Sukri dengan ‘keinginan’ vs Bu Darmi bersama ‘kebutuhan’ dan pentingnya hidup sederhana.

Sebut saja namanya Sukri. Sarjana yang belum lama lulus dan langsung mendapatkan pekerjaan mapan dengan gaji tiga kali lipat lebih tinggi dibanding teman-teman sebayanya. Adalah hal wajar bagi Sukri, yang selama menempuh pendidikan selalu mendapat nilai rapor dan IPK tinggi.

Tidak perlu bertanya pekerjaannya apa. Wovger cukup percaya saja kalau gaji Sukri betul-betul tinggi. Meski sebenarnya belum pernah ia menerima gaji, namun perusahaannya yang bonafide membuat Sukri percaya saja dengan jumlah gaji yang ditawarkan sewaktu menandatangani kontrak 25 hari yang lalu.

“Assalamu’alaykum. Buk aku pulang,” teriak Sukri dari ruang tamu. Dilihat dari raut mukanya, ia tampak letih. Namun itu semua terbayar oleh senyum ibundanya yang bersahaja.

“Wa’alaykumussalam. Sukri, anakku sudah pulang. Gimana pekerjaan hari ini, lancar?”

“Alhamdulillah, buk. Sukri ada kabar gembira.” Ibunya yang berjalan ke arah kulkas, membalikkan badan dan menaikkan sepasang alisnya, pertanda menanyakan maksud anaknya. “Sebentar lagi Sukri gajian, buk.”

“Alhamdulillah, ibuk jadi ikut senang,” ucapnya dengan penuh senyuman. Beliau mengambil pudding coklat dari kulkas. “Jangan lupa ditabung, kebutuhan semakin meningkat,” nasihatnya, sembari menyodorkan pudding kepada Sukri, lalu duduk bersama berhadap-hadapan.

Sejak suaminya meninggal beberapa tahun silam, bu Darmi hanya ditemani oleh Sukri, anak semata wayangnya. Kalau Sukri sedang pergi bekerja, kesibukannya adalah berjualan di toko kelontong miliknya. Toko yang dulu dirintis bersama suaminya. Toko yang selama ini menghidupi keluarga, dan bahkan mampu mengantarkan Sukri untuk meraih gelar sarjana. Itulah mengapa beliau menasihati Sukri untuk menyimpan saja gajinya, untuk kebutuhannya, karena penghasilan dari toko kelontongnya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kesehariannya.

“Sukri kayaknya mau pake uangnya untuk beli handphone dan laptop deh, buk.”

“Loh, memangnya handphone dan laptop yang ibuk belikan saat kamu masih kuliah itu sudah rusak?”

“Emm… ya enggak sih. Masih bagus kok. Laptop juga nggak seberapa perlu, cuma buat main game, desain dan ngedit video aja. Hehehe. Tapi buk, kan Sukri masih muda, masih umur 23 tahun. Nggak apa-apa, kan, menikmati gaji pertama dari hasil keringat sendiri?” Sukri membenarkan diri.

Agaknya, ekspresi Ibundanya mulai serius. Terlihat dari helaan nafas panjang dan aliasnya yang mulai berkedut.

“Usiamu sekarang memang masih muda. Tidak ada salahnya juga kalo kamu memilih untuk menikmati hidup. Tapi mbok ya sewajarnya. Justru karena masih muda, nabunglah sebanyak-banyaknya untuk masa depanmu nanti.”

Cara mudah menabung untuk mempersiapkan masa depan dan membeli rumah

Sukri hanya menunduk, menatap lantai lekat-lekat. Biasanya, Sukri memang selalu begini: menelan nasihat ibunya dengan perasaan dongkol, namun diam-diam menurutinya. Entahlah kalau untuk yang satu ini.

“Itu bukan kebutuhanmu, Nak. Itu cuma keinginan. Bedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Lagian, tanpa handphone baru kamu masih tetep bisa mendapat manfaat utama dari menggunakan handphone yang lama, kan? Tanpa ganti laptop, kerjaanmu masih bisa beres dengan memakai laptop yang lama, kan?”

Wants versus Needs table on a blackboard

Sukri memotong-motong pudding menggunakan sendok. Dilihat dari caranya memotong, jelas sekali kalau ia malas mendengarkan nasihat ibundanya. Pudding yang sudah dicacah-cacah itu tak juga ia taruh ke sendok untuk kemudian disurukkan ke dalam mulutnya. Hanya dicabik-cabik hingga bentuk cabikannya kecil-kecil tak menentu.

