Obrolan pagi hari tentang alasan kenapa menunda resign dari kerjaan itu gampang sekali.

balcony

Sepagi ini aku sudah masak air. Bukan untuk mandi, melainkan bikin kopi. Pagi tanpa kopi itu seperti siang tanpa sinar matahari. Terasa ada yang kurang.

Di depan kamar kontrakan lantai dua, aku melihat Irwan yang tengah duduk di kursi dan memandang langit pagi hari. Hanya diam, melamun dan tak menggumam sepatah kata pun. Tumben, karena biasanya dia sudah genjrang-genjreng gitar sambil nyanyi serta minum kopi.

Aku mengaduk-ngaduk kopi, menghisap kepulan asapnya, kemudian menyandarkan badan di teralis. Irwan yang mendengar gesekan adukan sendokku hanya menoleh sekali, lalu melempar pandangannya ke langit pagi lagi.

“Kamu kenapa, Wan?” Aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Nggak apa-apa, Fid,” jawabnya tanpa menoleh.

“Jangan kayak cewek, dong. Ngakunya nggak apa-apa, padahal aslinya apa-apa. Kita semua yang ada di kontrakan ini adalah keluarga, loh.” Aku masih mengaduk kopi, lalu maju melangkahkan kaki.

Irwan menyeka pelipis dalam diam, seperti sedang menyusun sesuatu. Menyusun curahan hatinya, mungkin. Karena nggak mungkin kalau menyusun skripsi. Udah kelar!

“Aku nggak betah di kantor, Fid.” Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya, karena setahuku, selama ini dia selalu cerita kalau ngerasa cocok dengan teman-teman kantornya. Seakan memahami bentuk mimik mukaku yang seperti bertanya, ia pun menjawab tanpa kutanya.

“Aku nggak tahan sama sikap bosku dan target-target kantor yang tiap ganti bulan, meningkat melulu nominal targetnya. Sementara nominal gaji, segitu-segitu melulu.” Dia menguap, lalu mendehem sebentar.

“Tahan dulu, Wan. Kan, sisa kontrak masih 1 tahun lagi?”

“Ah, satu tahun tuh lama! Aku pengen resign deh. Tapi…”

“Tapi kenapa?” tanyaku penasaran.

“Temen-temen kantor adalah keluarga ketigaku, – setelah keluarga di rumah dan di kontrakan – sayang banget kalau harus berpisah dengan mereka.”

Cara Bergaul Secara Baik Dengan Teman Kerja

Sebetulnya aku tadi pengen bilang “Udah, resign aja!” kayak ucapan-ucapan para motivator bisnis itu. Tapi perkara ‘mengucapkan’ itu sungguh berbeda jauh dengan persoalan ‘melakukan’. Keduanya ialah dua hal yang berbeda. Aku masih mencoba diam.

“Selain temen-temen kantor, yang bikin berat untuk resign adalah beberapa fasilitas yang udah kantor kasih selama ini. Selama pindah-pindah kerja, menurutku, ini yang paling keren,” akunya dengan bangga.

Fasilitas kantor - Alasan Susah Resign Kerja

Susah sih menurutku, kalau kemauan resign banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang justru bikin dia betah tinggal. Harusnya, Irwan tinggal datang ke kantor dan menyatakan resign. Tapi kalau aku berada di posisinya, bisa jadi aku berada dalam kebimbangan yang sama.

“Kalau kamu bermasalah dengan target, kenapa nggak diobrolin ke bos aja? Siapa tahu nemu solusi.”

“Bukannya nggak mau ngobrolin, sih. Secara pribadi, aku justru excited buat ngejar target. Bukan targetnya sih, tapi iming-iming bonusnya yang setara 3x gaji. Hahaha. Cuma, selama 2 tahun kerja, aku baru sekali bisa mencapai target.” Irwan mengucapkan ini dengan ekspresi muka yang murung durja. Aku jadi berpikir, ternyata nggak gampang mencapai target di perusahaan tempat Irwan bekerja.

Gaji kantor - Alasan Kenapa Susah Resign

Kopiku tinggal separuh. Tapi sisa-sisa wangi aromanya masih rajin menelusup ke dalam lubang hidung. Aku jadi ikut-ikutan berpikir tentang bagaimana memecahkan masalah yang sedang Irwan hadapi ini.

“Selain itu, jarak antara kontrakan dengan kantor yang cuma sepelemparan batu, bikin keputusan untuk resign makin berat.” Irwan menggaruk-garuk rambutnya. Kemudian, ketombe-ketombe berjatuhan dan meninggalkan jejak yang jelas pada kaus hitamnya.

Jalan ke kantor - Alasan kenapa susah resign

Aku melihat, sejak tadi, sebetulnya Irwan hanya merisaukan lepasnya kenyamanan-kenyamanan yang sudah ia peroleh di kantor kalau sampai betul-betul resign. Bukankah resign itu sama seperti putus cinta? Kalau sudah siap putus, tidak perlu lagi mengungkit kenangan-kenangan yang telah lalu. Kalau sudah siap resign, lupakan kenyamanan-kenyaman yang pasti juga ikut terlepas.

“Udah, deh, Wan. Kalau mikir nyamannya terus, lalu kapan resign-nya?” tanyaku dengan nada meninggi.

“Ada alasan lain lagi: ijazahku ditahan, dan kalau mau ngambil, aku harus bayar biaya penalti sejumlah sisa waktu kontrakku dikalikan dengan gajiku per bulan. Duit dari mana?” Muka Irwan lesu.

Membayar ke perusahaan untuk dapat ijazah sekolah atau kuliah

“Ya kalau kayak gitu sistemnya, mau nggak mau kamu kudu kuat-kuatin 1 tahun lagi dong!”

“Ah, satu tahun tuh lama! Aku pengen resign deh. Tapi…”

“Tapi kenapa? Please deh, jangan balikin percakapan ini ke percakapan semula. Karena di awal tadi kamu juga udah ngomong gitu soalnya.”

Irwan diam, lalu tiba-tiba teriak: “AAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHH!!!!!”

Tetangga-tetangga yang sedang beraktivitas di depan rumah mereka, menoleh. Bahkan, beberapa ada yang sampai keluar rumah. Aku cuma bisa menelan ludah sambil mengarahkan pandangan tak menentu. Irwan tiba-tiba merebut gelas yang sedang aku pegang.

“Eh?” Tadinya aku mau ngasih tahu sesuatu, tapi terlambat.

Irwan tanpa pikir panjang menyurukkan gelas ke mulutnya. Padahal, kopi itu tinggal ampasnya.