Mahestya Andi Sanjaya: “Aku bukan orang benar, tapi aku mau terus belajar. Supaya aku bisa dengan benar menyuarakan tentang kebenaran.”

Jika Wovger pikir aku adalah seorang yang cerdas dengan nilai matematika selalu diatas 80, maaf kalau aku mengecewakan. Karena ekspektasi itu melebihi realitaku.

Aku tidak seperti kalian kebanyakan, yang akan bersenang-senang saat kelimpahan. Aku hanyalah seorang yang selalu bahagia dengan kondisiku apa adanya dan bersenang-senang walau kata kelimpahan masih jauh dari kenyataan.

Baru pembukaan saja aku sudah melantur banyak sekali. Maafkan untuk awalan yang agak berat ini. Aku tidak terbiasa dengan struktur-struktur, karena otakku lebih suka acak, dan mengungkapkan apa yang aku rasakan, tanpa direka-reka.

Aku Mahestya Andi Sanjaya. Teman-teman biasa memanggilku Andi. Aku masihlah seorang pelajar yang sedang berjuang menyelesaikan step terakhir pendidikanku di SMK. Ya, aku siswa kelas 3 SMK dan saat ini sedang berjuang untuk berperang menghadapi Ujian Nasional yang entah kenapa aku tidak begitu menyukainya.

Mahestya-Andi-Sanjaya

Aku bukanlah sosok inspiratif yang mungkin Wovger harapkan. Aku hanyalah seorang murid SMK dengan nilai akademik pas-pasan. Bahkan aku masuk dalam golongan siswa medioker jika dinilai dari segi akademik.

Aku memang tidak cukup berhasil dalam dunia akademik. Tapi, sampai hari ini aku masih terus berusaha berjuang untuk menyeimbangkan hidupku. Aku masih percaya, pendidikan itu memang penting. Walaupun terkadang aku suka memberontak kepada para pendidik yang penuh arogansi. Yah, mohon itu dimaklumi sebagai pelampiasan emosi darah mudaku.

Tidak seperti kalian yang hanya dituntut untuk belajar rajin oleh orangtua, aku dituntut untuk bisa hidup dengan hasil keringatku. Belajar dan bekerja, itu sudah biasa dalam perjalanan hidupku.

Jika kalian suka mengeluh hanya karena tugas sekolah yang begitu banyak, bersyukurlah, karena kalian masih bisa bersekolah.

Mahestya Andi Sanjaya berpantomim bersama teman

Aku paham betul bagaimana pahitnya harus putus sekolah. Aku lahir pada tanggal 28 Oktober 1995. Jika dilihat dari umurku, harusnya aku sudah lulus, tapi yah beginilah kenyataannya. Saat kelas 4 SD aku sempat putus sekolah karena kondisi keluargaku yang tidak stabil. Orangtuaku berpisah, dan situasi ketika itu tidak memungkinkan aku untuk melanjutkan sekolah. Selama 2 tahun aku berhenti sekolah. Sampai akhirnya aku bisa kembali bersekolah karena ada seseorang yang membantuku membiayai.

Keluarga yang berantakan, pendidikan yang tidak begitu berhasil, membuatku harus survive lebih. Mungkin jika aku cukup cerdas, akan sangat mudah untukku menempuh pendidikan dengan mencari beasiswa. Tapi aku berusaha berdamai dengan diriku sendiri. Aku bukan orang semacam itu, muskil bagiku bisa merubah keadaan ini dalam sekejap mata, mau rajin belajarpun seakan sudah terlambat. Maka dari itu aku memutuskan untuk berusaha sedikit lebih keras dibanding teman-temanku, yakni dengan bekerja. Yah, apapun itu yang bisa aku kerjakan, pasti aku kerjakan untuk menghasilkan uang. Aku beruntung mempunyai banyak kawan dan kenalan, karena mereka juga banyak membantuku dalam hal bertahan hidup.

Apakah hidup keras ini menahanku? Tidak sekalipun! Aku tahu bahwa hidup itu memang keras, selalu ada hambatan di sana-sini. Tapi saat tembok penghalang ini gigih menghadang, aku justru meyakinkan diri: inilah prosesku untuk melesat.

Aku tidak cukup berhasil dalam hal akademik, tapi aku tidak mau mengasingkan diri dan menjadi tidak berhasil juga dalam kehidupan sosisialku. Ah, jika seperti itu, mungkin aku bakal menjadi orang paling gagal di antara orang-orang gagal lainnya. Tapi syukurlah, dalam kehidupan sosial aku bisa dibilang cukup berhasil.

Aku cukup aktif di sekolah, terutama dalam berbagai kegiatan organisasi. Karena hal itulah aku mudah bergaul dengan banyak orang. Bahkan seorang kawan, yang sudah kuanggap sebagai mentor hidupku pernah berkata,

 

“Ndi, kamu tuh dikaruniai kemampuan untuk memberi dampak. Secara tidak sadar, banyak orang yang mengikuti kamu. Sekarang tinggal kamu mau memberi dampak yang benar atau yang salah.”

 

Aku sangat menyukai berbagai macam hal yang berkaitan dengan seni, terlebih, kesenian pantomim. Mungkin ini karena sejarah pantomim itu sendiri yang kental dengan pemberontakan, dan aku juga termasuk orang yang cukup suka memberontak. Makanya, kami bisa cocok dan jadian.

