Dewanto Ardi: “Sebab, yang terpenting bagiku adalah: aku mengerjakan hal yang aku sukai dan berbahagia dalam mengerjakannya.”

Namaku Dewanto Ardi Priasmoro. Oleh teman-teman, aku biasa dipanggil Ardi. Tapi kalau adek mau manggil sayang juga boleh kok. Hehehe.

Aku adalah seorang pengusaha. Yah, walaupun belum cukup sukses dengan punya mobil serta rumah sendiri, setidaknya aku punya usaha sendiri, bisa menggaji karyawan, dan sampai sekarang masih terus berusaha meraih mimpi – Ini bukan lagunya J-Rocks.

Aku hanyalah seorang pengusaha berijazah SMA. Dulu, tahun 2007 aku sempat kuliah jurusan Akuntansi di Akademi Akuntansi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (AA YKPN) Yogyakarta. Tapi akhirnya resign tahun 2010. Resign lho ya, Wovger. Bukan drop out.

Aku resign karena saat itu kondisi keuangan keluarga sedang tidak stabil. Keluargaku memiliki usaha, dan saat itu aku melihat usaha keluargaku benar-benar drop. Bukan jatuh lagi, bahkan malah sudah terjun bebas.

Karena tak tega dengan orangtuaku yang begitu susah payah dalam kondisi ini, akhirnya aku memutuskan untuk resign dari kuliah. Aku harus bisa mandiri dan tidak membebani keluargaku, kataku saat itu ke diri sendiri.

Aku sadar diri dengan kondisi waktu itu. Bisnis keluarga sudah collapse, mau tak mau aku harus bekerja. Tapi, apa yang bisa aku lakukan jika hanya memiliki ijazah SMA?

dewanto ardi - pengusaha kafe indonesia raya

Akhirnya, bermodal kemauan dan sedikit kenekatan, aku membuka bisnis berdua dengan temanku, Agung namanya.

Tahun 2010 sesaat setelah resign dari kampus, aku bersama Agung mencoba membuka angkringan. Memang hasilnya tidak seberapa, tapi aku menikmati usaha ini. Bahkan aku dan Agung sempat berangan-angan ingin membuka kafe. Kami menunjuk sebuah area kosong di belakang gerobak angkringan tempat kami biasa mangkal. Entah mendapat bisikan dari mana dan oleh siapa, waktu itu aku mendadak berucap:

“Di sini, kelak kita bakal buat kafe.”

Yah, begitulah salah satu angan-angan gilaku saat itu. Bagaimana mungkin aku bisa membuka kafe, modal dari mana?

Ternyata usaha angkringanku tidak berjalan dengan mulus. Bisnis ini hanya bisa berjalan selama 3 bulan. Tak lama setelah itu, aku diajak oleh seseorang untuk membuka rumah makan Lamongan. Kejadian yang sama pun terulang kembali, usaha itu juga cuma bertahan selama 3 bulan. Pasca bisnis rumah makan Lamongan gagal, aku menganggur cukup lama. Aku putus asa, hingga lambat laun sadar bahwa aku tidak bisa terus seperti ini.

Pada pertengahan tahun 2011, ada seorang kawan menawariku untuk menjadi karyawannya di sebuah kedai kopi miliknya yang bernama Rolas Pojok Kopi. Penghasilan sebagai pegawai kedai kopi memang sangat jauh dari cukup, tapi rasa-rasanya aku bisa mengerjakannya dengan penuh bahagia.

Aku sadar tentang proses hidup, bahwa untuk mengejar impian, butuh proses. Aku pun berusaha setia untuk menjalani proses itu. Salah satu pelecut semangatku ialah dengan mengingat-ingat nasihat orangtua:

“Apapun kerjaanmu, kerjakan dengan sukarela, kerjakan dengan bahagia. Perasaan capek itu biasa. Rasah kakehan sambat — tidak usah banyak mengeluh!”

Itulah yang membuatku selalu bisa mengerjakan apapun dengan bahagia.

