Maulana: “Belajar dengan rajin merupakan bekerja dalam bentuk yang lain.”

Teman-teman biasa memanggilku Maulana. Itu adalah nama depan dari nama lengkapku: Maulana Agung Sedayu – tolong, Wovger atau teman-teman Wovgo, jangan ditambah “Grup” karena aku tak menjual apartment. Aku bersyukur kepada Tuhan yang menganugerahiku kemudahan untuk menyerap ilmu. Terutama ilmu-ilmu dalam bidang akademik.

Seringnya aku mendapat ranking 1 di kelas hingga sekarang bisa kuliah gratis melalui jalur bidik misi, membuat beberapa teman menyangka bahwa kecemerlangan ini bawaan lahir, padahal tidak. Mereka tak tahu apa yang aku lakukan sehari-hari untuk meraih ini semua.

Dari sinilah semua cerita ini bermula…

Aku hidup bersama seorang ibu dan seorang adik laki-laki. Untuk menyambung hidup, sehari-hari ibuku bekerja sebagai buruh laundry di tempat persewaan dekorasi dengan imbalan 20 ribu rupiah per hari. Tentu setiap hari kami bertiga harus rajin-rajin mengencangkan ikat pinggang agar semua kebutuhan dapat tercukupi dengan baik.

Aku punya Pak Dhe seorang pengusaha sukses di berbagai bidang seperti toko textile, toko helm, punya media yang rutin menerbitkan tabloid, memiliki TK, PAUD, Pondok Pesantren, usaha warnet dan bisnis-bisnis lainnya yang bahkan aku sampai tak hafal. Setiap bulan, perusahaannya selalu menyisihkan keuntungan yang diperoleh untuk diberikan kepada anak-anak berprestasi dan kurang mampu, atau istilahnya: beasiswa. Sekali lagi, hanya bagi siswa berprestasi dan kurang mampu. Dua hal ini (sukses dalam berbisnis dan memiliki gerakan sosial) membuat Pak Dheku bahkan pernah diundang dalam acara Kick Andy.

Merasa bahwa aku tak bisa banyak berharap dengan kondisi ekonomi yang mencekik ini, aku berusaha mati-matian untuk giat belajar demi mendapat beasiswa yang rutin diberikan oleh perusahaan Pak Dheku setiap bulan, serta beasiswa yang kadang diberikan oleh pemerintah melalui sekolah. Cuma ini cara yang aku tahu agar bisa terus bersekolah.

Maulana Agung Sedayu Grup - Mahasiswa Berprestasi Indonesia

Berangkat dari pemikiran itu, aku mulai memaksa diri untuk belajar dengan rutin. Bahkan, tak jarang aku menghabiskan malam demi malam untuk lembur mengerjakan PR dan tugas. Tanpa terasa, sekumpulan paksaan positif yang aku ulang setiap hari tersebut telah membentuk kebiasaan dan kepribadianku. Semua itu aku lakukan, semata agar prestasiku terus menanjak dan layak untuk masuk dalam daftar penerima beasiswa.

Terkadang, aku merasa kalah gigih dengan mereka-mereka yang bahkan bisa menempuh pendidikan sembari bekerja. Merasa iri dengan mereka-mereka yang mampu membiayai sendiri pendidikan dan kebutuhan hidupnya. Namun, lambat laun aku mulai bisa berdamai kepada diri sendiri dengan menganggap bahwa belajar rajin ini merupakan bekerja dalam bentuk yang lain. Pekerjaan intelektual yang sama-sama menghasilkan uang meski bentuknya berbeda: mereka mendapatkan uang sebagai hasil kerja, sementara aku memperoleh uang dalam bentuk beasiswa.

Hasilnya? Sejak MTs (setara SMP) aku langganan mendapat ranking pertama. Imbasnya, aku tak pernah minta uang saku maupun SPP sepeser pun ke ibu lantaran selalu bisa memperoleh beasiswa. Dan, kebiasaan tak pernah minta uang saku serta uang SPP ini berlangsung hingga hari ini.

