Nanda Yuli Rahmawati: “Tak ada yang sia-sia jika kita benar-benar berusaha.”

Hai, namaku Nanda Yuli Rahmawati. Bukan orang terkenal, apalagi seorang artis. Aku jauh dari kesan populer, hanya seorang mahasiswi yang sedang giat-giatnya memperjuangkan beasiswa S2 di salah satu Universitas di Jepang.

Aku adalah alumni Universitas Brawijaya jurusan Biologi. Sebelum masuk jurusan Biologi, aku sempat jatuh hati dengan ilmu kedokteran. Sejak SD, cita-citaku adalah menjadi dokter dan peneliti. Aku bahkan pernah bermimpi ingin menjadi peneliti di lembaga penelitan Indonesia seperti LIPI.

Sering kali aku menanamkan dalam benak, begini:

“Aku harus memajukan riset di Indonesia, khususnya di bidang Nano teknologi dan Imunologi. Selain itu juga menjadi seorang peneliti yang bisa memotivasi banyak orang Indonesia maupun dunia.”

Waktu itu pilihan jurusan awal masuk kuliah adalah Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan yang terakhir: Biologi. Tapi sayang sekali, pilihan pertama yang kuidam-idamkan malah kandas. Takdir membawaku untuk diterima di jurusan Biologi. Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain terus-menerus berpikir positif bahwa aku pun juga bisa sukses, meskipun tak bisa masuk jurusan kedokteran.

Tanpa mengurangi level semangat, aku terus membuktikan bahwa mahasiswa Biologi bisa berprestasi dan mengalahkan anak-anak FK melalui ajang PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yang mulai aku ikuti sejak tahun 2012.

Tahun pertama aku ikut, tapi tak didanai DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi). Tahun kedua ikut lagi, lolos 3 proposal dan didanai DIKTI, tapi tak sampai tingkat PIMNAS. Tahun ketiga lolos pendanaan 2 proposal, tapi yang sampai tingkat PIMNAS hanya 1 proposal. Dan akhirnya, juara!

Tak ada yang sia-sia jika kita benar-benar berusaha.

Ya, penelitianku tentang Nano Teknologi mendapat juara. Mengharumkan nama Universitas, jurusan, teman-temanku dan yang paling penting adalah orangtua. Alhamdulillah, sejauh ini orangtua selalu support dengan ambisiku untuk menjadi peneliti. Aku juga ingin menginspirasi anak-anak muda untuk terus berkarya melalui karya ilmiah.

Setelah mendapat medali – yang aku dambakan dalam 3 tahun terakhir itu – aku tak berhenti sampai di sini. Karya yang kubangun bersama tim (beranggotakan 3 orang) ini ingin kupatenkan hingga ke luar negeri.

Nanda Yuli Rahmawati Universitas Brawijaya Malang

Maka kuputuskan, aku dan 2 orang temanku mengikuti ajang AsiaNano 2014 di Pulau Jeju, Korea untuk mempublikasikan penelitianku agar diakui di skala nasional maupun internasional. Jangan dikira perjalananku ini semudah membalikkan telapak tangan. Karena aku harus ke sana-ke mari mengumpulkan dana yang tentunya bukan hanya satu atau dua juta, tapi berjuta-juta agar aku bisa berangkat.

Segala cara kami lakukan, mulai dari mencari sponsor, berjualan kosmetik secara online hingga bekerja freelance di bidang perjurnalan dengan tujuan agar jurnal tersebut terpublish dalam tingkat nasional maupun internasional.

Dari situ, aku belajar banyak hal, bahwa untuk mendapatkan segala sesuatu itu ternyata butuh perjuangan. Aku juga memetik falsafah:

“Apapun yang diimpikan, jangan hanya dipikirkan. Tapi dituliskan dan kemudian diwujudkan.”

Aku sesekali menangis di malam hari, karena dana yang kukumpulkan seperti tak pernah cukup. Namun Tuhan seolah tahu apa yang sedang aku perjuangankan. Diluar dugaan, entah bagaimana ceritanya, bantuan pun hadir. Ada kucuran dana mengalir dari beberapa pihak. Seketika semangatku meletup kembali. Dengan senyum mengembang, aku berangkat ke luar negeri untuk pertama kali.

