Jadi kreatif di indonesia itu susah! Ini dia bukti kreatifitas anak bangsa yang terhambat

Sebenernya orang-orang Indonesia itu banyak yang hebat-hebat, punya karya yang keren-keren, dan kreatif-kreatif. Tapi sayang, masih banyak anak bangsa yang kreatifitasnya dihambat oleh birokrasi di pemerintahan yang ruwet.

Ini udah masuk MEA lho. Katanya harus kreatif? Tapi kenapa masih dibenturkan dengan birokrasi berbelit-belit.

Ada beberapa kasus yang sangat disayangkan terjadi di Indonesia. Ada beberapa anak bangsa yang pengen memberikan sumbangsih bagi bangsanya, tapi karya kreatif mereka justru terbentur oleh beberapa pihak yang gagal paham.

Ini dia beberapa kasus yang pernah terjadi.

Mobil Listrik Selo karya Ricky Elson.

Mobil Listrik SELO karya Ricky Elson

Mobil listrik ini dikembangkan oleh Ricky Elson. Dulu pak Dahlan Iskan sempat mem-blow up proyek ini, dan diharapkan bisa menjadikan mobil ini sebagai mobil listrik nasional.

Tapi akhirnya mobil ini gagal uji emisi dan proyeknya sempat terhenti. Sampai akhirnya sebuah perusahaan dari Malaysia tertarik untuk mengakuisisi mobil ini. Sangat disayangkan! Harusnya hal ini bisa dikembangkan sebagai aset masa depan bangsa. Siapa sih yang gak pengen di masa mendatang Indonesia punya produk mobil listrik dalam negeri. Kalo proyeknya gak bisa dikembangkan dalam waktu dekat, mbok yah sama-sama digodok, buat perealisasian mimpi Indonesia di masa mendatang.

BACA JUGA: 6 Hal yang tidak boleh kamu ucapkan kepada ‘seniman’

Ricky Elson bahkan di status FB-nya sempat mencurahkan kekecewaannya. Kurang lebih isinya begini:

Jangan bilang ini tak Cinta

2 Tahun lebih berlalu, sejak pengembangan pertama Mobil ini. Dan semenjak itu, ide ide pengembangan Generasi Baru dan Mesin mesin yang baru terus berputar di dalam kepala ini. Serasa berat menahan mimpi yang harus saya kubur sejenak di dalam kolam-kolam Lele di Ciheras, di bawah jerami kering tua, penutup benih bibit Jahe. Namun dalam hati terus memendam hasrat untuk terus berkarya, meski tak mudah. Kelanjutan dari pertemuan dengan seseorang di KL 8 bulan yang lalu, bahwa hari ini dapat kabar, ada keinginan keras mereka utk pengembangan Mobil Listrik, bersama team kami.

hemmmm, akankah pembeli Prototype Next Generation Of “SELO” the Electric Car (baca : Membiayai produksi next Prototype) berasal dari Negara Tetangga (M)?

Ini bukan menjual diri. Karna kami harus terus berkarya. Saya insya Allah bersedia, jika ini pilihan jalan yg realistis untuk kami melanjutkan “karya” ini. Meski ini jalan berputar, untuk negri kami kelak. Meski Pahit.

Syarat Proses Pembuatan tetap harus di Indonesia. Semoga ada pilihan lain.

Ditulis:

30 Agustus 2015, Macet menuju CiTos

Di sini, mengembangkan EV malah dikejar-kejar untuk jadi Saksi oleh sebuah Instansi.

Susahnya pengen berkarya dan berkontribusi bagi negeri ini.

TV Rakitan Kusni.

TV Rakita Khusni, seorang lulusan SD dimusnahkan

Kasus ini baru saja terjadi dan ramai diperbincangkan. Kusni seorang lulusan SD yang mampu merakit TV dan menjualnya sebagai mata pencaharian akhirnya harus dipenjara karena dianggap melanggar hukum.