Lulus SMA adalah masa paling galau bagiku. Aku bingung: ingin bekerja tapi tak punya keterampilan, mau kuliah namun tak ada biaya. Saat itu pilihan paling logis bagiku adalah bekerja. Apapun pekerjaannya. Meski sebetulnya pada saat yang sama pihak sekolah juga mendaftarkan aku untuk kuliah melalui jalur bidik misi. Tapi aku tak banyak berharap. Bukan karena pesimis dengan prestasiku selama ini. Melainkan, mencoba bersikap realistis dengan saingan peserta bidik misi yang datang dari seluruh penjuru negeri. Sementara, kuota yang diambil tak seberapa.

Singkat cerita, sembari mengisi waktu luang aku bekerja di warnet milik Pak Dheku. Seharian menjaga warnet membuatku memiliki akses internet penuh. Waktu demi waktu banyak aku habiskan untuk bersosial media dan baca-baca artikel di beberapa situs. Hingga tiba-tiba pikiranku iseng pengin membuka informasi pengumuman bidik misi. Dan, tanpa dinyana, aku diterima, Wovger. Ya: D-I-T-E-R-I-M-A.

Maulana Agung Sedayu Grup - Mahasiswa Berprestasi Indonesia Raya

Sesaat itu aku tersenyum, menatap langit-langit, melihat bilik-bilik dan orang-orang yang lalu-lalang keluar-masuk warnet. Aku ingin tertawa bahagia, tapi juga seperti ingin menangis. Sekali lagi, aku menatap layar komputer. Aku bahkan sampai mengeja namaku, memastikan bahwa salah satu calon mahasiswa yang lolos melalui jalur bidik misi itu benar-benar aku: Maulana Agung Sedayu.

Aku sujud syukur. Cepat-cepat aku mengabarkan berita bahagia ini kepada ibu dan adikku, sembari memeluk mereka erat-erat.

Kini aku tercatat sebagai mahasiswa S1 semester delapan di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan. Kalau dipikir-pikir, selama ini pendidikanku sangat bergantung dari berbagai beasiswa. Oh ya, sekarang aku sedang mengerjakan skripsi. Juga, tengah mempersiapkan diri untuk memperoleh beasiswa bidik misi S2 pada jurusan yang sama: Teknik Sipil.

Aku punya cita-cita ingin berkuliah sampai S3 dan menjadi dosen agar ilmu yang aku peroleh bisa tersalurkan serta bermanfaat bagi orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Selain itu, aku juga bercita-cita ingin menjadi pengusaha semuda mungkin, seperti Pak Dheku. Sejak sekarang, aku sudah mulai memikirkan tentang bidang usaha yang ingin aku buka. Bidang usaha ini berkaitan erat dengan disiplin ilmu yang aku pelajari di kampus. Kelak, aku juga ingin memberikan beasiswa kepada mereka-mereka yang berprestasi namun kurang mampu. Selain itu, melalui bidang usaha yang ingin aku bangun, aku juga ingin menampung lulusan-lulusan dari kampusku yang belum mendapat pekerjaan, agar ilmu-ilmu yang mereka miliki bisa bermanfaat.

Bagi Wovger yang sekarang sedang membaca ini, dan didera oleh keadaan ekonomi yang menghimpit sepertiku, saranku:

“Belajarlah dengan gigih. Jangan hanya sekali atau dua kali, apalagi cuma belajar menjelang ujian. Tetapi belajarlah dengan sungguh-sungguh hingga ilmu tersebut betul-betul merasuk ke dalam pikiran, dan yang tak kalah penting juga dipraktikkan. Banyak beasiswa yang disediakan oleh pemerintah maupun perusahaan, selama kita jeli mencari. Jadilah pribadi yang mandiri, tidak bergantung kepada orangtua. Beranilah bermimpi. Kejarlah cita-cita setinggi langit, dan jangan pernah patah arang dengan apapun kondisi yang menimpa. Percayalah, DIA Yang Maha Kaya akan terus menyertai langkah mereka yang sungguh-sungguh dalam berdoa dan berusaha.”

Pada usia tertentu nanti ketika karir dan usahaku telah berjalan dengan baik, aku ingin menghabiskan sisa umurku untuk mengabdi kepada masyarakat. Membuat program-program serta beragam solusi yang berguna untuk membantu masyarakat. Mohon doanya, ya. Semoga mimpiku, mimpimu dan mimpi-mimpi kita semua bisa terwujud. Aamiin. 🙂