Jaket berwarna coklat-hitam dan tour guide Lawang Sewu bernama Saptohadi.

“Tok… tok… tok…” Suara ketukan pintu membuat Ferdi bangun dari tidur dan terburu membuka pintu. Iya bentar, begitulah teriaknya sejak dari kamar hingga menuju ruang depan. Ia berjalan agak cepat bagai kebelet buang hajat, hingga bakiaknya terdengar jelas berdekak-dekak di lantai.

“Sayang, selamat ulang tahun.” Hesti memberi kado lalu memeluknya erat. Belum sempat membuka kadonya, Hesti menutup kedua mata Ferdi menggunakan sehelai kain. Ia terkejut, namun bahagia. Ikut aja ya, aku ada kejutan buat kamu. Begitu Hesti merayu.

“Tapi aku belum mandi sama sekali.” Hesti tak peduli dengan rengekan Ferdi. Tangan lembutnya membantu Ferdi untuk naik ke mobil. Di dalam, sudah ada sahabat-sahabat mereka berdua yang juga turut serta ingin memberi kejutan. Mereka adalah Henry, Tyas, Danang dan Mita.

Siang itu Ferdi betul-betul bau, lantaran belum mandi sejak kemarin sore. Ia masih mengenakan kaus merah polos. Untung bau badannya yang menyengat itu ia tutup dengan jaket berwarna coklat-hitam yang telah dipakai saat mau membukakan pintu untuk Hesti tadi siang.

Mereka berangkat dari Jogja siang menjelang sore hari. Menggunakan mobil Henry, plus ia juga didaulat untuk menjadi driver. Karena cuma dia sendiri yang orang asli Semarang.

“Hey, kalian mau ngajakin aku ke mana sih?” tanya Ferdi penasaran. Mereka hanya tertawa dan tak menjawab apapun. Ferdi pun pasrah, ikut saja mau mereka. Pasti bakal seru, batinnya.

Jalanan agak macet hari itu. Padahal ini hari Kamis, yang notabene bukanlah akhir pekan. Menyebabkan mereka tertahan cukup lama ketika sampai di lampu merah Muntilan. Tapi untung mereka bisa dengan cepat melewati kemacetan tersebut.

foto: kisahsibeye.wordpress.com

foto: kisahsibeye.wordpress.com

Sore hari, sesampainya di jalan Raya Pringsurat, mereka memutuskan untuk berhenti di warung makan pinggir jalan. Ferdi ikut turun, tentu dalam keadaan kedua mata masih tertutup kain. Orang-orang yang lalu-lalang tak henti-hentinya menyaksikan, tetapi mereka tetap cuek.

“Kita kira-kira sampai di lokasi jam berapa, Hen?” tanya Hesti.

“Jam-jam Maghrib deh kayaknya.” Henry menjawab sembari mengepulkan asap rokok.

“Woy, sebenarnya aku mau dibawa ke mana sih? Penasaran banget sumpah! Awas deh kalo sampe berani nyulik.” Ferdi mengucapkan ini dengan terbahak, mereka pun tetap tak menjawab kecuali lagi-lagi dengan gelak tawa.

Selesai makan, perjalanan berlanjut. Henry baru bisa menyetir mobil dengan perasaan bahagia ketika memasuki jalan tol Bawen – Ungaran. Karena di sini sudah pasti bebas macet, tak seperti jalan-jalan yang tadi mereka lewati.

Alasan mengapa Hesti mengajak Ferdi ke Semarang ialah karena ada satu tempat wisata di Semarang yang dari dulu pengin banget mereka berdua kunjungi, tapi belum pernah sempat. Maka sekaranglah saatnya.

“Kita hampir sampaiiiii…” teriak Hesti ketika mobil tengah melintasi simpang lima. Betul prediksi Henry, mereka tiba di lokasi tepat setelah adzan Maghrib berkumandang. Mobil pun diparkir, dan mereka semua menuntun Ferdi untuk berjalan

“1… 2… 3… Taraaaaaaa….” Teriak mereka bersama-sama sembari membuka penutup mata.

