Hmm,… Percaya Nggak Sih? Kalau 9 Tanda Ini Adalah Bukti Dunia Mengalami Kemunduran

dunia mengalami kemunduran

Sadar atau nggak sadar, saat ini kita hidup di zaman digital dan kita nggak akan bisa kembali lagi ke masa lalu. Banyak perubahan yang terjadi di era digital, salah satunya adalah fenomena media sosial yang mengguncang Bumi ini.

Lebay banget sih Mbak Indah.

Loh bukannya lebay, tapi emang gitu kenyataannya. Sekarang, hampir semua orang mampu mengkases internet dan sejumlah social media. Dulu, nggak dulu –dulu banget sih tapi awal kemunculan media social, fungsinya hanya sebatas untuk berkomunikasi tapi sekarang seakan-akan menjadi suatu kebutuhan primer yang nggak bisa ditinggalkan.

Adanya pergeseran makna dalam mengartikan social media. Saking menjadi kebutuhan primernya, perusahaan besar maupun setingkat bisnis rumahan mampu melihat karakter calon karyawan melalui status yang sering di share si pengguna. Coba deh baca artikelnya Kak Zahrina yang judulnya Secuil Pesan Buatmu Yang Suka Share “Kebodohan” di Media Sosial Hanya Demi “LIKE”!.

Padahal tau nggak sih, justru era digital ini merupakan era yang begitu rawan dalam kehidupan. Banyak sisi negative yang terus bermunculan ketika kita tersihir dan berkiblat pada teknologi virtual macam social media. Gara-gara sosmed, orang-orang jadi nggak jujur, ntah pada dirinya sendiri atau orang lain seperti Gadis yang jadi ratu di dunia maya karena foto editannya yang di sosmed.

Nah untuk itu, Mbak Indah punya 9 tanda-tanda kalau masyarakat era sekarang ini hidupnya semakin ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya.

1. Facebook telah memakan banyak waktumu dalam berproduktivitas.

facebook memakan waktu

Berapa banyak waktu yang kamu habiskan setiap hari untuk berkutat dengan Facebook atau situs media sosial lainnya? Apakah memotong waktu kerjamu?

*Kecuali kamu admin sosmed, pasti berkutat dengan Facebook tiap kerja.

Coba deh pikirkan lagi, banyak mana kamu mengakses facebook daripada bekerja secara serius. Kalau kamu telah menyadarinya, berhentilah sekarang. Karena jika diterus-teruskan justru kamu akan terjerumus ke dunia maya yang makin menggerus aktivitas social dunia nyatamu.

2. Kamu akan jadi orang yang gila ‘like’. Kalau nggak ada yang ngelike jiwamu melayang kayak di tarik malaikat Jibril.

gila like

Apa sih yang kamu tunggu dari social media? Komen atau like-likean dari orang lain? Nggak Cuma facebook, ada Instagram, Path, twitter, yang sekarang udah ada fasilitas like atau love.

Sadar atau enggak, justru itu jadi sugesti buat kamu untuk mengejar kuantitas like dari pada kualitas konten yang kamu share.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa semakin banyak yang  ‘ngelike’ statusmu,  seolah-olah itu adalah obat yang kamu butuhkan untuk hidup. Gila ya, banyak-banyakan like udah kayak  aliran darah yang dialirkan dari selang infus melalui komputer ke urat nadimu.

Cuma demi like, kadang bikin kamu atau orang di sekitarmu rela ‘telanjang’ di minimarket atau bahkan perempatan jalan. Itu buat apa coba? … pikir deh..

3. Gadget jadi benda nomor 1 dan yang kedua adalah nyawamu sendiri. Itu artinya kamu nggak segan memprioritaskan gadgetmu dari pada kelangsungan hidupmu.

gadget yang utama

Lihat aja gambarnya, udah jelas banget, padahal nyawa atau hidupmu itu harus jadi yang utama justru malah kamu abaikan dan mempersilahkan gadget menguasai cara berpikirmu.

