Dewi Fatimatuzzahro: “Kata bu guru, berdoa itu bisa mencegah dari bencana.”

Halooo kakak-kakak Wovger. Nama aku Dewi Fatimatuzzahro. Ummi (ibu) dan abi (ayah) sering memanggilku Zahro. Jadinya semua orang juga suka ikut-ikutan memanggilku Zahro.

Kalau ditanya orang-orang ‘Kelas berapa?’ aku suka menjawab ‘Kelas 5 SD’. Aku tidak tahu, kelas 5 SD itu anak-anaknya seperti aku atau bukan. Aku tahu jawaban ‘Kelas 5 SD’ dari Mbak Sofi. Dia adalah tetanggaku yang setiap ditanya ‘Kelas berapa?’ pasti jawabnya gitu. Ya udah, aku ikut-ikutan aja. Meskipun dia badannya lebih tinggi daripada aku, dan kalau sekolah selalu memakai rok merah serta baju putih, tidak seperti seragamku.

Tapi nggak apa-apa kan, kalau jawabanku suka ikut-ikutan? Soalnya aku bingung, aku ini kelas berapa. Ummi dan abi hanya bilang kalau aku sekolah di PAUD. Sepertinya di PAUD juga ada kelas bernama: Kelas 5 SD. Emm… tapi kok aku nggak pernah lihat Mbak Sofi ya, di sekolahku? Apa Mbak Sofi tidak pernah berangkat? Ah, aku nggak tahulah.

Zahro

Kata ummi, abi, dan guru-guruku di sekolah, nama sekolahku: PAUD ASSALAM. Dulu aku tidak bisa membaca huruf ‘S’, jadi kalau ada yang bertanya ‘Sekolah di mana?’ aku menjawabnya: PAUD ATTALAM. Gara-gara itu, sekarang aku sering diledekin sama ummi, abi, kakek, nenek, om dan tanteku. Kalau berbicara denganku, mereka sering mengganti kata-kata yang ada huruf ‘S’, lalu diganti huruf ‘T’. Waktu itu kakekku pernah bertanya:

“Zahro tekolah di mana?”

“Sekolah, Kek. Se… sekolah. Bukan tekolah. Tekolah kan kalau Zahro yang dulu,” jawabku.

“Ya, Zahro sekolah di mana?” Kakek bertanya lagi.

“PAUD ASSALAM.”

“Bukan ATTALAM?”

“ASSALAM, Kek. ASSALAM. Bukan ATTALAM. ATTALAM kan kalau Zahro yang dulu.” Aku menjawab begitu lagi.

Aku selalu suka sekolah, karena di sana ada banyak teman dan mainan-mainan yang tidak ada di rumah. Di sekolah, aku juga diajari bernyanyi, menggambar, menulis, berhitung, olahraga, dan… apalagi yaa… aduh lupa… pokoknya banyak.

Dewi Zahros

O iya, aku juga sekarang sedang diajari untuk menghafal bermacam-macam doa.

Kalau di rumah, ummi pasti bertanya:

“Tadi, Zahro di sekolah diajari apa?”

Aku menjawabnya ya seperti yang bu guru ajarkan di sekolah. Kalau menyanyi, ya aku bilang nyanyi. Kalau mewarnai, ya aku bilang mewarnai. Kalau diajari untuk menghafal doa, ya aku bilangnya menghafal doa.

Tapi biasanya kalau aku jawab ‘menghafal doa’ pasti ummi atau abi mengetesku. Aku selalu bisa. Soalnya, kalau di sekolah, doanya selalu dibaca bareng teman-teman. Jadinya hafal. Sekarang, kalau mau ngapa-ngapain, pasti ummi bertanya. Contohnya kemarin pas aku bangun tidur, ummi bilang:

“Hayoo… doa bangun tidur gimana?”

“Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur,” jawabku.

Terus waktu mau masuk kamar mandi juga ditanya, doanya gimana. Pas keluar kamar mandi juga. Mau makan juga berdoa. Selesai makan berdoa lagi. Waktu naik motor mau dianterin sekolah, abi juga bertanya:

“Hayoo… doa mau bepergian gimana?”

Zahro dan Abi

Terus kalau malam, waktu mau tidur, juga ditanya lagi, doa mau tidur gimana.

Kadang orang-orang juga sering tertawa kalau melihat aku sedang membaca doa. Contohnya waktu aku shalat. Aku membaca bacaan-bacaan shalatnya lebih keras daripada Imam. Soalnya, kalau di sekolah, kami bacanya bareng-bareng dan keras-keras. Jadinya saat shalat aku bacanya juga keras-keras. Tapi kenapa ya, kok setelah shalat, pasti orang-orang melihatku sambil tertawa?

Ah, aku nggak tahulah.

Aku cuma ikut nasihat bu guru untuk berdoa. Karena kata bu guru, berdoa itu bisa mencegah dari bencana. Makanya setiap hari aku berdoa, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.