“Selamat datang di Lawang Sewu, Sayaaang.” Hesti tersenyum bahagia, merasa puas bahwa rencananya untuk memberi kejutan telah berhasil. Sudah lama Ferdi mengagumi bangunan karya Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag tersebut.

Ferdi tertawa bahagia dan kembali memeluk Hesti. Sebenarnya, sejak penutup matanya dibuka barusan, Ferdi masih belum jelas dalam melihat. Hal itu tampak dari ia yang masih saja sibuk mengucek-ngucek matanya.

Biaya masuk untuk dewasa, per orang Rp. 10.000,-. Lalu untuk anak-anak atau pelajar, separuhnya. Demikian kata petugas bagian tiket.

foto: adinugrosh.wordpress.com

foto: adinugrosh.wordpress.com

Selesai mengucek mata, pandangan Ferdi mengarah ke bangunan pompa air di dekat gerbang masuk. Di dekat bangunan tersebut, tiba-tiba ia melihat bayangan putih berlari. Matanya terus mengikuti, sampai akhirnya bayangan putih itu hilang setelah menembus tembok. Ferdi diam sejenak seperti tak percaya. Untuk meyakini itu sebagai benar pun ia bahkan tak berani, lantaran pandangannya belum jelas betul.

Guys… barusan kalian lihat sesuatu yang nembus tembok nggak?” Tak ada yang menjawab. Kemudian ia menghadap ke belakang, dan melihat seluruh teman-temannya sedang mengurus pembayaran tiket masuk.

Bulu roma berdiri, dan keringat dingin menjalari sekujur tubuh Ferdi. Ia panik, lalu mengulang pertanyaan barusan.

“Ada-ada aja kamu, Fer. Ngucek matanya kelarin dulu deh!” seloroh Danang.

“Iya tuh, pasti gara-gara ngucek matanya belum beres. Hahaha.” Tyas dan Mita menimpali. Lalu diikuti tawa yang lainnya.

Entah kenapa wisatawan yang datang hari ini sedikit sekali. Tak seperti biasanya yang selalu ramai. Ferdi juga sepakat bahwa tempat wisata manapun pasti selalu ramai. Apalagi Lawang Sewu yang notabene berada di pusat kota. Seharusnya tidak se-sepi ini. Rasa cemas semakin menggelayuti pikiran Ferdi.

Guys, jangan masuk deh,” tahan Ferdi ke teman-temannya. Tapi semua masih sepakat kalau Ferdi tadi salah lihat. Mereka pun tetap memantapkan hati melangkahkan kaki untuk masuk. Ferdi yang tadinya agak berat pun akhirnya bersedia juga setelah tangannya ditarik paksa oleh Hesti.

Tampak luar, terlihat sekali kalau bangunan bergaya art deco ini mengadopsi gaya arsitektur Belanda yang khas. Terdapat dua lantai dan dua sayap bangunan yang membentang ke kanan dan ke kiri. Bangunan ini juga dilengkapi dengan Ballroom, Gedung serbaguna, ruang makan hingga gedung pertunjukan.

Mereka tak henti-hentinya mendongakkan kepala melihat bangunan peninggalan Belanda ini dengan penuh decak kagum, kecuali Henry yang memang putra daerah dan tentunya sudah berulang kali ke sini. Terlihat jelas lorong-lorong panjang yang dipenuhi pintu dan jendela-jendela kayu di kanan-kirinya.

foto: indahwisataku.blogspot.com

foto: indahwisataku.blogspot.com

“Permisi, maaf, saya tour guide yang ditugaskan untuk mendampingi.” Seorang laki-laki berkulit sawo matang dengan badan tinggi-besar menghentikan langkah mereka. Saptohadi, begitu nama yang tertera di tanda pengenal yang ia jepit di dada kanannya. Henry melipat muka, seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Menolak tawaran tour guide itu, mungkin. Namun terlambat karena Danang tanpa pikir panjang langsung mengiyakannya. Lagian, mereka tak dipungut biaya tambahan untuk jasa tour guide. Jadilah jumlah rombongan menjadi 7 orang.

