Penggemar Raisa garis keras dan caranya meracuni pikiran orang, agar bergabung dalam barisan YourRaisa.

Bibirku tersungging senyum hari ini, oleh sebuah tayangan di televisi. Tentu ini bukan channel yang sering menayangkan sinetron kebut-kebutan itu, bukan pula acara musik yang sama sekali nggak ada unsur musiknya seperti kebanyakan acara musik di televisi Negara kita tercinta. Namun ini adalah sebuah acara talkshow. Hitam Putih, nama acaranya. Pasti Wovger sudah tahu apa nama channel-nya. Tapi Mbak Indah sengaja tak menyebutkannya. Nanti sajalah, kalau pihak yang bersangkutan bersedia bekerjasama melalui content partner.

Aku betah berlama-lama karena hari ini ada bintang tamu yang paling ku idolakan. Seorang penyanyi wanita asal Indonesia. Bukan Vina Panduwinata, Iis Dahlia maupun Waljinah. Melainkan, Raisa. Ya, Raisa Andriana yang belakangan kerap wara-wiri di berbagai televisi dan dari panggung ke panggung.

“Lihat TV itu jangan deket-deket!” tegur Hesti, adik perempuanku, dengan ekspresi mukanya yang datar. Aku tak mengindahkan nasihatnya. Terus dan terus menonton Raisa dari layar kaca, tanpa berkedip.

“Kakak ngefans sama Raisa?”

“Iya.” Aku menjawab pendek, kemudian aku lanjutkan. “Banget. Kakak adalah salah satu YourRaisa – nama sebutan untuk penggemar Raisa.” Mataku masih berbinar-binar menatap layar kaca, mendengar Raisa menyanyikan lagu Nostalgia. Merdu, benar-benar merdu.

“Kalo Kakak emang fans Raisa garis keras, coba jawab pertanyaan-pertanyaan Hesti tentang Raisa.” Jempol aku acungkan tepat ke depan mukanya, tanda bahwa aku menyepakati tantangannya. “Sebutkan tanggal lahir Raisa coba?”

“Ya 6 Juli 1990 lah. Emangnya kamu, tua?” Jawabku sentimen.

minikutu major raisa Andriana

“Aku kan 1995 Kak. Ya jelas lebih tua Raisa dong.”

“Iya. Tapi kalo muka, tua-an kamu!” Hesti sewot mendengar jawabanku. Namun ia tetap tak patah arang untuk terus menyodori pertanyaan.

“Coba tebak, apa album pertamanya Raisa?”

Sepasang mataku masih setia menatap layar kaca, mengacuhkan pertanyaan lanjutan dari Hesti.

“Kak! Kak! Kak Indah, jawab!” Hesti menggoyang-goyangkan badanku, merengek menagih jawaban.

“Yaelah, nggak ada pertanyaan lain yang lebih sulit? Kalo pertanyaan itu sih mudah, bahkan Kakak bisa kasih jawaban lengkap! Album pertamanya berjudul Self-title, diproduseri oleh Aska – RAN dan band Soulvibe, Ramadan Handy dan Andrianto Ario Seto. Album debutnya berisi sembilan lagu, diantaranya: Melangkah, Serba Salah, Cinta Sempurna, Inginku, Apalah (Arti Menunggu), Bersama, Could It Be, Terjebak Nostalgia dan Pergilah.”

Gaya Fashion Raisa Andriana untuk yourRaisa

Mendengar jawabanku yang komplit, Hesti seperti tertikam telak.

“Huweee… mantap. Kakak sering mantengin timeline Raisa ya?

“Iya dong. Paling sering sih ngikutin akun twitternya yang @raisa6690 itu, beserta video coverannya.”

“Oh, Raisa sering nge-cover lagu juga, Kak? Terus, lagu coveran Raisa yang paling Kak suka, apa?”

“Selalu: lagu Still in Love milik Brian Mc Knight. Itu yang paling Kakak suka.”

Raisa Andriana 1

Aku menjelaskan dengan menggebu-gebu. Karena bagiku, Raisa adalah seorang cewek tangguh dengan penuh perjuangan dan layak untuk dijadikan suri tauladan. Kalau ditanya, apa motto yang tepat untuk menggambarkan Raisa? Maka jawabanku sesuai dengan motto hidupnya: ‘Bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian’. Karena Raisa merintis karir ini dengan penuh perjuangan.

Di awal debutnya, dia sering mengirimkan demo rekamannya kepada banyak label musik. Tak jarang ia mengalami berbagai penolakan. Selain itu, Raisa dulu juga sering singgah dari satu cafe ke cafe yang lain, dari satu pensi ke pensi yang lain untuk menyanyi. Tapi sejauh ini, aku belum pernah mendengar informasi kalau Raisa juga menyanyi dari acara sunatan satu ke acara sunatan lainnya.

“Terus, kalo nyanyi di café gitu, Raisa nyanyi solo apa gimana, Kak?”

“Jadi dulu Raisa pernah gabung dengan Adante, band asuhan Kevin Aprilio. Ia juga pernah menjadi backing vocal RAN. Nah, gara-gara itu dia diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang Universal Music – yang sekarang menjadi label tempat dia bernaung.”

Raisa untuk yourraisa Indonesia

Semenjak mengagumi Raisa, aku sudah mencoba untuk ‘selingkuh’ dengan mengagumi penyanyi-penyanyi lainnya. Tapi rupanya, hati nggak bisa ke mana-mana. Tetap aja balik lagi ke Raisa. Suaranya seperti menjadi sihir yang mampu mengalihkan dunia.

Diam-diam, sekarang gantian Hesti yang menonton televisi lebih dekat. Dua kali aku memanggilnya pelan, tapi tak digubris sama sekali. Betul kan, tebakanku, bahwa Raisa itu layaknya sihir. Ia menjadi semacam candu. Bahkan ketika sedang tak menyanyi seperti saat ini.

“Lihat TV itu jangan deket-deket!” aku membalikkan lagi teguran yang tadi Hesti lontarkan. Hesti diam, dan matanya terus berbinar menatap layar kaca.

“Cieee… yang sekarang udah mulai ngefans.” Aku menyibakkan telapak tangan ke depan mukanya. Hesti tak bergeming, matanya tak berkedip. Disertai gelak tawa penuh kepuasan karena merasa berhasil ‘meracuni’ Hesti, aku pun bertanya,

“Kamu lagi fokus ngelihatin siapa, Hes?”

“Deddy Corbuzier.”

“….”