Niatnya mencari manfaat buah pisang, akhirnya malah terpaksa harus bayar hutang.

warungpisanggoreng

Tepat pukul 2 siang hari ini, ada empat orang anak SMA datang berbondong-bondong ke warung Mas Nanang – atau yang akrab disapa Mas Nang. Mereka adalah Robi, Ali, Erfan dan Tuti. Warung Mas Nanang merupakan tempat favorit mereka untuk mengerjakan tugas sekolah. Hampir semua tugas dari seluruh mata pelajaran di sekolah pernah mereka kerjakan di sini. Termasuk hari ini, hari dimana mereka sedang sibuk berdiskusi mengerjakan tugas Biologi, untuk membahas tentang buah beserta manfaatnya.

“Mas Nang, kami semua, pesennya kayak biasanya ya!” pinta Tuti dengan lambaian tangan sembari menyunggingkan senyum.

“Siap Dek. Serabi Imut dengan topping Pisang 4 biji, es yogurt anggur 4 gelas, dan sekalian melunasi hutangnya, kan?” Respons Mas Nanang sigap, meladeni Tuti and the gank yang notabene merupakan pelanggan militan. Muka mereka kecut mendengar ucapan Mas Nanang soal ngutang. Sungguh, itu semakin mencemarkan nama baik mereka yang sudah lebih dulu tercemar.

Mas Nanang dikenal sebagai penjual ‘serabi imut’ yang cara memasaknya masih menggunakan kompor tradisional dengan sistem pengapiannya menggunakan arang. Kompor itu berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjangnya sekitar dua meter. Di tengah-tengah, terdapat banyak cekungan mini yang berperan sebagai cetakan adonan serabi.

Guys, buah apa nih yang mau kita bahas untuk tugas?” Erfan memulai bahasan.

“Gimana kalau strawberry?” usul Tuti.

“Keren duren deh. Aku suka duren soalnya. Hahaha.” Ali menimpali.

“Duren? Duda keren, maksudmu Li?” Semua tertawa mendengar pertanyaan Robi.

Warung Mas Nanang siang ini belum begitu ramai. Tapi pasti sebentar lagi akan penuh, seperti hari-hari biasanya. Tak lama kemudian Mas Nanang datang dengan membawakan pesanan mereka. Setelah menyajikan seluruh pesanan tersebut di atas meja, secara mengejutkan Mas Nanang berkata,

“Karena kalian pelanggan setia, Mas Nang punya sesuatu untuk kalian. Sebentar ya!”

Mas Nanang balik badan dan buru-buru mengambil piring yang entah apa isinya. Tak terlihat karena tertutup kertas minyak.

“Nah, selamat mencicipi menu baru Mas Nang: pisang bakar! Dan, ini semua gratis… tis… tis… tis…” Mas Nanang mengucapkan kata ‘tis’ berulangkali hingga mulutnya berbusa-busa macam orang over dosis.

Mereka girang bukan kepalang. Selama jadi pelanggan warung Mas Nanang garis keras, mereka belum pernah sekali pun dapat award kategori pelanggan paling sering ngutang, atau semacamnya. Padahal, Tuti and the gank kalau lagi makan di sini ngutangnya nggak tanggung-tanggung. Bahkan, jumlah hutangnya sekarang mungkin ngalah-ngalahin total hutang Negara kita.

Mas Nanang berlalu, dan mereka berempat asyik menyeruput es yogurt sembari menyantap lezatnya pisang bakar. Sudah enak, gratis pula. Nikmat mana yang sanggup mereka dustakan?

Saat tengah meresapi setiap kunyahan, tiba-tiba mereka berhenti. Lalu menatap pisang yang mereka pegang dan tinggal separuh. Mata mereka berbinar-binar, seakan menemukan sebuah ide brilian.

“Eh, gimana kalau untuk tugas Biologi ini, kita bahas tentang manfaat buah pisang?” Mereka teriak bareng.

“SETUJUUUUU!!!” Lagi-lagi, bahkan menjawab pun mereka bisa secara bersama-sama. Kontak batin yang kuat sekali. Sekuat ingatan kamu tentang dia.

