Dongeng Koh Chan tentang Imlek dan budaya Imlek di Indonesia

ChineseNewYear

Imlek telah tiba. Saatnya bagi keluarga etnis Tionghoa di belahan negara manapun merayakan tahun baru Cina ke 2567 ini. Tak jauh beda dengan keluarga Koh Chan, tetangga sebelah. Anak-anak dan cucu-cucunya menyempatkan diri untuk pulang dan kumpul keluarga. Sungguh kebahagiaan tiada tara bagi kakek berusia 60-an tahun tersebut.

Koh Chan memiliki 4 cucu, diantaranya adalah: Ah Kum, Changpu, Dongmei dan yang terakhir Hualing. Bukan Huawei, karena Huawei adalah perusahaan swasta di bidang teknologi yang didirikan pada tahun 1988 oleh Ren Zhengfei. Sepertinya cukup sampai di sini pembahasan tentang Huawei, karena pembahasan berlebih hanya berlaku kalau tulisan ini ada kerjasama berupa content partner.

“Opaaa… Opaaa… Opaaa…” Ah Kum, Changpu, Dongmei dan Hualing merapat, memegang erat-erat tangan Koh Chan. Ya, apalagi kalau bukan untuk merengek minta angpao. Koh Chan mengeluarkan angpao yang telah ia siapkan dari saku celananya. Keempat cucu yang lucu-lucu itu tak sabar ingin segera meraihnya.

“Eit, tunggu dulu. Opa punya cerita, mau denger nggak?”

“Mau… mau… mau…” Mereka menjawab dengan penuh semangat, sementara Hualing hanya melongo menyaksikan saudara-saudaranya yang lebih tua begitu histeris. “Opa mau cerita apa?” tanya Ah Kum, cucu perempuan Koh Chan yang sudah kelas 6 sekolah dasar.

“Opa mau cerita tentang Imlek dan tentang budaya Imlek di Indonesia.” Satu per satu dari mereka tersenyum, lalu menumpukkan dagu di atas tangannya pertanda siap menyimak. Kecuali Hualing yang lebih memilih tetap melamun sembari memasukkan jari telunjuk ke dalam hidungnya.

Koh Chan pun memulai ceritanya,

“Cucu-cucu Opa yang pinter-pinter ini tahu nggak, kalau perayaan tahun baru Imlek itu dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa, dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas – pada saat bulan purnama?” Mereka serempak menggeleng-gelengkan kepala.

“Cap Go Meh itu apa, Opa?” Giliran Changpu yang sekarang bertanya.

“Cap Go Meh itu akhir dari seluruh perayaan Tahun Baru Imlek, Sayang,” jawab Koh Chan sembari mencium pipi kanan Changpu.

“Selain itu, dalam kepercayaan Tionghoa, uang di dalam angpao tidak boleh mengandung angka empat, karena angka empat dianggap membawa sial.” Semua kepala terangguk-angguk, setuju.

“Opa, kenapa sih setiap Imlek selalu banyak warna merah?” Dongmei bertanya sembari menggaruk-garuk rambut ikalnya.

“Karena warna merah melambangkan sesuatu yang kuat, sejahtera, dan membawa hoki.” Koh Chan menjawab ini dengan tangan kanannya mengepal di udara.

Suasana di ruang tamu begitu meriah. Berbeda dengan suasana di dapur dan ruang makan yang begitu sibuk mempersiapkan makanan. Istri Koh Chan yang bernama Cici Annchi, dibantu anak-anak dan menantu perempuannya yang hari ini menghidangkan menu spesial keluarga.

Bau dumpling sudah meruap-ruap di udara. Menggoda setiap hidung di seisi rumah Koh Chan dan seperti meminta untuk segera bergegas mengunyahnya.

Dumpling adalah daging babi, sapi, ayam, udang, dan bahkan ikan. Bahan campuran yang populer digunakan adalah kubis Cina, potongan bawang putih, sayuran, daun bawang, dan telur orak-arik. Campuran bahan yang digunakan sebagai isi dumpling tentunya tergantung pada selera dan daerah masing-masing.

Dumpling biasanya direbus atau dikukus dan menjadi hidangan tradisional yang dinikmati pada Malam Tahun Baru Cina dan acara reuni keluarga atau kerabat. Bisa juga dinikmati dengan saus yang terbuat dari cuka dan minyak cabai atau cabai pasta, dan terkadang ditambahkan kecap, seperti yang biasa orang-orang di Cina Utara lakukan.

“Changpu mau dumpling, Opa!” teriak Changpu sembari menunjuk sepiring dumpling yang sudah disajikan di meja makan.

“Jadi minta angpao nggak nih?” Koh Chan menghimpit empat angpaonya seperti dibentuk kipas. Ia bertanya dengan penuh gelak tawa.

“Jadi… jadi… jadi…” Lagi-lagi, mereka menjawab dengan penuh semangat. Kecuali Hualing yang masih saja melongo menyaksikan saudara-saudaranya yang lebih tua begitu histeris.

“Nah, dengarkan dulu dong cerita Opa sampai akhir. Hehehe.” Ketika Koh Chan bersiap membuka mulut untuk melanjutkan cerita, tiba-tiba Dongmei memotong,

“Opa, nanti nonton Barongsai, kan?”

“Iya dong. Nanti Opa, Oma dan kita semua nonton Barongsai bareng-bareng.”

