Hubungan antara terpenuhinya barang-barang unik ini untuk kebutuhan kantor dan meningkatnya produktivitas dalam bekerja.

Sebuah perusahaan media bernama Wovgo, akhir-akhir ini berada dalam kondisi yang begitu menyedihkan: jumlah visitor (pengunjung) website menurun, yang tentunya hal itu berimbas pada minimnya pendapatan yang masuk melalui iklan.

Sebetulnya perusahaan sudah berkali-kali mengalami hal ini. Namun pemimpin perusahaan selalu melakukan pendekatan yang sama untuk menanganinya, sehingga, solusi yang diperoleh pun begitu-begitu saja. Tetapi kali ini pemimpin perusahaan ingin mencoba menangani dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

Jika sedang terjadi masalah, pendekatan yang biasa dilakukan ialah mengumpulkan partner-partner kerja yang memegang posisi penting dan kemudian mengadakan briefing, maka penanganan masalah kali ini berbeda. Beliau melakukan rapat secara tidak formal, namun diharapkan memperoleh hasil optimal.

Dilakukanlah rapat via aplikasi messenger: whatsapp.

Guys…” Agung – pemimpin redaksi – membuka percakapan.

“Ya?”

“Ya? (2)”

“Ya? (3)”

“Ya? (4)”

“Ya? (5)”

“Ya? (6)”

Begitulah cara-cara anak kekinian menjawab, cukup meng-copy jawaban, lalu menggantinya dengan angka. Semacam jawaban idem.

“Oke, jadi begini, kita punya masalah utama: jumlah pengunjung Wovgo menurun. Mungkin ini pangkal utamanya ialah kinerja. Mungkin loh ya. Emm… tapi ketimbang memburu kambing hitam, saya lebih setuju untuk nanya: apa sih yang bisa bikin kalian nyaman bekerja, sehingga bisa produktif?”

Jho sedang di kafe, Indah tengah termangu menunggu mesin cuci yang sedang mengeringkan bajunya, Ulul masih duduk-duduk di kantor, Mukti lagi makan bareng ceweknya, dan Mufid sedang di kebun mencarikan rumput untuk sapinya. Mereka bingung ingin menjawab apa, karena sejauh ini sudah puas dengan segala fasilitas yang ada di kantor.

Indah kemudian mengirim image yang berisi quotes:

“Manusialah yang menciptakan ruang-ruang, penampilan-penampilan dan hal-hal yang kelihatan lainnya. Namun pada saat yang sama, hal-hal itu akan membentuk kepribadian manusia tersebut.”

– Pak Danis, Dosen ITB –

“Hmm… bener juga tuh. So, apa hubungannya dengan bahasan kita sekarang?”

“Jadi ada beberapa hal sih, Pak, yang mempengaruhi produktif atau tidaknya kami,” kata Indah.

“Salah satunya?”

“Sarana dan prasarana penunjang produktivitas.”

“Oh, kantor butuh beli gitu, maksudnya. Apa gimana?”

“Lha iya, Pak.”

“Oke, sebut aja deh, sebut. Indah, untuk menunjang produktivitas, kamu butuh apa?”

“Karena pelupa, saya butuh sticky note roll Pak, untuk mencatat permintaan klien.”

foto: gadgetreview.com

foto: gadgetreview.com

“Oke deh, catet. Jho, kamu pengin apa?”

“Saya pengin jodoh, Pak. Carikan Pak! CARIKAN!!!”

“Maksudnya, permintaan yang bisa bikin kamu produktif di kantor?”

“Oh ya, maap Pak. Ng… nganu… saya pengin cangkir hangat portable Pak. Biar kopi saya bisa selalu dalam keadaan panas.”

foto: id.aliexpress.com

foto: id.aliexpress.com

“Lah, emangnya ngefek: antara ngopi dan produktivitas?”

“Ngefek, lah, Pak. Bapak kan tau sendiri, kalau saya baru bisa mikir dan bersemangat kerja setelah minum kopi.”

“Oh, ya, oke, saya catet! Meskipun kadang-kadang setelah ngopi pun kamu masih belum bisa mikir,” ledek Pak Agung. “Fid, kamu pengin apa?”

“Karena saya orangnya berantakan, beres-beres tempat kerja itu sering membuang waktu Pak. Dampaknya, produktivitas menurun. Jadi saya pengin wadah yang terorganisir dalam satu tempat dan bisa untuk menyimpan apa saja sesuai fungsinya gitu loh, Pak.”

foto: brilio.net

foto: brilio.net

Request diterima. Bungkus! Mas Ulul… Mas Ulul… halo… Mas Ulul butuh apa nih?”

“Oh, halo… halo… iya Pak. Ah, saya mah butuhnya kasih sayang aja, Pak.”

“Oke. Jho, itu Mas Ulul kasih Jho!”

Jho membalas dengan emoji seperti sedang muntah.

