Surat Dari Kami Kepada Yang Terhormat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Halo Bapak dan Ibu di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yang Terhormat. Semoga Bapak dan Ibu berada dalam keadaan sehat wal afiat. Kami dari Wovgo, beserta seluruh orangtua yang meresahkan acara-acara televisi belakangan ini, ingin menyampaikan beberapa hal yang sembari membaca ini, Bapak dan Ibu boleh sembari ngopi-ngopi. Karena jujur, ini hanyalah semacam obrolan santai. Namun meski santai, kami berharap ini akan memberi dampak yang baik bagi kita semua dan anak-anak Indonesia ke depan.

Jadi begini, Pak, Bu, belakangan ini kami melihat banyak perubahan perilaku anak-anak yang semakin kesini justru semakin mengkhawatirkan. Setelah dipikir-pikir, ternyata tindakan mereka tersebut sedikit-banyak dipengaruhi oleh sinetron-sinetron dan acara-acara yang tayang di televisi. Ya, sinetron-sinetron dan acara-acara yang Bapak serta Ibu loloskan penayangannya itu.

Jujur, meski sudah berumur, tapi kami masih merindukan tayangan-tayangan seperti Gundam, Inuyasha, Dragon Ball Z dan beberapa kartun lainnya, yang notabene merupakan tontonan sejatinya anak-anak 90-an. Kami semua tumbuh dan berkembang bersama film-film itu. Bahkan, saat hari ini usia kami sudah mencapai seperempat abad, kami masih sekali-dua kali menonton tayangan masa kecil kami tersebut di youtube. Sungguh, masa kecil yang membahagiakan, bersama film-film kartun idaman.

BACA JUGA: Cuma anak generasi 90an yang tahu kartun-kartun ini

Namun, puing-puing kebahagiaan masa kecil itu tak bisa lagi dirasakan oleh anak-anak hari ini. Beberapa dari mereka, ada pula anak-anak teman kami, yang orangtuanya juga resah seperti kami.

Sungguh, kami menangis melihat anak-anak itu terpaksa harus menjejali otak mereka dengan tayangan-tayangan yang diproduksi bukan berdasar atas kualitas dan dampak yang baik. Melainkan, karena rating tinggi semata. Kami tak kuasa melarang, karena cuma itu sajian pilihan yang disediakan.

Beberapa dari kami tidak seperti orang-orang kota yang sanggup membayar TV Kabel atau internet setiap bulannya itu. Sehingga mereka bisa memiliki banyak pilihan tayangan. Beberapa dari kami adalah keluarga yang cuma mampu beli televisi, dan menyajikan itu sebagai hiburan keluarga dikala lelah setelah seharian bekerja.

Maka dari itu, #DearKPI

Kami meminta dengan sangat kepada Yang Terhormat KPI

2. Kembalikan Kartun Anak Setiap Minggu Pagi

Kami sangat menyayangkan akan kurangnya hiburan untuk anak-anak.

3. Jangan Semena-Mena Menstop Kartun. Anak-Anak Butuh Hiburan

Kami juga resah dengan perseteruan yang sering di ekspose itu. Iya, kami tahu, itu adalah upaya pihak artis untuk menaikkan pamornya.

4. Stop Perseteruan Para Artis Yang Dilakukan Para Artis di Infotainment

Kami juga gelisah dengan kebiasaan para artis yang mengumbar kekayaannya. Apakah itu yang disebut dengan mendidik generasi?

5. Stop Tayangan Pamer Harta Yang Dilakukan Para Artis di Infotainment

Guru-guru bersusah payah mendidik anak-anak agar menunda pacaran, lalu fokus belajar dan menempa diri. Sementara televisi…

6. Stop Gosip Artis Berumur Yang Mengumbar Kemesraan di Acara Infotainment

Susah sekali hari ini membedakan mana acara gosip dan mana acara musik. Karena keduanya sudah bercampur aduk.

7. Arahkan Para Pelaku Industri Pertelevisian Untuk Kategori dan Klasifikasi Tayangan

Tolong, jika KPI menyetop penayangan sebuah acara, berlakukan itu pula untuk acara sejenis yang berbeda nama.

8. Stop Penayangan Acaranya, Tegur TV dan Cekal Artisnya

Indonesia pernah punya acara joget yang jam tayangnya gila-gilaan. Bukan, itu bukan acara mendidik. Hanya acara budak rating semata.

9. Batasi Jam Tayang Acara, Terutama Variety Show

Sinetron di Indonesia akan terus tayang, selama rating acara masih tinggi. Tak peduli tukang buburnya sudah hilang. Selama rating tinggi, sinetron tetap jalan.

10. Atur Jam Tayang Dari Sinetron

“Ngapain bikin sinetron keren dan berbobot? Bikin sampah aja duitnya banyak,” begitu kata beberapa dari mereka yang memproduksi sinetron.

11. Arahkan Pihak TV Untuk Membuat Sinetron Dengan Cerita Yang Lebih Berbobot

Jujur, kami betul-betul tak habis pikir dengan pola pikir para pembuat sinetron dan Bapak serta Ibu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yang Terhormat, yang meloloskan acara-acara sampah, tapi malah melarang acara-acara kartun yang padahal banyak muatan pelajaran kehidupan yang bisa dipetik dari film-film kartun tersebut.

BACA JUGA: Belajarlah tentang kehidupan dari mereka yang bijaksana, Spongebob misalnya.

Kami yakin, Bapak dan Ibu pun pasti juga tak akan pernah mengijinkan anak-anak di rumah untuk menonton acara-acara sampah itu. Lantas, kalau kepada orang-orang yang disayang saja Bapak dan Ibu bisa melarang, lalu kenapa kepada orang lain malah justru menikam, membiarkan anak-anak dan generasi kami terjerumus dalam perusakan pikiran?

Bapak serta Ibu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang saya hormati, kami memohon dengan sangat agar KPI membaca ini dan betul-betul mempertimbangkan usulan-usulan dari kami dan seluruh anak-anak di Indonesia yang tak ingin masa kecilnya dirusak oleh acara-acara yang merenggut imajinasi mereka. Karena, dari siapa lagi kita berharap perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik, jika bukan dari mereka-mereka yang hari ini sedang kita persiapkan pola pikir dan kepribadiannya?

BACA JUGA: Cara Mengetahui Kepribadian Seseorang

Terima kasih Bapak serta Ibu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Kami sangat menunggu tindakan nyata dari Bapak dan Ibu, agar pertelevisian di Indonesia kembali membaik. Sehingga, kita yakin untuk menatap masa depan Indonesia 25 tahun hingga 50 tahun mendatang menjadi lebih baik.

 

 

Dari kami,

Anak-anak 90-an yang pernah berbahagia dengan tayangan-tayangan yang mendidik, dan hari ini sedang meresahkan hiburan untuk anak-anak kami.