Bayu Yoga Dinata : “Tapi, sekarang levelnya sudah bukan lagi meraih cita-cita. Melainkan bagaimana cara untuk memenuhi tuntutan hidup.”

Halo Wovger, aku Bayu Yoga Dinata. Teman-teman sering kali memanggilku Bayu. Kalau ditanya usia, aku baru 24 tahun. Pria 24 tahun itu fokusnya ngapain sih, kalau bukan berusaha menggapai mimpi dan cita-citanya? Iya nggak? Itu sih kalau aku. Semoga Wovger pun begitu.

“Laki-laki harus memiliki jiwa petualang dan kuat terhadap terpaan hidup,”

Itulah prinsip yang aku pegang saat ini. Meskipun harga yang wajib dibayar untuk bertualang kadang tak begitu mengenakkan, salah satunya ialah harus rela jauh dari keluarga dan menjalani hari-hari dengan ditikam rasa kangen kepada orang-orang rumah.

By the way, sekarang aku sedang merantau di Jakarta dan jauh dari orangtua yang kini tinggal di Kalimantan. Sebenarnya, orangtuaku adalah warga Jogja yang memutuskan untuk merantau ke Kalimantan demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Di sana, mereka bekerja sebagai PNS. Sepertinya, apa yang pernah dirasakan oleh kedua orangtuaku, kini diturunkan kepadaku.

Bayu Yoga Dinata - Campers Kompas TV

Cerita merantauku berawal dari setelah lulus SMA. Aku menjelajah ke salah satu kota yang masih di sekitar Kalimantan, tepatnya di Banjarbaru. Aku kuliah di sana, dan mengambil jurusan ilmu komputer selama satu tahun, kemudian pindah ke Jawa. Tepatnya di Malang, untuk melanjutkan pendidikan S1.

Di Malang, aku mengambil jurusan Komunikasi, jurusan yang berbeda dari jurusanku sebelumnya. Keputusan ini kuambil karena kecintaanku pada dunia fotografi. Sejak kelas 3 SMA aku jatuh cinta dengan bidang fotografi dan bercita-cita bekerja di media, entah itu di televisi maupun sebagai fotografer profesional.

Semakin kuselami dunia kamera dan lensa ini, aku jadi semakin semangat untuk berjuang meraih mimpi. Ketika semester 3, aku mencoba mencari pengalaman menjadi asisten fotografer di salah satu wedding photography. Itu berlangsung dari tahun 2011 sampai tahun 2014. Sejak awal, aku tak pernah memprioritaskan gaji yang kuperoleh. Melainkan lebih fokus untuk menambah skill, pengalaman dan portofolio sebagai batu loncatan karir di masa mendatang. Tentu aku berharap bahwa kelak, karirku sesuai dengan passion-ku.

Bayu Yoga Dinata Kompas TV

Setelah lulus kuliah, aku pun mencari pekerjaan.

Aku bersyukur, tak membutuhkan waktu lama untuk mencari pekerjaan. Karena baru beberapa minggu lulus, aku sudah dipanggil untuk bekerja di salah satu majalah di Surabaya, sebagai fotografer dan wartawan. Tentu, track record-ku sejak tahun 2011 hingga tahun 2014 tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa aku diterima.

Sebelum bekerja di majalah, sebetulnya aku juga sempat dipanggil oleh beberapa perusahaan. Namun karena perusahaan-perusahaan tersebut tak bergerak di bidang media, jadi aku tetap keukeuh untuk bekerja di salah satu majalah di Surabaya tersebut. Aku hanya ingin bekerja sesuai dengan passion-ku, yakni di bidang media. Atau lebih tepatnya: fotografi.

“Setelah mendapat pengalaman menjadi asisten fotografer, kemudian bekerja sebagai seorang fotografer sekaligus wartawan, bagiku ini merupakan batu loncatan untuk melompat ke perusahaan yang lebih bergengsi seperti National Geographic,” pikirku waktu itu.

Baru 3 bulan bekerja di Surabaya, atasan memindahtugaskan aku ke Ibu Kota. Ya, Jakarta, kota metropolitan yang terkenal dengan macet, banjir dan kebisingan yang bikin cepat naik darah itu.

