarjono mengawali bisnisnya dengan modal uang sebesar 150 juta yang didapatkannya dari sisa tabungan selama bekerja di PLN. Diawal-awal perintisan usaha ini, Tarjono merekrut 25 orang karyawan yang semuanya juga penyandang cacat dari daerah Semarang, Gunung Kidul, Magetan, dan Banyuwangi.

Bisnis ini terus berkembang secara pesat. Bahkan pada tahun 2005 hingga 2006 Mandiri Craft berhasil mendatangkan omset penjualan setiap bulannya 150 juta rupiah.

Bencana bukan alasan untuk menyerah

Setelah diterpa bencana dengan mengalami kecelakaan kerja yang harus membuatnya kehilangan kaki kirinya, Tarjono harus mengalami bencana lagi. Tempat usahanya harus porak poranda karena bencana gempa bumi di Jogja pada 2006.

Bencana gempa bumi 5,9 SR yang meluluhlantakkan sebagian besar kota Yogyakarta ini juga memporakporandakan tempat usaha milik Tarjono. Mesin-mesin, serta satu container produk siap ekspor hancur tertimbun bangunan yang roboh. Saat itu Tarjono mengalami kerugian yang hingga milyaran rupiah.

Tapi hal ini tidak menyurutkan tekad Tarjono untuk terus mempertahankan bisnisnya. Dengan modal usaha yang masih tersisa, Tarjono mencoba mengajak rekan-rekannya untuk kembali bangkit menata ulang Mandiri Craft. Berkat kegigihan Tarjono tadi, akhirnya Tarjono mendapatkan bantuan dari donatur di berbagai negara, seperti Belanda, Malaysia, dan Jepang.

Karena kegigihan dalam usahanya ini juga Tarjono akhirnya mampu menerima Danamon Award. Dia mampu menghidupi dan memberikan kesejahteraan bagi 55 orang karyawannya yang semuanya adalah penyandang cacat. Mandiri Craft sekarang ini juga telah menjadi produsen aneka mainan edukatif yang memiliki dua showroom besar yaitu di Jl. Parangtritis km 7,5 dan di Jl. Parangtritis km 9 Yogyakarta.

***

Perjuangan Tarjono sangatlah inspiratif. Bagaimana dia bangun dari keterpurukannya dan bangkit lagi. Bagaimana dengan Wovger? Jika kalian sedang ‘jatuh’ jangan terus putus asa yah, asal mau berusaha, semua akan indah pada waktunya.

Harus terus semangat.