“Oh tidak, itu hanya kiasan saja. Karena jumlah lubang pintu sebenarnya cuma 429 buah, dengan daun pintu lebih dari 1.200 buah. Sebagian pintu dengan 2 daun pintu, dan sebagian menggunakan 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun atau engsel, ditambah dengan 2 daun pintu lagi jenis sliding door/pintu geser,” jawab Pak Saptohadi ketika Mita bertanya, apakah lawang sewu yang berarti pintu seribu itu benar-benar jumlah pintu dari bangunan ini?

Saat melanjutkan perjalanan, mendadak seperti ada yang mengganggu di telinga Ferdi. Semakin lama, semakin terdengar jelas. Kemudian ia baru paham bahwa itu suara derap sepatu tentara. Saat menoleh ke belakang, ia tak mendapati apapun. Ferdi tetap melangkahkan kaki, meski penuh kecemasan.

“Arrrrggggh… Arrrrggggh… Arrrrggggh…” Kali ini yang terdengar ialah suara teriakan histeris beberapa wanita. Bulu kuduk Ferdi kembali berdiri tegak, disertai keringat dingin yang deras mengucur layaknya hujan.

“Sayang, kamu denger suara barusan, nggak?” bisiknya pada Hesti.

“Suara apaan deh? Enggak ah!” Hesti menoleh sebentar.

“Suara teriakan noni-noni Belanda minta tolong.” Hesti geleng-geleng cuek, lalu kembali menyimak penjelasan Pak Saptohadi.

Semakin lama suara itu makin mendekat. Bahkan, kali ini tepat di belakangnya. Ferdi melihat wajah-wajah rombongannya yang sepertinya tak ada satu pun yang mendengarnya. Ada apa sih sebetulnya di belakangku? Batin Ferdi. Ia pun mengumpulkan keberanian untuk menoleh, dan sesaat, suara teriakan noni-noni Belanda minta tolong itu lenyap. Kemudian, timbul lagi saat Ferdi membalik pandangan.

“Bangunan Lawang Sewu ini dibangun pada 27 Februari 1904 sampai pada 01 Juli 1907. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa kecuali batu bata, batu alam dan kayu jati. Sebelum bernama Lawang Sewu, bangunan ini merupakan kantor pusat NIS, atau kalau istilah Belandanya: Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij.” Konsentrasi Ferdi hanya lima persen saja saat Pak Saptohadi menjelaskan tentang sejarah gedung ini. Selebihnya, menanti-nanti suara noni-noni itu muncul kembali.

Semakin ditunggu rupanya malah tak kunjung muncul. Hal ini justru membuatnya ketagihan. Saat yang lainnya dengan takzim menyimak penjelasan, Ferdi nekat menoleh sejenak ke belakang, lalu dilihatnya noni Belanda dengan rambut panjang terurai dan berbusana long dress warna putih yang tengah mondar-mandir.

foto: kapanlagi.com

foto: kapanlagi.com

“Aaaaaak!!!” Ferdi teriak keras sekali, membuat rombongannya dan rombongan-rombongan lain yang berjalan di sekitarnya menoleh ke arahnya dan bertanya kenapa.

“SUMPAH, AKU LIHAT SENDIRI!!!” kata Ferdi menjelaskan, dengan napas yang memburu. Hesti mengelap keringat yang mengucur tiada henti di muka kekasihnya itu.

Guys, beneran deh, ayo kita pulang.” Napas Ferdi masih terengah-engah. Teman-temannya berusaha menenangkan. Kamu pasti tadi belum beres mengucek matanya, begitu lagi kata Tyas. Lainnya mengamini ucapan Tyas. Sementara Henry lagi-lagi hanya melipat muka, seperti mempercayai ucapan Ferdi, namun lagi-lagi ia tak mengungkapkannya.

Teman-temannya sama sekali belum ada yang bersedia pulang sekarang. “Nanggung, jauh-jauh dari Jogja kok cuma sebentar,” seloroh Mita. Terpaksa Ferdi harus mengikuti pendapat suara terbanyak.

Perjalanan mereka selanjutnya ialah ke ruang bawah tanah.

