Film-film tentang Pelanggaran HAM yang ada di Indonesia

Jamila dan Sang Presiden movie

Wovger mungkin sering sekali melihat berita-berita di TV tentang berbagai macam pelanggaran HAM yang dialami orang-orang Indonesia. Mulai dari pembunuhan, human trafficking, dan hal-hal sejenisnya.

Kasus pelanggaran HAM memang selama ini selalu menjadi sorotan. Banyak para aktivis HAM berusaha melawan hal ini. Mereka berusaha menjaga keutuhan manusia yang seharusnya bisa hidup nyaman dengan hak azazinya masing-masing.

Di Indonesia ini juga banyak sekali terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM. Banyak yang ditayangkan juga di TV. Tapi di sini Wovgo akan coba memberikan rangkuman beberapa Film yang menyoroti pelanggaran HAM di Indonesia. Film-film ini mungkin bisa menjadi gambaran buat Wovger, bagaimana ada begitu kasus pelanggaran HAM, di mana kita harus sama-sama berantas.

Jamila dan Sang Presiden

Jamila dan Sang Presiden movie

Film ini merupakan sebuah film drama dari Indonesia yang dirilis pada tahun 2009 yang disutradarai oleh Ratna Sarumpaet, dan dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Christine Hakim.

Film ini diadaptasi dari sebuah karya drama berjudul Pelacur dan sang Presiden, yang ditulis Ratna. Dia menulis ini setelah menerima sebuah hibah dari UNICEF untuk menelaah perdagangan anak di Indonesia dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah tersebut.

Film ini menceritakan kisah hidup seorang pekerja seks komersial (PSK) yang juga merupakan korban perdagangan manusia yang kemudian dipenjara karena membunuh seorang menteri. Di film ini banyak sekali mengexplorasi fakta-fakta mengenai perdagangan manusia dan prostitusi yang selama ini tidak banyak orang tahu.

Xia Aimei

Xia Aimei movie

Film ini keluar pada awal tahun 2012, tepatnya tanggal 12 Januari 2012. Film ini dibintangi oleh Franda, Ferry Salim, Samuel Rizal, Olga Lydia, Shareefa Danish dan juga Norman Kamaru.

Film ini memang sangat kental dengan nuansa negeri tirai bambu, karena memang menceritakan seorang gadis Cina yang menjadi korban perdagangan manusia. Gadis ini dijual, dan dijadikan gadis penghibur di Jakarta. Film ini menceritakan bagaimana usaha gadis ini untuk melarikan diri dari jerat perdagangan manusia ini.

Melalui Film ini, sangat disoroti sekali bagaimana praktek perdagangan manusia, khususnya wanita, yang juga kerap terjadi di Jakarta. Hal ini karena banyaknya klab malam, tempat-tempat hiburan dan prostitusi di Jakarta. Jakarta seperti menjadi lahan subur bagi oknum-oknum yang terlibat perdagangan wanita.

Kamis Ke 300

Kamis Ke 300 movie

Film yang menyoroti kasus penculikan masa Orba ini merupakan garapan seorang Happy Salma. Ini merupakan sebuah film pendek berdurasi 13 menit. Happy Salma menyatakan bahwa film ini merupakan sebuah sumbangsih buat para pejuang HAM di Indonesia dan para keluarga yang menjadi korban penculikan jaman Orba yang selalu melakukan aksi Kamisan. Aksi kamisan ini dilakukan keluarga korban penculikan yang berdiri selama 1 jam di depan istana Negara dengan mengenakan baju dan paying hitam menuntut keadilan melalui spanduk, foto-foto orang hilang, dan ratusan surat yang ditujukan kepada presiden.

Film KAMIS KE-300 yang mengisahkan kegigihan seorang bapak menuntut anaknya dikembalikan hidup-hidup. Ide film ini datang saat Happy Salma bertemu anak kecil yang berorasi tentang pamannya yang hilang.

Jagal (Act of Killing)

Jagal (Act of Killing) movie

Ini merupakan film documenter karya sutradara Amerika Serikat: Joshua Oppenheimer. Film documenter ini menyorot bagaimana pelaku pembunuhan anti-PKI yang terjadi pada tahun 1965-1966.

Film ini menggambarkan bagaimana para pelaku pembantaian ini memproyeksikan dirinya ke dalam sejarah untuk menjustifikasi kekejamannya sebagai perbuatan heroik. Dalam Jagal, para pembunuh bercerita tentang pembunuhan yang mereka lakukan, dan cara yang mereka gunakan untuk membunuh.

The Act of Killing disambut pujian di seluruh dunia. Situs aggregator ulasan Rotten Tomatoes memberikan penilaian positif 97% dengan nilai rata-rata 8.8/10 berdasarkan 104 ulasan. The Village Voice menyebut film ini “mahakarya”.

The Look Of Silence (Senyap)

The Look Of Silence (Senyap) movie

Inilah maha karya kedua buatan sutradara Amerika Serikat: Joshua Oppenheimer dengan tema sentral pembantaian massal 1965 setelah film Jagal. Jika film Jagal menyoroti sisi pelaku pembantaian, maka film kedua ini lebih menyoroti sisi penyintas dan keluarga korban.

Film ini menggambarkan perjalanan satu keluarga penyintas untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya.

Mata Tertutup

Mata Tertutup movie

Tiga cerita tentang wajah kehidupan beragama di Indonesia. Ada Rima (Eka Nusa Pertiwi), seorang gadis yang sedang gundah dalam pencarian identitas. Dalam kegamangannya, ia terlibat dalam NII.

Ada Jabir (M. DinuImansyah), seorang remaja yang menjadi pengebom bunuh diri karena terdorong oleh kondisi keluarga dan kesulitan ekonomi. Ada juga Asimah (Jajang C. Noer), seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya: Aini. Anaknya menjadi menjadi korban penculikan orang-orang dari kelompok Islam Fundamentalis. Penculikan itu berlangsung ketika Asimah tengah berada pada proses perceraian. Asimah kian frustasi jadinya.

Film ini disutradarai oleh Garin Nugroho. Pembuatan film ini menggunakan kamera foto Canon 5D dan pemain-pemain “amatir” yang baru pertama kali bermain film kecuali Jajang C Noer. Biaya produksinya sangat murah, konon sekitarRp 600 juta. Film ini dimaksud sebagai propaganda anti kekerasan dan anti fundamentalisme.

***

Mungkin masih ada film-film lain yang menggambarkan tentang berbagai pelanggaran HAM di Indonesia yang Wovger tau. Silahkan bisa ditulis di komentar.

Kita harus sama-sama menolak dan melawan kegiatan-kegiatan pelanggaran HAM ini.