Kencan pertama yang kikuk dan berujung nonton bareng Deadpool.

Sudah 2 bulan ini aku berusaha mendekati seseorang. Cewek, tentunya. Neshia namanya. Meski jomblo begini, aku normal dan juga punya selera.

Hari ini adalah kali pertama kami ketemuan. Sudah lama tak kencan gara-gara lama menjomblo. Jadi maklum, kalau bingung harus pakai baju yang seperti apa dan parfum yang baunya kayak gimana. Terpaksa, tadi cuma ngolesin minyak kayu putih ke pakaian.

Aku dan Neshia sudah duduk dan membisu cukup lama. Aku grogi, tapi Neshia malah sibuk dengan smartphone-nya. Lha gimana, aku cuma anak yang suka nonton film. Sedangkan Neshia, tak tahulah dia suka apa. Tapi, masa momen romantis gini malah ngobrolin film. Kan, mending bahas tentang kami.

“Rambut kamu bagus, Nesh. Hehe.” Aku memberanikan diri untuk mengawali percakapan dengan memujinya. Cuma itu satu-satunya bahasan yang terlintas di kepala. Neshia memegang-megang rambutnya menggunakan tangan, lalu bertanya,

“Bagus gimana, Jho?”

“Ya, hitam gitu. Ehehe.”

Kening Neshia mengkerut. Sementara aku nyengir grogi, menanggapi respons aneh Neshia. Aku melihat sekeliling secara random, hanya untuk membuang rasa malu. Kemudian, Neshia kembali sibuk dengan smartphone-nya.

Di tempat kami makan, terdapat televisi yang menempel pada dinding. Aku menonton, meski setengah minat. Itu lebih karena bingung mau melempar pandangan ke mana lagi.

Tiba-tiba, Neshia meletakkan smartphone-nya dan ikut menoleh ke arah televisi. Tepatnya, saat televisi tersebut menyajikan trailer Deadpool. Sekarang, aku bukan sedang menonton televisi. Melainkan, menonton Neshia yang sedang menonton.

Aku lihat ia tersenyum, matanya berbinar, dan pada bagian akhir trailer ia tak kuasa menahan tawa. Aku pun demikian. Namun, aku tertawa karena melihat bahwa ternyata Neshia bisa tertawa. Yes, aku nemu tema obrolan, batinku.

“Suka Deadpool juga, Nesh?” tanyaku. Saat ini aku sedang berharap dia akan menjawab ‘enggak’ kemudian bilang ‘aku sukanya kamu’.

“Emm… kayaknya iya deh. Kocak soalnya. Hahaha.” Fix, aku langsung membatin ‘jadi kamu lebih pilih Deadpool daripada aku?’

Neshia pun melanjutkan, “Itu filmnya tentang apa sih?”

“Film Superhero, buatannya Marvel. Nanti bakal gabung Avenger gitu. Bergabung dengan Captain America dan kawan-kawan.” Neshia cuma manggut-manggut dengar jawabanku.

avengers wide

“Bukannya DeadPool itu penjahat yah?” Aku menahan tawa. Kukira, Neshia udah paham, rupanya masih bingung.

“Bukan, lah. Gimana ceritanya kamu bisa nyangka kalau Deadpool itu penjahat? Hahaha.”

“Lha di Origins Wolverine, bukannya dia penjahat?”

“Di Origins Wolverine sama yang film ini agak beda ceritanya. Deadpool yang di film ini, dia sendiri yang jadi Superheronya.” Aku mendehem sebentar, lalu mencuri momen dengan memanjakan mata untuk menikmati bidadari ciptaan Tuhan yang tak Beliau tempatkan di surga. Namun malah di bumi.

Origins Wolverine Image Gallery

Neshia tak lagi sibuk dengan smartphone-nya, dan memilih fokus untuk menyimak penjelasanku. Yes, terima kasih Deadpool. Kau membuat upaya pendekatanku semakin membaik.

“Dia juga hasil dari Project X, sama kayak Wolverine. Bedanya, dia hampir abadi. Bahkan, bisa menumbuhkan kembali anggota tubuhnya yang udah terpotong.”

Deadpool vs X-Men Origins Wolverine

Lagi-lagi, Neshia manggut-manggut. Ya Tuhaaan, cantik sekali dia kalau lagi begini.

“Kalo gitu, Deadpool gak bisa dibunuh dong?” tanya Neshia.

“Bisa, lah, cantik. Eh, Nesh, maksudku.” Sial, aku kelepasan. Tapi demi mempertahankan martabat, cerita harus tetap aku lanjutkan. “Deadpool bisa mati kalo tubuhnya udah bener-bener dihancur leburkan tak bersisa. Menurutku sih bakalan asik filmnya, apalagi kelakuan Deadpool-nya yang konyol dan kocak.” Neshia tertawa, dan grogiku sirna. Saat yang tepat untuk melancarkan gombalan. “Tapi lebih asik lagi, kalo pas nonton ada yang nemenin.”

Deadpool Full Original Trailer

Aku tersenyum. Neshia pun tersipu-sipu menanggapi senyumku. Mukanya bersemu merah. Namun aku buru-buru menyelamatkan mukanya dengan cara melanjutkan percakapan.

“Deadpool kan nama aslinya Wade Wilson. Nah, dia dulunya prajurit yang bekerjasama dengan pemerintah. Jadinya, Deadpool dan Captain America bisa dibilang saling paham satu sama lain, lah. Seperti…” aku menghentikan cerita. Pengen tahu respons Neshia.

Deadpool - Wade Wilson

“Seperti?” Neshia tersenyum. “Seperti apa, Jho?”

“Seperti kita. Eeaaa.”

Neshia salah tingkah. Pandangan matanya melihat sekeliling. Akhirnya, bisa ketemu juga celahnya. Hahaha.

Aku nggak yakin kalau ada bahasan lain yang bisa bikin kami jadi makin akrab gini, selain ngobrolin Deadpool. Jadi, mau nggak mau, aku harus melanjutkan tema percakapan yang renyah nan membuatnya bergairah ini.

“Di Avenger, Deadpool nanti juga bakal akrab kok sama Spiderman.”

“Tapi kalo dilihat-lihat, Deadpool kok gak kayak Superhero macam Superman atau Batman gitu sih?”

“Emang sih, Deadpool lebih cocok disebut sebagai Anti-Hero ketimbang Superhero. Tapi menurutku itu malah yang bikin dia jadi unik deh, dengan karakter yang kocak dan frontal gitu.”

Deadpool Gallery Image

Obrolan tentang Deadpool adalah jalan pembuka bagi kami untuk bertanya tentang satu sama lain. Neshia jadi tahu, kalau aku adalah kolektor DVD film-film keren. Dan, aku pun kemudian tahu kalau ternyata Neshia suka makan sate biawak! Serem deh. Masih banyak lagi hal-hal lainnya yang kami perbincangkan malam itu.

Menurutku, saling tahu itu malah justru baik. Seperti aku yang pada akhirnya tahu kalau ternyata Neshia mau diajak nonton. Ya, nonton Deadpool.