Irwan: “Aku selalu percaya bahwa doa, usaha, keyakinan dan ketekunan tidak akan pernah berkhianat.”

Aku orang Cipanas puncak, dan sekarang sedang tinggal di Bandung. Aku orang Sunda. Tetapi bukan Sunda Kelapa, apalagi Sunda Plafon. Sunda aja. Tepatnya: orang Sunda kelahiran Cipanas yang sekarang sedang tinggal di Bandung.

Sekarang, aku bekerja sebagai Marketing Officer di sebuah perusahaan. Oh ya, hampir lupa. Perkenalkan, namaku: Irwan Saputra. Anak ke empat dari enam bersaudara (kakak: Indra Gunawan, Andri Hermawan dan Lusi + adik: Darmawan dan Rina) yang gila membaca, mengidolakan Adrian Maulana, dan sekarang sedang mempersiapkan diri untuk mengejar beasiswa S2.

Untuk mewujudkan rencanaku, sembari bekerja, sekarang aku sedang getol belajar TOEFL. Karena menurutku, dari beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon penerima beasiswa, TOEFL adalah salah satu syarat yang menurutku cukup berat. Anak Sastra Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris saja banyak yang terseok-seok mengejar skor TOEFL yang ditentukan. Apalagi aku yang notabene bukan Sarjana dari Sastra Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris.

Tapi bagiku, selama masih bisa bergerak di wilayah kewenangan manusia, aku akan terus memperjuangkannya.

Bukankah wilayah kewenangan manusia itu hanya berdoa sepenuh hati dan berusaha sekuat tenaga? Bukankah hasil itu merupakan kewenangan Tuhan? Jadi, ya, aku tak mau memusingkan diri dengan apapun hasilnya, karena itu bukan kewenanganku. Satu hal yang aku tahu adalah: aku harus terus meminta kepada Tuhan. Gawat sekali kalau hidup ini tak pernah melibatkan Tuhan dan hanya selalu percaya dengan usaha pribadi.

Meski aku Sarjana di bidang komputer, tetapi aku ingin melanjutkan pendidikan S2 di jurusan yang berhubungan dengan komunikasi atau jurnalistik. Alasannya sederhana: aku suka ilmu komunikasi gara-gara sejak dulu suka jadi MC, dan aku suka jurnalistik lantaran suka dengan dunia baca-tulis. Kocak sekali ya, alasannya. Aku yakin, Wovger sekalian yang kuliah di jurusan komunikasi atau jurusan jurnalistik pasti sedang menertawakan alasanku. Ah, tapi tak apa-apa. Dulu, aku ingin kuliah di jurusan komputer juga hanya karena alasan sederhana: pengin bisa ngetik lancar di Microsoft Word. Namun setelah kuliah, eh, malah dapat lebih.

Anak-anak dari kedua orangtuaku memiliki bermacam-macam profesi. Ada yang jadi Arsitek, Guru, Dokter Gigi, lalu adikku yang pertama masih belajar di Universitas Islam Indonesia serta adikku yang kedua belajar di Ummul Quro Al Islami. Dan aku sendiri, sekarang bekerja seperti yang sudah aku bilang di atas tadi. Karena kesibukan masing-masing, kami hanya selalu bisa berkumpul saat lebaran tiba atau acara-acara penting tertentu. Suatu hari, seorang kakakku tiba-tiba nyeletuk:

“Kita bikin yayasan yuk!”

Awalnya, aku menanggapi dengan sambil lalu. Tapi semakin hari, kalimat ajakan dari kakakku itu selalu terngiang-ngiang di kepala. Terutama saat melintas di jalanan dan melihat anak-anak yang mengamen dan malah tidak sekolah. Kelak, ketika pembahasan tentang ‘bikin yayasan’ ini kembali digaungkan, usulanku adalah: membuat yayasan yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak di jalanan dan mereka-mereka yang kurang mampu.

Irwan Khairy BEM STMIK Amikom Yogyakarta Bersama Keluarga

Eh, ya, baru kepikiran. Selain gagasan membuat yayasan, juga ada saran untuk membangun Pondok Pesantren. Itu dilatarbelakangi oleh anak-anak dari kedua orangtua kami yang semuanya alumni Pondok Pesantren.

Entah kenapa, ketika dua ide itu muncul, pikiranku langsung membisiki untuk membuka perusahaan yang memproduksi kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, pembersih wajah dan masih banyak lagi. Lalu, semua produk tersebut dijual ke masyarakat luas. Keuntungannya, untuk membiayai anak-anak jalanan yang ada di yayasan dan santri-santri di Pondok Pesantren.

Hehehe. Lucu ya, kalau membaca-baca mimpiku. Bagi mereka-mereka yang tak hidup dalam mimpiku, pasti lebih memilih untuk menertawakan ketimbang membantu mewujudkan. Bagi orang-orang yang hidup bersama mimpi kami dan sedang berdoa sepenuh hati serta berusaha sekuat tenaga, pasti percaya bahwa suatu hari nanti kami akan mampu mencapainya bagaimanapun caranya. Ya, bagaimanapun caranya.

Bukankah ketika Walt Disney pertama kali mengungkapkan ide tentang ‘Snow White and the Seven Dwarfs’ juga pernah ditertawakan? Sampai akhirnya, saat tanggal 4 Februari 1937 film tersebut diputar di Bioskop Carthay Circle di Amerika Serikat, Walt dan karyanya tersebut mendapat sambutan standing applause dari penonton. Lalu, kenapa aku harus malu dengan mimpiku?

Aku selalu percaya bahwa doa, usaha, keyakinan dan ketekunan tidak akan pernah berkhianat.