Lihat hasilnya, yup kamu bisa mati sendiri gara-gara mentingin gadget. Hmmm….hidup sih boleh makin maju tapi mbok ya pola pikir juga diasah lebih cerdas lagi dalam beradaptasi dengan kehidupan.

4. Tau nggak sih kalau main gadget bisa merusak keintiman?

perangkat

Seberapa sering kamu menghabiskan waktu untuk mainan smartphone di depan sahabat-sahabatmu atau pasanganmu? Waktunya dinner eh malah saling cuek dan asik main handphone sendiri-sendiri. Mau sampai kapan? Masa iya sampai di ranjang masih aja sibuk ngetwit :v

“Lagi ehem ehem …” 

Khaaannnn nggak asik …

Jelas-jelas makin memasuki era digital, keintiman dalam hubungan semakin rusak. Inilah tanda-tanda bahwa kehidupanmu nggak semakin membaik malah makin buruk!

Contoh deh Kak Zahrina, yang sepertinya anti banget sama sosmed. Punya sosmed cuma buat stalking, nggak buat update-update-an atau pamer di dunia maya.

5. Begitu juga dengan quality time bareng keluarga.

waktu berkualitas

Kamu dengan asik mengobral quality time bareng keluarga di status Facebook, tapi nyatanya apa? Yakin bersenang-senang sama keluarga. Kalau quality time ya nggak mungkin dong sempet update-update.

Tengok deh ilustrasinya, mungkin itu deh yang kamu  maknai sebagai quality time jaman sekarang.

6. Lebih memilih merekam kejadian buruk yang menimpa orang lain dari pada menolong mereka.

potret

Jika hal ini sudah terjadi, mungkin manusia sudah hilang akal sehatnya. Alih-alih menolong orang yang tenggelam justru kamu dengan santai memilih untuk merekam kejadian tersebut dalam video kemudian menguploadnya ke YouTube. Setelah itu baru menolong korban, keburu mati lah! Jaman sudah berubah, iya! berubah banget kayak hubungan kita yang berubah entah jadi apa. Ciye baper.

7. Meskipun kamu udah memiliki semua teknologi dan kehidupan, tapi masih melirik apa yang dimiliki orang lain.

melirik punya orang

Pepatah mengatakan kalau rumput tetangga itu lebih hijau dari pada milik sendiri. Sama kayak ilustrasi berikut ini, menunjukkan bahwa orang kaya yang memiliki segalanya masih menginginkan apa yang dimiliki orang lain berupa kebahagiaan, begitu juga sebaliknya.

8. Sensasi banyak dijual dari pada kebenaran.

sensasi

Banyak yang mengatakan era digital merupakan era di mana kebutuhan informasi akan sesuatu juga semakin membeludak. Untuk memenuhi hal ini media massa seharusnya memberikan informasi yang actual dan sesuai kebenaran. Namun apa yang terjadi? Tak jarang media massa memberikan berita kabur alias menjual sensasi dari pada sebuah kebenaran. Yaaahh, yang penting kan dapat pembaca, dapat trafik,… ckckckkc

Bahkan ilustrasi di atas menunjukkan bahwa media nggak sungkan mengekspose seorang wanita yang telanjang dari pada melindungi wanita tersebut. Dan tanpa peduli menyodorkan mikrofon di depannya.

9. Pada akhirnya, tetap saja kita sebagai manusia perlahan akan merusak planet ini.

planet rusak

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pada akhirnya kita sendirilah yang tumbuh berkembang dan merusak planet secara perlahan. Boleh jaman berevolusi, namun perlu diingat bahwa semakin dunia kaya akan kecanggihan teknologi semakin tinggi pula tingkat kerusakan yang diderita. Seperti membangun gedung bertingkat atau membangun pabrik-pabrik yagn menghasilkan polusi.

****

Masih bangga menyebut hidupmu lebih maju di tengah-tengah kecanggihan dunia??