Koh Chan sepertinya lupa, tadi mau bicara apa. Pandangannya ia arahkan ke udara, berusaha mengais-ngais ingatan, berharap ia bisa kembali mengingat apa yang tadi ingin ia ucapkan.

“Kenapa sih, setiap Imlek itu selalu ada Naga dan Barongsai?” Changpu menimpali. Koh Chan yang tadinya berusaha keras untuk fokus ke topik yang tadi ingin ia katakan, mau tidak mau harus membelokkan tema, menjawab pertanyaan cucunya.

“Karena dalam kepercayaan orang Cina, Naga dan Barongsai itu merupakan lambang kesenangan dan kebahagiaan. Tarian Naga dan Barongsai juga dipercaya dapat membawa keberuntungan serta mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu manusia.”

“Hiiiii…. Hiiii…. Hiiiii….” Mereka ketakutan tatkala Koh Chan mengucapkan ‘roh-roh jahat’. Melihat hal ini, Koh Chan hanya bisa tergelak.

“Terus, kalau membakar petasan dan kembang api itu biar apa sih, Opa?” tanya Ah Kum kritis.

“Oh, itu. Itu tujuannya untuk mengusir nasib-nasib buruk di tahun sebelumnya, dan mengharapkan tahun baru yang lebih bahagia dan lebih baik.” Semua terangguk-angguk mendengar jawaban Koh Chan.

Cici Annchi, beserta anak-anak dan menantu perempuannya sepertinya sudah hampir selesai menyiapkan beragam menu makanan di meja makan.

“Ayo-ayo, siap-siap makan. Ini sudah hampir selesai,” teriak Cici Annchi.

“Iya Omaaaa… sebentar lagiiiiiiii.” Mereka berteriak dengan ekspresi wajah yang begitu lucu.

Pada dinding meja makan, Koh Chan melihat foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang ia pasang setelah pemilu Presiden dan Wakil Presiden beberapa tahun lalu. Namun pada sisi dinding yang lain, ada foto yang sejak tahun 2000 lalu ia bersumpah tidak akan pernah mengganti ataupun melepaskannya. Foto tersebut adalah foto Presiden Indonesia ke empat: Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Pada tahun 2000 Gus Dur mencabut Inpres 14/1967 tentang larangan perayaan Imlek. Lalu dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 Gus Dur meresmikan Imlek sebagai hari libur. Saat itu, Koh Chan sekeluarga beserta keluarga-keluarga etnis Tionghoa di Indonesia lainnya sangat berbahagia dan berterima kasih kepada Gus Dur karena telah diberikan kebebasan.

“Siapa yang hafal nama-nama Presiden di Indonesia? Angkat tangan!” Semua angkat tangan, termasuk Hualing. Semburat senyum mengembang dari wajah Koh Chan, melihat Hualing yang berani angkat tangan namun dengan pandangan mata masih melihat ke sana ke mari.

“Coba sekarang sebutkan satu per satu ya, Hualing.” Ah Kum, Changpu, dan Dongmei serentak melemparkan pandangan ke arah Hualing. Menunggu-nunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya. Namun, Hualing malah diam saja. Hanya menatap balik mereka bertiga sembari tetap mengupil dan kadang-kadang memasukkan jari yang tadi digunakan untuk mengupil tersebut ke dalam mulut.

“Dongmei, Opa. Dongmei tau!” seru Dongmei penuh semangat. Koh Chan pun mempersilakan Dongmei untuk menjawab satu per satu.

“Soekarno, Soeharto, Habibie dan Ainun…” Baru sampai di sini, tawa Koh Chan meledak. Tawa ini diikuti oleh Cici Annchi, beserta anak-anak dan menantunya yang sedang duduk di meja makan menyaksikan keriuhan mereka dari kejauhan.

“Presiden ketiga itu Habibie, Sayang. Ainun itu nama istri beliau.” Dongmei akhirnya sadar, lalu tersipu malu sembari menggaruk-garuk rambut kepalanya. Kemudian ia mengulanginya kembali.

“Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi.”

“YEEEEEE….” Suara tepuk tangan seluruh penduduk rumah menjadikan suasana hari itu begitu bahagia.

Sebagai penutup cerita, Koh Chan pun memberi nasihat.

“Nah, sekarang, kita harus berterima kasih kepada Gus Dur…” Koh Chan berbicara sembari telunjuknya teracung ke arah foto Gus Dur yang bertahun-tahun terpasang. “Karena berkat kebijakan Gus Dur, hari ini kita semua bisa berkumpul dan berbahagia merayakan Imlek.” Semua kembali bertepuk tangan.

*

Sebelum mencicipi menu utama, masing-masing berebut dumpling. Ada yang memilih untuk mencelupkan ke dalam saus, ada pula yang memilih untuk mencelupkannya ke dalam kecap, dan hanya Hualing yang memilih untuk mencelupkannya ke dalam kobokan. Semua tertawa. Hualing masih tetap diam, polos.

Saat semua sedang makan dengan lahap, tiba-tiba Hualing bersuara,

“Opa…”

Koh Chan berhenti sejenak, lalu memandangi Hualing dengan penuh cinta. Kemudian diikuti oleh yang lain. Suasana senyap, menunggu-nunggu apa yang akan Hualing ucapkan.

“Angpao…”

Tawa kembali meledak. Koh Chan menepuk jidat karena tadi benar-benar lupa akan janjinya untuk memberikan angpao.