“Saya kalau kerja suka ngantuk Pak. Tapi saya lebih suka minum es ketimbang kopi. Duh, gimana ya Pak. Mau minta nggak enak. Emm…”

“Udah, nggak usah malu-malu. Sebut aja. Sebut! Toh, ini juga demi produktivitas kita semua kok.”

“Oke Pak, saya butuh kulkas mini Pak. Soalnya air minum yang saya beli dingin dari minimarket, setelah beberapa jam, langsung hilang kandungan es-nya. Jadinya bikin saya ngantuk kalau kerja.”

foto: indonesian.alibaba.com

foto: indonesian.alibaba.com

“Oke Mas Ulul, oke. Saya wujudkan deh! Tapi untuk kasih sayang, maaf, saya nggak bisa mengabulkan ya!”

Ulul membalas dengan emoji seperti sedang menangis.

“Kayaknya kok ada yang belum usul, siapa ya?”

“SAYA PAK! SAYA!!!”

“Oke Muk, santai… santai… santai… kuberi kamu, satu permintaan!”

“SAYA MAU, INDONESIA BEBAS KORUPSI PAK!!!”

“OKE MUK, AYO KITA BAKAR BAN!!!”

“MARI PAK!!! MERDEKA!!!”

“Kita Wovgo, Muk. Bukan Merdeka.”

“Oh, ya, lupa.”

“Ini kita bahas apa ya?” Indah nongol kembali dalam percakapan.

“Oh, sampe kelupaan. Jadinya butuh apa kamu, Muk?”

“Karena kerjaan saya di kantor sering ng-scan bukti-bukti transaksi untuk laporan, kayaknya ribet deh Pak, kalau saya harus masuk dari ruangan ke ruangan, mengambil berkas, saya scan di ruangan saya, lalu saya balik lagi ke ruangan tersebut.”

“Oke. Jadi, apa yang kamu mau?”

“SAYA MAU, INDONESIA BEBAS KORUPSI PAK!!!”

Hening beberapa saat. Tampaknya mereka semua sedang berusaha menggorok leher masing-masing mendengar jawaban Mukti tersebut.

“Jadi saya butuh scanner portable Pak.”

foto: hammacher.com

foto: hammacher.com

“Bisa diatur. Bisa diatur. Lainnya gimana, ada lagi?”

“Ada Pak. Saya pengin di meja saya ada tanaman succulent gitu. Biar seger-seger gimana pas kerja,” kata Indah.

foto: theinteriorsaddict.com

foto: theinteriorsaddict.com

“Kasih dah! Wah iya, saya baru kepikiran kalau butuh sesuatu…” Agung berseloroh.

“Butuh apa Pak?” Giliran Mufid yang bertanya.

“Kasih sayang!”

“Jhooo… itu Pak Agung minta Jhooo…” teriak Indah.

Lagi-lagi Jho membalas dengan emoji seperti sedang muntah.

“Saya baru sadar kalau ternyata butuh tempat tidur gantung untuk kaki. Biar bisa leha-leha gitu kalau kalian lagi pada kerja.”

foto: id.aliexpress.com

foto: id.aliexpress.com

Ulul, Indah, Mufid, Mukti dan Jho melempari Agung dengan emoji bom.

“Eh, Pak, saya suka kedinginan eh tiap AC  lagi nyala gitu. Beli penghangat buat tangan boleh nggak?” tanya Indah.

foto: id.aliexpress.com

foto: id.aliexpress.com

“Boleh… boleh… boleh… Anything else?”

Semua diam, berpikir sejenak, kemudian jawaban demi jawaban bermunculan.

“Syudaaah…”

“Syudaaah… (2)”

“Syudaaah…(3)”

“Syudaaah…(4)”

“Syudaaah…(5)”

“Syudaaah…(6)”

***

Setelah hari itu, pihak perusahaan langsung mewujudkan apa-apa yang menjadi kebutuhan karyawan agar mereka bisa bekerja secara nyaman dan produktif. Dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi para karyawan untuk menyesuaikan antara kenyamanan yang sudah perusahaan berikan, dengan produktivitas yang harus mereka capai.

Mula-mula, karyawan yang dapat meraih target masih bisa dihitung jari. Perlahan, jumlah ini meningkat. Lambat laun, separuh dari keseluruhan jumlah karyawan perusahaan mulai terbiasa dengan kebiasaan menjadi pribadi yang produktif. Lalu lama-kelamaan ini menjadi semacam standard operasional procedure bagi setiap karyawan, bahwa masing-masing dari mereka sebetulnya bekerja untuk dirinya sendiri, yaitu: untuk menjadi pribadi produktif dengan bekerja secara bahagia. Tak perlu menunggu lama, jumlah visitor (pengunjung) Wovgo pun akhirnya meroket pesat layaknya anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Dan, semua berbahagia!