Aku belajar pantomim sendiri. Mulai dari ngulik berbagai macam hal tentang pantomim, sejarahnya dan hal-hal lain yang berkaitan. Yah, memang belum terlalu lama sih, tapi setidaknya aku tahu dengan apa yang aku kerjakan.

Aku sempat memenangkan lomba seni budaya anak, atau semacam itu lah, aku juga tidak begitu ingat nama lombanya. Aku mempertunjukkan pantomimku, dan menang. Lumayanlah, untuk aku yang masih pemula.

Saat memenangkan lomba, aku didatangi seseorang yang kebetulan mengenal Fajar Merah, anak Widji Thukul. Jika kalian tidak tahu siapa Widji Thukul, cari saja di Wikipedia. Dia adalah korban sejarah kelam bangsa ini.

Mahestya Andi Sanjaya berpantomim sendirian

Aku diajak orang tersebut untuk mengisi di launching album Merah Bercerita, sebuah band yang digagas oleh Fajar Merah. Karena ini kesempatan yang langka, tentu saja aku tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya.

Melalui pengalaman inilah aku akhirnya belajar banyak hal. Belajar tentang sejarah kelam kasus HAM yang tak kunjung diselesaikan oleh bangsa ini. Belajar banyak tentang siapa itu Widji Thukul dan siapa itu Munir, yang notabene merupakan segelintir orang dari sekian banyaknya korban kasus HAM yang belum terselesaikan. Fakta-fakta itu membuat mataku terbuka.

Aku mulai melakukan aksi dengan pantomimku. Aku tidak mau pantomimku hanya menjadi sebuah seni yang cuma bisa dinikmati, tapi aku mau ini menjadi sebuah media penyeru sosial.

Aku mau pantomimku menjadi suatu perwakilan suara masyarakat yang dilemahkan. Karena diam adalah teriakan yang paling keras. Dan melalui diamku, aku berperang.

Aksi pertamaku terjadi pada tanggal 7 September 2015. Saat itu adalah peringatan meninggalnya Munir. Aku melakukan aksi itu berdua dengan kawanku: Hagai Gigih, namanya. Seperti orang gila memang, berpantomim di lampu merah dekat alun-alun dengan membawa tulisan “MENOLAK LUPA – KASUS MUNIR”. Tapi sebetulnya aku berhak sedikit bangga karena aksiku ini sempat diliput oleh beberapa koran lokal.

Yah, jujur saja, aku saat itu hanyalah seorang anak muda yang sedang mengalami euforia. Sampai akhirnya aku belajar banyak dan mengulik lebih dalam. Aku tidak mau naif, aku mau pantomimku berbicara tentang keresahan sosial yang lebih dalam.

Sampai akhirnya aku membentuk komunitas Purworejomime. Aku mengumpulkan beberapa teman yang menyukai kesenian ini, dan berbagi visi tentang kesenian ini yang juga bisa menjadi media penyeru sosial, seperti yang aku bilang tadi.

Mahestya Andi Sanjaya pantomim

Aku mulai melihat banyak hal, mulai dari kasus kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap perempuan dan lain-lain.

Aku sempat membuat aksi bersama kawan-kawan komunitas saat memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan internasional pada 25 November. Bahkan, tanpa aku sadari, aksi ini diliput oleh Kompas TV.

Berangkat dari itulah aku belajar untuk tidak mudah termakan euforia, apalagi cuma gara-gara diliput media. Aku mulai melihat lebih banyak kasus sosial. Saat terjadi longsor di Purworejo pun, aku bekerjasama dengan PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) Purworejo untuk menggalang dana. Tentu saja caraku menggalang dana ialah menggunakan kelebihanku: berpantomim.

Yah, aku masih belajar sampai sekarang agar aksiku tidak sekedar aksi sia-sia yang cuma ikut-ikutan. Aku belajar mengupas esensi dari setiap aksi yang aku lakukan.

Mahestya Andi Sanjaya Indonesia

Aku mau menjadi dampak yang benar. Maka dari itu, walaupun aku bukan orang benar, tapi aku mau terus belajar tentang kebenaran, supaya aku bisa dengan benar menyuarakan kebenaran.

Mungkin aku memang tak layak dimuat di majalah besar yang menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif. Aku bahkan belum bisa menghasilkan perubahan apa-apa. Tapi setidaknya aku mau bergerak, beraksi dan aku menikmati apa yang aku lakukan saat ini.

Aku sama seperti Wovger sekalian. Aku masih anak-anak yang juga punya mimpi. Walaupun aku tak memiliki kesempatan seperti kalian, tapi aku tidak pernah takut untuk bermimpi.

Mimpi besarku adalah menatap Indonesia yang baru. Indonesia yang tak ada lagi diskriminasi pada perbedaan agama, suku, ras dan golongan. Indonesia dengan masyarakatnya yang hidup sejahtera dan terhindar dari berbagai konflik. Yah, intinya Indonesia yang lebih baik untuk kedepannya.

Apakah menurut Wovger mimpiku terlalu berlebihan? Aku rasa tidak.