Kusni sang perakit TV ini belajar secara otodidak. Tapi sayang, TV hasil rakitan Kusni dimusnahkan begitu saja, karena dianggap belum memenuhi ijin SNI dan melanggar hak cipta.

Yah, harusnya hal ini bisa dibicarakan terlebih dahulu. Kenapa Pak Kusni ini tidak dibimbing dan diarahkan bagaimana untuk perizinannya, dan bagaimana mengenai penggunaan merk dagang?

Tapi gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Pak Kusni sudah divonis bersalah dan dipenjara 6 bulan. Susah yah mau berkarya di Negeri ini. 🙁

Arfi’an Fuadi & M. Arie Kurniawan, Sang Ahli 3D Design Enginering.

Arfi’an Fuadi & M. Arie Kurniawan, Sang Ahli 3D Design Enginering

Arfi’an Fuadi & M. Arie Kurniawan adalah kakak beradik yang hanya lulusan SMK tapi sangat ahli 3D Design Enginering. Berawal dari kemenangan dalam sebuah kontes untuk membuat rancangan 3d design enginering untuk sebuah jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Mereka berdua kini sudah mampu mendirkan perusahaan bernama D-Tech.

BACA JUGA: 8 Perubahan manusia akibat media sosial. Bagaimana denganmu?

Sayang, kiprah mereka berdua kurang diterima di kancah Design Teknik di Indonesia. Hal ini terjadi lantaran mereka hanya berijazah SMK. Agak gak adil memang. Bahkan, Arie yang sempat ingin berkuliah di sebuah Universitas Negeri harus mengalami penolakan, karena dia mau mengambil jurusan Elektro, sedangkan ijazahnya adalah SMK otomotif.

Utungnya mereka tidak patah semangat dan terus berkarya.

Film Siti karya Edi Cahyono.

Film Siti karya Edi Cahyono

Film Siti ini bercerita tentang seorang Siti, seorang ibu muda yang mengurusi ibu mertuanya, Darmi, anaknya, Bagas, dan suaminya, Bagus yang lumpuh. Siti berjuang untuk menghidupi mereka. Di saat keadaan makin terjepit karena lilitan hutang, Siti terpaksa bekerja siang dan malam. Siang hari Siti berjualan peyek jingking di Parangtritis. Malam hari Siti bekerja sambilan sebagai pemandu karaoke.

Film ini tidak bisa tayang reguler di bioskop Indonesia, karena terdapat banyak adegan dewasa dan jika disensor akan memotong terlalu banyak cerita.

Padahal film ini menjadi Film terbaik FFI dan memenangkan banyak penghargaan dari luar negeri. Sayang sekali, film sebagus SITI tidak bisa dinikmati khalayak luas. Yah, harusnya bisa masuk bioskop dengan tanda 17+, jadi yang menonton sudah tersegmentasi.

Kompor Biomassa karya Muhammad Nurhuda.

Kompor Biomassa karya Muhammad Nurhuda

Muhammad Nurhuda adalah seorang dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Dia meneliti sebuah kompor biomassa yang lebih ramah lingkungan. Bahan bakarnya sendiri adalah kayu cacahan yang juga sudah diproduksi massal hingga 20 ton perhari. Selain kayu cacah, bisa juga menggunakan pelet sawit atau butiran kayu.

BACA JUGA: Ini lho hal-hal yang dihindari orang-orang sukses

Kompor ini kabarnya sudah dipasarkan dan diproduksi massal di Norwegia. Pemasaran dan produksi biomassa ini ditangani pihak ketiga, yakni Primecookstove. Produk ini bahkan dipasarkan di sejumlah negara seperti India, Meksiko, Peru, Timor Leste, Kamboja dan negara-negara di belahan Afrika. Sayangnya, produk sebagus ini tidak ter-blow up dan sepi peminat di kalangan dalam negeri. Kenapa pemerintah juga tidak ikut membantu mensosialisasikannya?

Sangat disayangkan!