10 Tips mendidik anak agar lebih kreatif

anak kreatif

Kreativitas adalah salah satu keahlian yang harus dikuasai manusia. Manusia harus menjadi kreatif agar bisa sukses luar biasa. Terbukti, banyak penelitian mengungkapkan bahwa tidak ada orang sukses yang tidak kreatif.

Kreativitas tidak terbatas pada kegiatan seni dan musik saja, tapi juga meliputi berbagai hal. Ia dibutuhkan dalam matematika, sains, dan bahkan keahlian mengendalikan kecerdasan intelijen serta kecerdasan emosional.

Menanamkan pola pikir kreativitas harus dimulai sejak kecil. Otak mereka harus dibiasakan menerima rangsangan-rangsangan untuk terus mencari ide dan solusi. Berikut ini Wovgo beberkan 10 tips untuk mendorong agar anak-anak kita kelak dapat berpikir kreatif.

KITA?

Iya, kita.

1. Berikan pertanyaan yang tanpa batas.

foto: justlovebyd.com

foto: justlovebyd.com

Cara pertama yang bisa Wovger lakukan agar anak-anak kita kelak mampu berpikir kreatif ialah dengan melemparkan pertanyaan padanya. Memberi pertanyaan jangan cuma sekali, harus ada lanjutannya hingga beberapa kali.

BACA JUGA: Belajar matematika nggak lagi membosankan bagi anak-anak dengan cara ini

Hal ini membuat anak terus mencari tahu jawaban tentang pertanyaan tersebut. Tapi, tolong jangan tanyakan hal-hal yang tidak berbau muatan ilmu pengetahuan, seperti pertanyaan:

“Berapa ukuran celana Bu RT?”

“Di manakah Bu RT membeli celana itu?”

“Sebutkan nama penjahit celana tersebut!”

2. Tawarkan pilihan pada anak. Jangan hanya memberikan satu pilihan yang harus diambil.

foto: gettyimages.com

foto: gettyimages.com

Memberikan pilihan secara tidak langsung dapat merangsang otak anak untuk berpikir. Jika kamu hanya memberikan satu pilihan, mereka akan menerima pilihan tersebut tanpa melaluinya dengan proses berpikir. Dan sebaiknya, berikanlah pilihan-pilihan sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-harinya. Misal:

“Makannya, mau pakai lauk tahu atau tempe?”

“Bajunya, mau yang warna biru atau kuning?”

Tapi jangan pernah memberinya pertanyaan:

“Kamu mau Ayah yang sekarang, atau pengen Ayah baru?”

3. Izinkan mereka melakukan kesalahan. Kalau nggak pernah salah, bagaimana bisa belajar?

foto: flickr.com

foto: flickr.com

Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita menyadari pentingnya sebuah kesalahan agar bisa lebih baik di kemudian hari. Begitu juga dengan anak-anak. Jika mereka melakukan kesalahan, jangan dimarahi atau disudutkan. Apalagi sampai dirayakan sebagai pencapaian, sembari mengundang campursari. Jangan, pokoknya jangan.

BACA JUGA: 9 Foto yang menggambarkan perbedaan Mama dan Ayah dalam mengasuh anak

Jika anak melakukan kesalahan, sebaiknya, bangkitkan semangat mereka dengan motivasi. Tidak perlu sampai mengundang Mario Teguh juga. Tapi cukup dikuatkan mentalnya, bahwa salah adalah harga wajib yang harus dibayar untuk ke-belum-tahu-an. Dan benar, adalah hasil dari pengalaman setelah berkali-kali salah.

4. Dorong mereka untuk bermain musik.

foto: pianowizardacademy.com

foto: pianowizardacademy.com

Sudah tidak diragukan lagi jika musik adalah salah satu kegiatan yang bagus untuk mengasah kreativitas. Ajarkan mereka untuk bermain alat musik. Nggak usah yang mahal-mahal. Kamu bisa mengajari mereka bermain harmonika, pianika, ukulele, atau gitar. Kalau perlu, seruling juga boleh. Siapa tahu kelak saat dewasa bisa direkrut Soneta.

5. Bacakan anak-anak sebaris-dua baris puisi.

foto: momsmagazine.com

foto: momsmagazine.com

Mengapa puisi?

Mengapa bukan cerpen, dongeng, novel, skripsi atau yang lainnya?