Berulang kali aku memikirkan tawaran itu, karena ini di luar dugaan. Aku sudah terlanjur jatuh hati dengan Surabaya. Juga, kepada seorang wanita yang juga tinggal di kota pahlawan dan sedang mengharap pinanganku. Dan, kalau pindah ke Jakarta, berarti aku juga harus rela semakin menjauh darinya. Tapi di sisi lain, aku juga harus memikirkan potensi karir untuk masa depanku.

Bayu Yoga Dinata Kompas TV Inspirasi Indonesia

Perang batin ini seolah tak ingin ada yang aku korbankan. Dilema memang, memilih antara memperjuangkan karir atau tetap tinggal di kota yang membuatku jatuh cinta. Bimbang, antara senang akan mendapat tantangan baru dan sedih karena semakin jauh dengan orang yang aku sayang. Akhirnya mau tak mau aku memutuskan untuk bertolak ke Jakarta. Melanjutkan pekerjaan dan mulai membaca peluang untuk karir yang lebih tinggi.

Setelah 8 bulan berjalan, aku melihat ada potensi karir di tempat lain. Tetapi, meskipun sedikit berkaitan, namun ini tak ada hubungannya dengan passion utamaku: fotografi. Sementara, tuntutan hidup di Jakarta tinggi. Sepertinya tak cukup jika hanya dengan memperjuangkan passion.

Aku berunding dengan keluarga dan juga kekasih. Benar kata mereka:

Memperjuangkan passion itu mulia. Tetapi kita juga harus peka terhadap tuntutan realita.

Tak butuh waktu lama, dengan mantap aku memilih untuk resign. Sebagai gantinya, aku mencoba masuk ke ranah pertelevisian.

Aku mulai melamar di salah satu stasiun TV swasta, ikut serangkaian tes, dan alhamdulillah… Tuhan lagi-lagi berbaik hati padaku. Aku diterima! Kali ini sebagai Camera Person (Campers) di sebuah stasiun TV swasta.

Sebagai Camera Person, ada rasa bangga menyelimutiku, karena aku menjadi Camera Person yang paling diistimewakan di tim produksi. Gimana enggak? Begini… sebuah acara itu kalau nggak ada produser program, maka acara tetap bisa jalan. Tapi kalau nggak ada Campers? Jelas, produksi nggak akan bisa jalan! Berasa keren aja gitu, tahu fakta ini. Hehehe. Aku juga bersyukur, bisa masuk di salah satu stasiun TV swasta yang cukup diperhitungkan di negeri ini.

Kini sudah 4 bulan aku bekerja, masih seneng-senengnya, meski tetep aja terasa ada yang kurang. Ya, apalagi kalau bukan kangennya aku dengan dunia fotografi, serta kebersamaan dengan keluarga dan kekasih tercinta. Aduh, aku jadi galau.

Bayu Yoga Dinata - Kameramen Kompas TV

Kebutuhan dan tekanan hidup yang semakin naik – terutama di kota besar seperti Jakarta, kadang membuatku ingin pulang dan hidup adem ayem di kampung halaman saja. Atau, paling tidak balik ke Surabaya, menikah dulu, baru kembali ke kampung halaman di Kalimantan. Hehehe….

Mungkin, bisa dibilang, bekerja sesuai passion adalah impian. Hobi yang dibayar adalah kepuasan yang pernah aku capai saat bekerja di Surabaya dan 8 bulan di Jakarta. Aku sedih karena lama tak bergumul dengan dunia fotografi, namun juga sekaligus senang lantaran memperoleh tantangan baru di bidang yang baru. Memperjuangkan passion atau cita-cita itu perlu. Tapi, sekarang levelnya sudah bukan lagi meraih cita-cita. Melainkan bagaimana cara untuk memenuhi tuntutan hidup.

Aku tak bermaksud untuk mengubah pemikiran kalian dalam menggapai impian, tapi terkadang kita juga harus memahami realita yang datangnya tak pernah kita sangka-sangka. Bahwa tak selamanya passion kita dihargai sesuai dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Terkadang, memang harus ada yang harus dikorbankan dalam kehidupan ini.

Sekarang, bagiku, mungkin yang terbaik adalah keinginan untuk SEIMBANG: hidup bersama pasangan dan keluarga, serta memiliki 2 pekerjaan. Yakni pekerjaan untuk memenuhi tuntutan hidup dan pekerjaan yang bisa memenuhi batinku untuk menyalurkan passion. Dan, sampai saat ini aku masih berjuang untuk mencapai kata SEIMBANG.