Sesampainya di bawah, mereka disuguhi pemandangan berupa 16 kolam di setiap ruangan: delapan ruangan bagian kanan dan delapan ruangan bagian kiri.

“Selain dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembantaian tentara Belanda, tempat ini juga pernah digunakan oleh tentara Jepang untuk menyiksa beberapa noni Belanda.” Saat Pak Saptohadi menjelaskan bagian ini, Ferdi tersentak. Lalu merasa harus menjelaskan apa yang tadi ia rasakan, dan menginginkan validasi jawaban yang membenarkan ucapan Ferdi. Beliau hanya tersenyum, dan mengaku kalau secara pribadi tak pernah menemukan beragam hal mistis di gedung ini seperti yang banyak orang ceritakan serta beberapa website tuliskan. Teman-teman lainnya pun semakin tak mempercayai Ferdi.

foto: s1180.photobucket.com

foto: s1180.photobucket.com

“Penjara ini pada masanya dulu sering disebut sebagai penjara jongkok. Lima sampai sembilan orang pernah dimasukan dalam kotak ini.” Pak Saptohadi menunjuk ke kotak berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi sekitar 60 cm.

“Mereka disuruh jongkok berdesakan, kemudian kolam tersebut diisi air hingga setinggi leher, dan kolam tersebut ditutup teralis besi sampai mereka semua mati.” Semua pun merinding. “Tapi kalau sejauh ini, sekali lagi, saya belum pernah menemui hal-hal aneh di sini,” ulang Pak Saptohadi. Mereka pun tenang kembali.

***

Ruang bawah tanah ini adalah akhir dari rangkaian perjalanan mereka mengelilingi Lawang Sewu.

“Foto bareng yuk, buat kenang-kenangan,” kata Danang. Semua setuju. Pak Saptohadi yang semula tour guide, secara mendadak beralih menjadi juru foto bagi mereka.

Gaya demi gaya kekinian dalam berfoto mereka kerahkan. Entah demi kenang-kenangan atau kebutuhan pencitraan, agaknya dua hal tersebut berbeda tipis di era-era sekarang ini.

“Aduh, gerah. Sebentar.” Ferdi melepas jaket.

“Pak, nitip jaket sebentar ya. Hehehe.” Pak Saptohadi menyorongkan jempol tanda setuju, lalu meraih jaket milik Ferdi, dan kembali menjadi juru foto dadakan.

Baru saja Ferdi berbahagia lantaran bisa sedikit melupakan hal-hal yang tadi ia temui, tiba-tiba hidungnya mencium wangi kemenyan serta bau anyir darah yang membusuk.

Kepalanya pusing, dan perutnya mual. Ketika menatap penjara jongkok, ia melihat ada 6 orang dijejalkan ke dalam kotak tersebut dan berdesakan, lalu kotak tersebut diisi air seleher dan ditutup dengan teralis besi sampai mereka mati. Persis seperti cerita Pak Saptohadi tadi.

Selain itu, ia juga kembali mendengarkan teriakan noni-noni Belanda berlari dan teriak seperti meminta pertolongan. Ferdi benar-benar tak kuat dan ia pun jatuh pingsan.

***

Pagi hari Ferdi membuka mata. Lamat-lamat ia melihat di depan matanya ada kekasihnya, Hesti.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” Hesti mengulungkan kado. Ferdi berusaha mengumpulkan kesadaran. Setelah memegang kado, ia tampak bingung: sepertinya kemarin ia sudah menerima kado dari Hesti.

“Kado? Enggak, kemarin aku nggak ngasih kado. Kamu kan ulang tahunnya hari ini, Sayang?” Hesti menjawab sembari menunjuk tanggal pada kalender.

Thank you, honey,” ucap Ferdi yang sebetulnya tak mau berpikir panjang soal kado dan kesalahannya gagal mengingat tanggal ulang tahunnya sendiri.

“Semalem pulang jam berapa?” tanya Ferdi lagi.

“Pulang? Emang semalem kita ke mana?”

“Lawang Sewu, kan? Bareng Henry, Tyas, Danang dan Mita?”

