Segelas kopi, sepiring kentang goreng, dan wejangan tentang social media.

Aku duduk sendiri sembari menatap jalan raya depan kafe yang sesak dan macet lantaran ini sudah jam pulang kerja. Kafe tempatku nongkrong cukup rame, namun suasananya sepi. Karena masing-masing tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan gadget yang beberapa tahun terakhir ini banyak merampas waktu demi waktu dalam hidup. Alunan lagu berjudul ‘Hey There Delilah’ milik Plain White yang di cover oleh Jasmine Thompson seperti mengamini sepinya suasana sore ini.

Seorang barista mengantarkan cappuccino dan kentang goreng pesananku. Dengan terampil ia menaruh secangkir kopi dan sepiring kentang goreng itu di mejaku, disertai dengan senyum manis yang aku yakin ia telah lama melatih mukanya untuk tersenyum, hingga mampu menemukan bentuk senyum seindah itu.

“Silakan, Kak,” ucapnya.

“Terima kasih, Mbak Mirna.” Ia tersenyum lebih manis dan lebih lebar, setelah mendengar aku menyebut namanya. Nama yang baru saja aku ketahui setelah membaca nametag yang terpasang di dada kanannya. Kemudian ia membalas dengan ucapan ‘sama-sama’ dan berbalik memunggungiku. Baru berjalan sekitar tiga meter, aku memanggilnya kembali.

“Mbak Mirna, ini kopinya, tidak ada sianidanya, kan?” Untuk ketiga kalinya ia mengumpankan senyum indah yang sama seperti yang tadi aku lihat. Ya, memang itu niatku sebenarnya: ingin melihat senyuman manis ala-ala barista itu sekali lagi.

Smartphone-ku bergetar. Ada pesan masuk via whatsapp. Ternyata itu Rudi temanku, menanyakan poster untuk acara komunitas yang akan berlangsung akhir bulan depan.

Aku suka pada wangi cappuccino dan asapnya yang mengepul-ngepul di udara. Sungguh, pemandangan yang kukira jauh lebih indah ketimbang pemandangan di pegunungan yang sudah dipenuhi oleh sampah dari para pendaki.

Serasa tak ingin kehilangan momen indah ini, tanpa pikir panjang, aku memotretnya. Kurang puas, aku kemudian memotretnya berulang kali. Tentu dengan posisi yang berbeda-beda.

“Boleh saya duduk di sini?” Belum selesai aku memotret cappuccino dan kentang goreng di atas meja, tiba-tiba ada seorang Bapak-Bapak berusia 50-an memakai topi memotong kekhusyukanku dalam mengabadikan momen.

“Silakan,” jawabku singkat lalu lanjut memotret.

“Krishna.” Bapak-Bapak itu menjulurkan tangan, memperkenalkan diri. “Biar lebih akrab, panggil ‘Om’ saja.” Ia melanjutkan.

“Mufid.” Aku menyalami tangannya.

Selesai memotret, foto dengan hasil terbaik aku upload di Instagram. Kemudian, aku menyeruput sedikit cappuccino dan memakan kentang goreng sembari melihat respons masyarakat Instagram terhadap foto yang baru saja aku upload.

“Generasi sekarang, berbeda jauh ya, dengan generasi jaman Om dulu.” Tiba-tiba Om-Om yang tadi mengaku bernama Krishna itu membuka percakapan, dan aku bingung bagaimana harus melanjutkannya. Karena konsentrasiku sedang terpecah: antara scroll layar smartphone dan mencerna ucapannya.

“Maksudnya?”

“Ya, kalau jaman Om dulu, selalu diajarkan bahwa sebelum makan itu berdoa, bukan mengambil foto, untuk kemudian di upload ke sosial media.”

Aku yang masih makan kentang goreng, tersentak. Untung tidak sampai tersedak, kemudian cepat-cepat aku memasukkan smartphone ke dalam kantong.

Ucapan barusan seperti membuat cappuccino yang aku telan sore ini tiba-tiba berubah rasa, tak seenak biasanya. Om-Om yang bernama Krishna itu masih memandang ke arahku dan menyunggingkan senyum. Aku tak berani menatap matanya, karena sindirannya barusan begitu menohok. Aku hanya serampangan makan kentang goreng serta menyeduh kopi sembari menatap jalanan yang menyerupai barisan para semut.

“Coba adek lihat orang-orang yang duduk di meja sekitar kita. Saya yakin, kalau sebelumnya mereka janjian untuk ketemuan bareng. Tapi setelah bertemu, mereka malah seperti tidak punya quality time bersama sahabat maupun pasangan mereka.”

Aku memutar leher dengan malas. Menurutinya untuk melihat pemandangan yang aku tahu bahwa memang biasanya demikian. Sebetulnya aku ingin menjawab kalau zamanku dan beliau sudah berbeda. Mereka bisa dengan mudah menasehati karena mereka tidak memiliki elemen-elemen distraksi yang sering merongrong kami seperti internet, sosial media dan semacamnya. Namun belum sempat aku menyanggah nasihatnya, beliau terlebih dahulu mengeluarkan smartphone dari sakunya.

“Saya juga menggunakan smartphone, punya sosial media, dan selalu update berita. Tapi sebelum makan, saya tak pernah sekalipun lupa berdoa.”

Aku menelan ludah.

“Kalau sedang bersama teman-teman, kami sepakat untuk mematikan, lalu mengumpulkannya dalam sebuah plastik dan kami ambil kembali setelah pertemuan selesai. Bukan apa-apa, karena kalau hanya sekedar membuang waktu ngotak-atik smartphone, kami bisa melakukannya kapan pun dan di manapun. Tapi pertemuan ini? Sangat berharga, dan kami tak bisa melakukannya kapan saja. Maka dari itu, kami selalu memanfaatkannya semaksimal mungkin.”

Maksud hati inginnya dongkol. Tapi kalau dipikir-pikir, banyak betulnya juga apa yang Om Krishna bilang barusan.

“Halo Papa. Maaf lama nunggu ya, tadi beres-beres bentar.” Seorang wanita mencium pipi kiri dan pipi kanan Om Krishna. Melihat dari bagaimana memanggilnya, sudah pasti ia anaknya.

Aku tergeragap, karena wanita itu adalah Mbak Mirna, barista yang tadi mengantarkan cappuccino dan kentang goreng untukku.

“Nak Mufid, foto-foto itu boleh. Tapi jangan sampai melupakan kebiasaan baik untuk berdoa sebelum makan. Foto selfie juga boleh, asal jangan sampai merusak tanaman, merobohkan jembatan dan berlebih-lebihan. Dan, jangan pernah gadaikan kebersamaan bersama teman-teman hanya gara-gara internetan.”

Nasehat itu betul-betul menusuk ulu hatiku. Menyentuh lini-lini yang ku anggap biasa, padahal aslinya berbahaya kalau sudah sampai menjadi kebiasaan. Yang jauh terasa dekat, tapi yang jelas-jelas dekat malah tampak begitu jauh.

“Saya pamit dulu, Nak Mufid,” ucap Om Krishna.

“Pulang dulu, Kak Mufid.” Sekali lagi, senyum manis Mbak Mirna tersaji secara apik di mukanya, menimpali ucapan pamit dari Om Krishna.

Mereka berlalu dari hadapanku. Pandangan mataku masih kosong, bengong mengikuti ke mana mereka berjalan hingga naik ke mobil. Saat mobil sudah benar-benar pergi, aku menjawab,

“Hati-hati, Mbak Mirna.”