Satu impianku di tahun 2014 pun tercapai: Penelitianku diakui secara internasional. Kebahagiaan ini semakin membuncah tatkala pihak jurusan memberi kabar bahwa aku memperoleh keringanan dari jeratan skripsi, alias tak perlu mengerjakan skripsi. Ini merupakan reward dari kampus karena telah berhasil memenangkan PIMNAS. Bagiku, ini semua berkat doa dan kerja keras tim serta kegigihanku membaca jurnal setiap hari tanpa henti.

Aku masih ingat. Dulu, saat teman-teman pulang kampung, aku memilih berkutat di laboratorium hingga larut malam. Ketika teman sekosanku asik menonton film, aku harus menahan diri untuk tetap konsisten belajar.

Nanda Yuli Rahmawati Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur

Terkadang aku ingin tertawa bahagia atau menangis penuh haru jika mengenang itu semua. Bahkan, setelah itu aku memberanikan diri untuk kembali bermimpi: ingin pergi ke Korea lagi. Kutuliskan impian itu dalam note di laptopku, bahwa tahun 2015 aku harus kembali ke Korea. Setiap hari aku berdoa agar kenangan di Korea terulang lagi dan menjadi nyata.

Pucuk dicinta ulam pun tiba…

Tak butuh waktu lama. Tuhan lagi-lagi mengabulkan doaku untuk kembali ke Korea. Namun misi kali ini bukan untuk publikasi jurnal, melainkan lomba inovasi. Yakni melalui ajang KIWIE (Korea International Woman’s Inhibition Exposition). Dengan menyodorkan produk-produk lokal Indonesia yang dikombinasikan dengan kreativitas, terciptalah 3 produk unggulan yang aku pamerkan: Nugget biji nangka, lampu bamboo dan batu bata tahan gempa.

Lagi-lagi Tuhan berbaik hati padaku, karena selama seminggu di Korea, tim Srikandi Brawijaya University, Indonesia berhasil menyabet medali emas, perak dan perunggu serta penghargaan the best women inventor.

Setelah semua pencapaian ini, tiba-tiba aku bertanya-tanya pada diri sendiri:

“Kenapa dulu Tuhan memasukkan aku ke jurusan Biologi?”

Ternyata inilah jawabannya. Mungkin kalau masuk kedokteran, aku tak bisa secemerlang ketika di jurusan Biologi. Dan yang tak kalah penting: bisa jadi aku tak berkesempatan untuk pergi ke Korea sampai 2 kali.

Nanda Yuli Rahmawati Universitas Brawijaya

Sekarang, ambisiku bukan lagi menjadi dokter. Tapi ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dan menjadi peneliti. Saat ini, aku sedang memperjuangkan beasiswa untuk sekolah S2 di Jepang. Aku tak akan pernah bosan untuk belajar, dan memprioritaskan pendidikan.

Selama berjuang untuk meraih S2 ini pun ada saja godaannya. Salah satunya, aku sempat diterima di salah satu perusahaan kimia dengan gaji yang tinggi. Tapi aku batalkan karena benar-benar ingin fokus sekolah lagi dan berharap bisa menjelajah ke Jepang.

Mungkin Wovger sekalian yang sedang membaca ini akan beranggapan bahwa itu adalah keputusan bodoh. Mengingat susahnya cari kerja dan di luar sana juga masih banyak pengangguran. Bagiku, pekerjaan dengan gaji tinggi tak akan pernah bisa menggantikan kehausanku untuk menggali ilmu.

“Aku lebih tertarik untuk terus-menerus menimba ilmu, mencari pengalaman dan menambah relasi, ketimbang sibuk menumpuk gaji. Karena tujuan hidupku adalah menjadi orang yang menginspirasi.”

Kalau hidup dihabiskan hanya untuk mengejar uang dan uang, aku takut kalau suatu saat menyesal diciptakan sebagai manusia.

Doakan aku ya Wovger, dan teman-teman di Wovgo, agar bisa sekolah S2 di Jepang dan kembali ke Indonesia dengan membawa segudang ilmu yang bisa kubagikan untuk generasi muda.

 

 

– Nanda Yuli Rahmawati –