BACA JUGA: Surat cinta untuk anak ayah yang mengaku dewasa

Jawabannya sederhana: Selain karena pilihan yang lainnya kepanjangan kalau dibacakan – dikhawatirkan, setelah novel selesai dibaca, tiba-tiba anak sudah dewasa – juga, karena puisi memiliki makna yang luas di dalam kata-katanya. Sebaris puisi mengandung lebih dari satu makna. Setelah Wovger bacakan puisi, diskusikan juga makna puisi yang terkandung di dalamnya.

6. Bermainlah bersama mereka dengan permainan yang mengasah imajinasi.

foto: first5sonomacountyparents.org

foto: first5sonomacountyparents.org

Lakukan permainan bersama anak dengan permainan yang mengasah imajinasi. Tujuannya agar otak mereka tetap aktif selama bermain. Wovger bisa mengajak mereka pergi ke kebun dan main tebak-tebakan nama tanaman atau mengajak mereka menebak nama-nama hewan. Asal jangan sampai tebak-tebakan seperti:

“Bapak kamu… suami aku ya?”

7. Selipkan kreativitas dalam kegiatan sehari-hari.

foto: best-wallpaper.net

foto: best-wallpaper.net

Pola pikir kreatif tidak bisa datang dengan sendirinya. Agar misi berpikir kreatif yang Wovger terapkan pada anak bisa berjalan optimal, maka harus mengatur suasana rumah sedemikian rupa agar mendukung terjadinya kreativitas.

BACA JUGA: Cuma anak-anak yang lahir tahun 90an yang ngerti jajanan-jajanan ini

Usahakan setiap hal kecil yang terjadi di dalam rumah merupakan hasil dari kreativitas. Seperti:

‘Tempat sampah yang warnanya biasa-biasa saja, bisa di cat bareng dengan gambar karakter yang lucu’.

‘Cat di kamar tidak satu warna. Melainkan, mural atau gambar dinding’.

Atau bisa juga, contoh-contoh kreatif lainnya.

8. Berhentilah memperhatikan apa yang telah dicapai anak-anak.

foto: youtube.com

foto: youtube.com

Orang tua sangat perhatian untuk urusan pencapaian anak. Semua orang tua menginginkan anaknya agar menjadi juara kelas, menjadi anak yang multitalenta, menang di berbagai ajang perlombaan seperti juara kelas, balap lari hingga makan kerupuk saat tujuh belasan. Dan, lain sebagainya.

Nah, bijaknya, Wovger sebagai orang tua tidak terus-terusan menekan mereka untuk berprestasi dan mengancamnya jika gagal. Namun harus belajar untuk lebih menghargai usaha mereka daripada hasil yang didapatkan.

9. Biarkan anak-anak memiliki pendapat yang berbeda.

foto: babycouture.in

foto: babycouture.in

Seorang anak tidak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif jika tidak diizinkan memiliki pendapat yang berbeda. Eh, diam-diam banyak lho orangtua yang demikian.

BACA JUGA: Kamu yang anak kembar, pasti tahu gimana rasanya bertubi-tubi dicecar dengan pertanyaan semacam ini

Mereka mengambil semua keputusan untuk anak-anaknya dan tidak mengizinkan perbedaan pendapat terjadi antara orangtua dan anak. Akibatnya, anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang pesimis, tidak percaya diri, dan takut berpendapat.

10. Perluas pengetahuan mereka.

foto: blogs.longwood.edu

foto: blogs.longwood.edu

Anak-anak adalah manusia yang baru saja terlahir ke bumi. Dia masih banyak belajar tentang apa-apa saja yang terjadi di bumi. Sebagai makhluk kecil yang masih belajar, sebaiknya jangan batasi pengetahuan mereka. Orangtua harus mampu mengenalkan mereka pada ilmu pengetahuan baru, seluas-luasnya. Lalu biarkan mereka memilih mana yang ingin mereka pelajari.

***

Semoga 10 tips di atas dapat membantu anak-anak untuk berpikir kreatif. Hal penting yang harus diingat, sebelum Wovger mengajarkan anak-anak tentang berpikir kreatif, sebagai orangtua kamu juga harus bisa berpikir kreatif. Mulailah dari hal-hal sederhana. Mulailah dari hal-hal kecil. Mulailah, sekarang!