***

“Manfaat pertama: pisang bisa menurunkan kadar tekanan darah tinggi.” Ide dari Erfan ini kemudian dicatat oleh Tuti.

“Kedua, selain dapat menurunkan kadar tekanan darah tinggi, pisang juga dapat memperbaiki pencernaan, karena mengandung serat.” Ali menjawab sembari nambah makan pisang bakarnya.

Robi membuka smartphone, lalu memulai browsing.

“Nah, ada lagi, nih. Kandungan serat yang tinggi dalam pisang juga dapat menurunkan tingkat penyakit jantung koroner. Pisang kaya akan vitamin B6, yang diperlukan untuk asupan gizi orang dewasa. Vitamin B6 juga bisa membantu tubuh memproduksi insulin, hemoglobin dan asam amino nonesensial yang berfungsi untuk regenerasi sel dan membantu dalam produksi antibodi untuk melawan infeksi.”

“Gimana? Gimana, Rob? Jangan cepet-cepet laaah.” Tuti cemberut. Robi kemudian membacakan ulang. Sebetulnya, bisa saja Robi memberikan smartphone tersebut ke Tuti, dan membiarkan Tuti mencatatnya sendiri. Tapi, ya, namanya tugas kelompok. Biar kelihatan pada kerja semua, harus ada yang membacakan dan menulis segala.

“Oh, iya, bukannya tadi bu guru bilang kalau kita harus nyari buah yang ada kandungan vitamin C-nya ya, Rob? Emang pisang ada?” Meski Erfan biasa tidur di kelas, tapi untuk hal ini kebetulan banget dia ingat. Soalnya, sewaktu bu guru membahas ini, Erfan lagi terbangun dari tidurnya. Bertepatan dengan suasana kelas yang sedang ramai, dan hanya dia serta beberapa siswa beruntung yang kebetulan dengar ucapan ini.

“Tunggu, tunggu, belum selesai.” Robi membaca artikel hasil browsing-nya tersebut dengan cepat, demi menemukan, apakah pisang mengandung vitamin C atau tidak.

“Eh, ini ada kok. Ada. Selain jeruk, rupanya pisang juga mengandung vitamin C. Kirain, jeruk doang. Bagusnya lagi, dalam artikel ini juga tertulis kalau pisang ternyata bisa melawan penyakit anemia loh.”

Lagi fokus-fokusnya baca artikel, tiba-tiba terdengar alunan lagu milik ‘Dekat’ yang judulnya ‘Berkhayal’. Pada layar smartphone itu tertera tulisan: Emak. Robi pun kemudian mencari tempat yang agak sepi, menjauh dari tempatnya duduk, agar bisa dengan tenang mengangkat telepon.

Ketika Robi tengah asyik bercakap-cakap dengan Emaknya di telepon, Ali, Erfan dan Tuti perlahan-lahan berjalan mundur, menjauh dari warung Mas Nanang. Lalu saat percakapan berakhir, Robi celingukan.

“Mas Nang, anak-anak tadi pada ke mana?”

“Udah pulang duluan, Dek Robi,” jawab Mas Nanang.

“Sialan, pada ninggalin!” Robi berjalan menuju tempat di mana sepedanya terparkir.

“Eit… eit… eit… Dek Robi mau ke mana?”

“Ya pulang, lah, Mas Nang.”

“Boleh aja sih, pulang. Tapi itu tadi pesanannya dibayar duluuu.” Mas Nanang nyengir.

“Loh, katanya gratis?”

“Gratis gundulmu. Itu cuma berlaku untuk pisang bakarnya saja. Lainnya, bayar!”

Robi pun dengan malas mengeluarkan seluruh uang yang ada dalam dompetnya. Apes, duitnya kurang. Mau nggak mau, sepedanya harus ditinggal di warung Mas Nanang, sebagai jaminan. Dan, hanya boleh diambil kalau menu hari ini sudah dibayar semua, serta semua hutang Tuti and the Gank selama ini dilunasi.