Indar Pratiwi, gadis yang lulus kuliah gara-gara kambing. Kok bisa?

Indar Pratiwi

Meski banyak mahasiswa yang mengandalkan uang orang tua untuk biaya kuliah, hal ini tidak berlaku dengan gadis muda asal Bantul, Yogyakarta. Indar Pratiwi namanya, kerab dipanggil Tiwi. Beternak kambing sudah jadi minatnya sejak duduk di bangku SMP. Hal ini didasari oleh salah satu keluarganya yaitu Ayahnya, Subagiyo yang pernah memelihara kambing sehingga Tiwi merasa tidak asing dengan hewan berjenggot ini.

Unik memang, Dia mulai menggeluti usaha ternak kambing Etawa di rumahnya di Desa Manding Kidul Trirenggo Bantul Yogyakarta. Dulu waktu kecil, dia mengaku sempat menangis saat mengetahui kambing yang dipelihara ayahnya dijual. Tapi sekarang gadis berambut panjang ini sudah memiliki kambingnya sendiri.

BACA JUGA: Tarjono Slamet. Bangkit dari musibah dan menjadi lebih sukses

Tepatnya di tahun 2002, Tiwi memutuskan untuk membuka peluang usaha dengan menggunakan tabungan yang dikumpulkan sejak SMP untuk membeli anak kambing. Kemudian, setelah kambing tersebut menjadi pejantan, Tiwi membeli kambing indukan. Perkawinan keduanya pun melahirkan anakan jenis Etawa.

Kambing kesayangannya ini diberi nama ‘Dewangga’. Dewangga merupakan kambing yang bukan tanpa prestasi, berkat ketelatenannya merawat, Dewangga akhirnya tumbuh dengan fisik yang besar dan bulu yang lebat. Melihat ada peluang untuk ikut kontes, Tiwi lantas mendaftarkan Dewangga. Hasilnya pun sepadan, kambing peliharaannya beberapa kali menjuarai kontes kambing.

Uang yang diperoleh perlombaan, ia belikan Etawa betina untuk dikembangkan lagi. Gadis Bantul ini mulai merasakan bisnisnya berjalan lancar ketika Ia berhasil melipat gandakan peternakanya. Lalu menjualnya dengan harga yang ia patok berkisar 2 juta untuk anakan dan jika menang kontes, harga bisa sampai 10 juta per ekor, bahkan pernah ditawar senilai 50 juta loh. Hingga saat ini, dia telah memiliki 15 kambing Etawa di peternakannya yang dinamai “Gandhiza Farm”.

Bisnis beternaknya juga sejalan dengan perkuliahan yang telah membawanya mencapai gelar S1. Dia gadis yang masih tetap memperioritaskan pendidikan. Hal ini dibuktikan, dari gigihnya dia membagi waktu antara kuliah dan beternak sejak masuk kuliah di Universitas Sarjana Wiyata Yogyakarta dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2009.

BACA JUGA: Kuliah adalah masa mencari ilmu. Namun bukan berarti kamu nggak boleh berbisnis ketika jadi mahasiswa

Meski seorang perempuan, dia mengaku tidak pernah canggung memberi makan, membersihkan kotoran maupun memandikan satu per satu kambingnya. Justru dari beternak inilah dia tak pernah merepotkan orang tuanya dalam urusan biaya. Tiwi telah menarget dengan menjual satu anak kambing, dia mampu membayar uang kuliah tiap semesternya hingga lulus.

Dia juga mendapat tambahan penghasilan untuk uang saku dan biaya lain selama kuliah dari kemenangan “Dewangga” mengikuti kontes. Dewangga sendiri kerap dimanfaatkan oleh sesama peternak untuk dijadikan pejantan. Sekali melakukan pembuahan, Tiwi mendapat bayaran Rp300 ribu. Sungguh merupakan anak yang mandiri. Dengan menggantungkan biaya kuliah dari hasil ternak kambing Etawa, Tiwi berhasil lulus S1 dalam waktu 4 tahun.

foto: regional.kompas.com

foto: regional.kompas.com

Meski telah memiliki peternakan “Gandhiza Farm” dan memenuhi pundi-pundi uang dari hasil ternaknya itu, dia bertekad tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang didapat selama kuliah. Dia tetap mengaplikasikan ilmuya sebagai guru honorer di sebuah SMP swasta di Bantul.

“Saya lulus kan dibiayai kambing, saya tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang saya peroleh. Mengajar tetap jalan, ternak juga jalan,” ujarnya pada tim kompas.com.

BACA JUGA: Hal-hal yang cuma bisa dirasakan oleh Guru Honorer

Kemandirian dari seorang Tiwi, gadis cantik asal Bantul ini hendaknya kita contoh. Apa yang menjadi potensi patutnya terus ditekuni. Meyakinkan diri bahwa segalanya menjadi Indah meski dari hal yang dianggap ‘ndeso’ dan bau seperti beternak kambing. Ada kemauan pasti ada jalan!