“Apaan sih? Enggak ah. Mimpi kamu kali jangan-jangan. Semalem kan kamu tidur cepet, katanya malam sebelumnya nggak bisa tidur.”

Ferdi semakin dibuat bingung dengan ini semua. Ia melihat kausnya, masih berwarna merah polos seperti yang semalam ia kenakan.

Smartphone berbunyi, ada panggilan masuk: Henry.

“Selamat ulang tahun, Bro. Sori ya, nggak bisa ngucapin langsung, soalnya aku lagi di Semarang. Oh ya, semoga panjang umur dan makin sukses!” tanpa menjawab, Ferdi langsung balik bertanya,

“Hen, semalem kita pulang jam berapa?” Henry pun sama bingungnya dengan Hesti, tak mengerti dengan pertanyaan Ferdi tentang semalam pulang jam berapa, karena mereka merasa tak ke mana-mana.

Ferdi tampak belum bisa menerima jawaban dari kekasih dan sahabatnya itu, bahwa faktanya semalam mereka nggak pergi ke mana pun. Demi menenangkan kekasihnya yang tengah gusar terbawa mimpi, Hesti mengajaknya untuk nonton ke bioskop. Ferdi mengiyakan. Ah, pasti ini cuma mimpi, pikirnya kemudian.

Setelah mandi dan berganti baju, ia mencari-cari jaket warna coklat-hitam kesayangannya. Seluruh isi lemari dia obrak-abrik, namun tak kunjung ketemu.

“Tok… tok… tok…” Suara ketukan pintu membuat Ferdi menghentikan pencariannya dan terburu keluar kamar untuk membuka pintu.

“Ini Pak, ada kiriman paket,” kata pegawai ekspedisi tersebut. Ferdi tersentak saat membaca nama pengirim:

“Saptohadi.”

“Alamat: Komplek Tugu Muda, Jalan Pemuda, Jawa Tengah 13220, Indonesia.”

foto: panoramio.com

foto: panoramio.com

Cepat-cepat ia membuka paket itu, dan seperti yang ia duga: isinya adalah jaket coklat-hitam kesayangannya. Jaket yang sewaktu foto bareng semalam, ia titipkan kepada Pak Saptohadi gara-gara kegerahan di ruang bawah tanah.

“Siapa, Sayang?” tanya Hesti dari dapur.

Tanpa menjawab, Ferdi meraih smartphone-nya, membuka image gallery. Tak satu pun ia menemukan foto yang membuktikan bahwa semalam ia berada di Lawang Sewu.

“Sayang, pinjem hp kamu bentar. Please!” Jidat Hesti mengkerut, seperti ingin bertanya namun tampaknya akan membuang waktu. Akhirnya, Hesti langsung memberikannya.

Ferdi juga tak menemukan satu foto pun yang membuktikan bahwa semalam ia dan teman-temannya pergi ke Lawang Sewu. Padahal, banyak foto yang semalam diambil menggunakan smartphone miliknya dan milik Hesti.

Ferdi langsung menelpon balik Henry. Bertanya banyak hal mengenai Lawang Sewu. Ferdi bahkan hafal detil-detil kecil yang ada di Lawang Sewu, seperti adanya mozaik kaca patri warna-warni yang merupakan daya tarik Lawang Sewu, adanya kali kecil bernama Kali Garang di sebelah gedung yang dahulu untuk membuang seluruh mayat, hingga cerita tentang noni-noni Belanda. Tetapi cuma satu hal yang Ferdi belum tahu:

“Untuk menggunakan jasa tour guide, pengunjung harus merogoh kocek tambahan: tiga puluh ribu rupiah.”

Sementara, dalam mimpi Ferdi, ia dan teman-temannya hanya membayar untuk ongkos berkeliling gedung. Tidak ada tambahan untuk tour guide sama sekali.

Penasaran dengan Pak Saptohadi, ia menelpon nomer pihak manajemen Lawang Sewu yang barusan ia peroleh dari internet, dan pihaknya mengabarkan kalau tidak ada tour guide yang bernama Saptohadi. Bahkan, saking kurang puasnya, Ferdi menyuruh Henry untuk menanyakan langsung. Dan hasilnya, nihil.