Aku bekerja di kedai kopi tidak lama, kira-kira hanya sampai pertengahan tahun 2012. Tapi dari situ aku belajar banyak. Aku belajar bagaimana mengelola sebuah kafe. Saat itu, tiba-tiba kenangan akan mimpiku terngiang kembali. Ya, mimpi saat aku ingin membuka kafe sendiri. Tapi saat itu aku benar-benar sadar dengan kondisiku yang tak ada modal sama sekali. Sepertinya mimpiku masih belum memungkinkan untuk direalisasikan dalam waktu dekat, pikirku.

Setelah berhenti menjadi karyawan di kedai kopi, aku kembali menganggur cukup lama. Untuk mengisi kekosongan, aku iseng-iseng menjadi blogger dan belajar untuk me-monetize. Dari situ aku mendapat penghasilan, meski sangat jauh dari cukup. Karena belum tentu aku bisa bayaran setiap bulan. Tapi ya bagaimana lagi, baru ini yang bisa aku kerjakan. Ya sudah, aku kerjakan saja apa-apa yang ada di depan mataku. Aku tidak mau terlalu banyak mengeluh.

Agung, partner-ku sewaktu membuka angkringan, dia bekerja di Riau. Tepatnya di sebuah warung makan. Tapi entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dia meneleponku, lalu mengajakku untuk membuka kafe. Dia juga berjanji akan segera pulang ke Jawa. Sebuah ide gila. Kita tidak punya modal sama sekali, kataku.

dewanto ardi - pengusaha kafe indonesia merdeka merdeka

Aku dan Agung buka-bukaan soal kondisi tabungan, dan itu semua ternyata tidak cukup untuk memodali kafe yang ingin kami buka. Tapi Agung berusaha meyakinkanku.

Yah, memang waktu itu permodalan menjadi kendala utama kami. Namun dengan keyakinan dan optimisme, akhirnya ada yang bersedia membantu kami dalam hal pendanaan, tapi dengan kesepakatan: pengelolaan kafe sepenuhnya diserahkan kepada kami.

Singkat cerita, kesepakatan disetujui. Dibukalah kafe bernama Koftee. Saat ini, Koftee sudah berdiri kurang lebih selama 3 tahun. Mitosnya, waktu 3 tahun itu adalah masa-masa rawan untuk sebuah usaha. Tapi aku tak mau peduli dengan mitos itu. Karena memasuki usia yang ke-3 ini bahkan Koftee malah semakin menggila.

Kecintaanku pada musik dan hal-hal yang berbau seni akhirnya membuatku berpikir untuk mengembangkan Koftee dengan melebarkan sayap selebar-lebarnya, yakni menjadikan Koftee sebagai wadah bagi komunitas-komunitas di Purworejo untuk berkarya.

dewanto ardi - pengusaha kafe indonesia merdeka

Atas saran dari temanku, Johny Presto, aku akhirnya membuat sebuah acara rutin sebulan sekali di Koftee yang kami beri nama: MUSIKOPIDEA. Nama ini dipilih karena aku dan teman-teman percaya bahwa Musik + Kopi bisa menghasilkan IDEA.

Yah, acara ini mungkin memang terkesan seperti acara kafe biasa. Tapi secara pribadi, aku melihatnya lebih dari itu. Aku betul-betul ingin berkontribusi untuk kotaku tercinta, Purworejo. Aku berharap, Koftee bisa menjadi wadah anak-anak muda di kota ini agar bisa berekspresi melalui karya.

Kisahku mungkin tidak terlalu inspiratif bagi Wovger, jika dibandingkan dengan kisah-kisah pengusaha sukses lainnya yang pernah diundang di acara Kick Andy. Aku juga belum cukup sukses di mata orang-orang. Tapi aku merasa bersyukur dengan apa yang telah aku raih sampai saat ini, karena cita-citaku untuk membuka kafe sudah terwujud. Kini, aku siap untuk mencapai cita-citaku lainnya, yang tentunya, jauh lebih besar.

Aku tidak merasa perlu dianggap sukses oleh orang lain. Sebab, yang terpenting bagiku adalah: aku mengerjakan hal yang aku sukai dan berbahagia dalam mengerjakannya.