“Ibuk itu pingin kamu ngatur uang dengan betul. Hiduplah sesederhana mungkin, meskipun sekarang kamu bekerja di perusahaan bonafide dan bergaji tinggi.”

Ridwan Kamil dan keluarga hidup sederhana

Tangan Sukri mengepal, seperti sudah tak tahan mendengar nasihat ibundanya. Diambillah pisau yang sedang meringkuk di sebelahnya. Tepatnya, di atas keranjang buah. Kemudian ia gunakan untuk mencacah-cacah pudding secara lebih keji.

Ibundanya hanya bisa tertawa tanpa suara, melihat anaknya menganiaya pudding penuh kegeraman. Lucu. Tingkah Sukri, sama seperti almarhum bapaknya. Jarang membantah nasihat dengan keras – atau kalaupun menjawab lebih suka dengan menawarkan jalan tengah, namun pelampiasannya lebih diarahkan untuk mendisfungsikan benda mati. Almarhum bapaknya dulu malah suka memecah gelas dan piring setiap kali diberi nasihat. Lalu, telanjang dada dan mengguling-gulingkan badan di atas pecahan-pecahannya. Maklum, dulu waktu luang almarhum bapaknya lebih banyak dihabiskan untuk bermain debus.

Ibundanya meraih remote, lalu menyalakan televisi. Mengganti-ganti channel yang ternyata semua tombol channel yang kepencet kebetulan sedang kompak menayangkan iklan.

“Ibuk mau ke kamar mandi dulu,” kata beliau. Ditinggallah televisi tersebut dalam keadaan menyala.

Sukri tak menjawab. Dadanya masih sesak dipenuhi kekesalan lantaran wejangan bernada pertentangan. Begitulah laki-laki, tak pernah mau mendengarkan nasihat kecuali mereka sendiri yang meminta.

Iklan pun berakhir. Televisi sore itu sedang menayangkan berita. Isinya tentang karyawan-karyawan yang demo gara-gara menjadi korban PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), bukan PHP (Pemberi Harapan Palsu). Mereka menuntut perusahaan untuk kembali mempekerjakan mereka, dan melakukan protes terhadap pemerintah agar memperhatikan nasib mereka. Agak aneh memang, tuntutan mereka terhadap perusahaan. Karena perusahaan yang bersangkutan bangkrut dan memutuskan untuk menutup semua cabang perusahaan mereka yang ada di Indonesia.

Sukri menghentikan cabikannya terhadap pudding yang koyak. Pandangan matanya beralih ke layar kaca. Berita itu diikuti oleh berita tentang perusahaan-perusahaan lain yang melakukan hal serupa. Informasi sekelebat ini membuat Sukri memikirkan ulang tentang napsunya membelanjakan ‘keinginan’ terhadap gaji pertamanya.

Ibundanya keluar dari kamar mandi. Televisi kembali menayangkan iklan. Sukri berdiri, lalu menggeser kursi dan berjalan masuk ke kamar. Ditutuplah pintu kamar, dan dikunci hingga terdengar suara cekrek dua kali. Bu Darmi hanya mendiamkannya.

***

Beberapa hari kemudian…

 

“Buk, ini.” Sukri menyodorkan buku tabungan. Semburat senyum mengembang di wajah Bu Darmi.

“Kamu nabung?”

Sukri hanya mengangguk antusias, tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Sadar secepat ini? Alasannya kenapa?” tanya Bu Darmi penasaran.

“Ibuk, masih ingat, aku dulu pingin buka kedai kopi di sebelah wartegnya Pak lek?”

“Iya, masih. Terus?”

“Nah, daripada untuk membeli ‘keinginan’ yang padahal Sukri nggak butuh-butuh amat, mending gajinya Sukri tabung untuk meraih rencana atau cita-cita yang belum terlaksana.”

Tips Meraih Impian dan Cita-Cita

Bu Darmi tertawa haru. Mereka pun berpelukan. Bahagia sekali rasanya, punya anak yang bisa diajak berkompromi untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar.

“Sebentar, ibuk ada sesuatu buat kamu.”

Bu Darmi berjalan menuju kulkas untuk mengambil sesuatu.

“Ini ibuk bikinkan pudding coklat lagi buat kamu.” Kening Sukri berkerut, seperti ingin bertanya, namun segera disambar oleh ibundanya.

“Tenang, kamu nggak perlu susah-susah mencacah pudding-nya. Tadi udah ibu cabik-cabik sendiri pake sendok dan pisau. Seru juga rupanya. Hahaha.”