Nggak cuma cowok yang sering salah. Tapi penulisan dalam bahasa Indonesia yang ini juga masih sering salah

bahasa Sumber Foto : Kaskus

“Sepuluh tahun sudah kita berumah tanggaTapi belum juga mendapatkan putra.” 

Lirik lagu Mandul dari Elvi Sukaesih di atas terasa pas banget untuk mengawali pembahasan kali ini. Berpuluh tahun sudah kita tinggal di Indonesia tapi belum juga paham tentang bahasa Indonesia. Udah ngaku aja. Nggak usah malu-malu.

Selama tidak kurang dari 12 tahun kita diberikan pelajaran bahasa Indonesia. Namun dalam praktiknya ketika menulis, masih ada saja kesalahan yang kececer di sana-sini. Entah itu tanda bacanya, huruf besar-kecil, kata baku dan tidak baku, hingga penulisan imbuhan asing.

Berikut ini beberapa kesalahan kecil yang sering Wovgo temui dalama penulisan bahasa Indonesia. Ambil pena dan buku, catat baik-baik pengetahuan di bawah ini.

1. Kesalahan pertama: penulisan di- dan di.

Kesalahan yang paling sering Wovgo jumpai adalah kesalah penggunaan di- dan di. Keduanya memang serupa tapi sama sekali berbeda. Di- yang ini berfungsi sebagai imbuhan atau afiks yang letaknya di awal kata. Penulisannya harus digabung dengan kata yang mengikuti. Tanpa spasi.

Misalnya: dimakan, dilakukan, diberikan, dibuang, dijatuhkan, diambil, ditaruh, diparut, dimasak.

Sedangkan di yang kedua merupakan di sebagai kata depan. Penulisannya dipisah dengan kata selanjutnya dan menggunakan spasi. Biasanya untuk menunjukkan tempat.

Misalnya: di halaman, di pagar, di rumah, di hatiku, di kepalamu, di dalam dada, di gubuk.

2. Kesalahan kedua: perbedaan huruf ‘f’ dan ‘v’ seperti yang terdapat pada kata ‘aktif’ dan ‘aktivitas’.

Kesalahan selanjutnya ialah penulisan huruf f dan v pada suatu kata. Huruf f dan v memang merupakan dua huruf yang rumit untuk diingat. Huruf v sendiri tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penulisan keduanya sering tertukar pada kata yang berakhiran -itas.

Cara mudah untuk mengingatnya, untuk kata yang tidak berakhiran -itas, huruf yang digunakan adalah huruf f. Contoh: aktif, efektif, positif, negatif.

Sedangkan untuk kata yang berakhiran -itas, huruf yang digunakan adalah huruf v. Contoh: aktivitas, efektivitas, negativitas, positivitas.

3. Kesalahan ketiga: imbuhan antar- yang masih sering salah tulis.

Penulisan antar- harus dirangkai dengan kata setelahnya. Misalnya: antarkota, antardaerah, antarwarga, antarpulau, dsb. Ingat, penulisannya tidak dipisah.

4. Kesalahan keempat: eka-, dwi-, tri-, catur-, dsb.

Sama seperti penulisan antar-, penulisan di atas juga harus dirangkai dengan kata setelahnya. Misalnya: dwiwarna, caturtunggal, tridharma, dsb.

5. Penulisan satuan itu tidak boleh dipisah.

Satuan memiliki banyak pengertian. Satuan yang dimaksud di sini ialah standar atau dasar ukuran. Dalam satuan berat, kita mengenal berbagai macam gram. Dalam satuan jarak, kita mengenal berbagai macam meter.

Lalu bagaimana cara yang tepat untuk menuliskan kepanjangan kg dan km? Apakah kilogram atau kilo gram? Apakah kilometer atau kilo meter?

Cara yang benar ialah cara yang pertama. Penulisannya dirangkai. Wovger nggak boleh lagi menuliskan satuan dengan dipisah.

Contoh yang benar: sentimeter, gigaohm, terabita, megawatt, desigram, millimeter.

6. Mal- jadi mala-, bukan mal-.

Salah satu kata dengan awalan mal- yang sering kita dengar ialah malpraktik. Malpraktik berasal dari bahasa inggris yaitu malpractice. Kata serapan yang baku bukanlah malpraktik melainkan malapraktik.

Kata lain dengan awalan mala- yaitu malagizi dari malnutrition, malasikap dari malposition, malasuai dari maladjustment, maladaptasi dari maladaption.

7. Akhiran yang benar bukanlah -isa tapi -isis.

Kedengarannya memang mengerikan ada akhiran –ISIS dalam bahasa Indonesia. Tapi ya bagaimana lagi, sudah seperti itu aturannya. Kesalahan ini sering Wovgo jumpai dalam penulisan kata hipotesis dan analisis.

Jadi mulai sekarang hindari menulis hipotesa dan analisa karena keduanya adalah kata tidak baku.

8. Beberapa kata tidak baku lainnya.

Kesalahan lain yang juga masih sering terjadi ialah kesalahan penulisan kata tidak baku. Di antaranya: praktik masih sering dituliskan sebagai praktek, silakan masih dituliskan sebagai silahkan, afdal masih sering dituliskan sebagai afdol, dan salat masih sering dituliskan sebagai sholat atau shalat.

Ternyata sebagai bangsa Indonesia, banyak juga ya yang belum kita tahu dari bahasa Indonesia. Sudah menjadi tugas kita untuk menjaga dan melestarikan bahasa sendiri. Siapa lagi yang akan melestarikannya kalau bukan kita sendiri?

Oh iya, sebelum kamu pergi buka sosmed, stalking mantan atau yang lain, baca juga : “Ini lho yang harus kita lakukan agar Bahasa Indonesia jadi bahasa internasional