Annisa Nuril: “Selama kamu berpegang teguh pada tujuan mulia, Tuhan akan memberi solusi lewat jalan yang tak pernah kamu duga.”

Hai Wovger!

Kali ini tim penulis Wovgo mau ngajakin ngobrol-ngobrol nih. Sebelumnya, perkenalan dulu aja ya. Namaku Annisa Nuril. Aku kelahiran Tulungangung, 2 September 1992 dan udah nikah sejak tahun 2013 atau lebih tepatnya pas lagi sibuk-sibuknya kuliah. Lalu hamil di tahun 2014 dan melahirkan di tahun 2014 juga, yaitu ketika masa-masa skripsi.

Bisa dibilang, aku hanyalah sosok ibu muda yang lagi asik-asiknya ngurusin anak. Eh, nggak tahunya, meski kehidupanku hanya sebagai mama muda, tapi memiliki sisi inspiratif — kata temen-temen Wovgo. Tapi okelah, aku akan share sedikit soal hidupku sebagai mama muda.

Mungkin sebagian dari Wovger ada yang bertanya-tanya: berarti sekarang Annisa umurnya baru 23 dong? Dan udah punya anak? Nggak kerja pula, alias jadi Ibu rumah tangga. Apa nggak nyesel sama kuliahnya?

Hehehe. Menurutku, itu semua bukanlah hal yang mengerikan kok, justru banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa kuambil setelah menikah muda. Ketimbang penasaran, yuk simak percakapanku dengan temen-temen tim penulis Wovgo.

Bagaimana awal mula memiliki kemantapan ingin menikah di usia muda?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Mama Muda Menikah

Jujur, dulu sebelum memutuskan untuk menikah muda, sewaktu kuliah aku punya cita-cita kalau kelak pingin berkarir. Cuma mungkin karena proposal hidupku untuk karir waktu itu belum terlalu kuat atau masih ‘ngawang’, jadi ya mencoba bersikap realistis aja. Maksud hati pingin kerja di jurnalistik, tapi kalau berpikir realistis dan menimbang ini-itu, maka yang paling kuat (kemampuan) bagiku saat itu ya punya usaha, atau nerusin usaha orangtua.

Ditambah lagi, saat itu aku juga baru patah hati dan emang lagi menata hati sekitar 1 tahun. Terus aku pikir-pikir lagi, ternyata capek juga kalau menghabiskan waktu cuma buat pacar-pacaran. Mending serius sekalian, dan aku memutuskan, kalau emang ada pria yang serius sama aku, orangtua juga cocok dengan segala profile-nya, ya oke. Pokoknya kalau dia niatnya nikah tanpa pacaran, ya udah, langsung aku terima.

Ternyata, pas lagi menata hati selama 1 tahun itu, ada orang yang serius dan langsung mengajak untuk menikah.

Persiapan apa aja yang dilakukan ketika memutuskan untuk menikah muda? Apa nggak takut kehilangan masa muda atau masa emas dalam berkarir?

Kalau ditanya kesiapan nikah harus seperti apa? Jadi istri yang baik itu harus kayak gimana? Habis nikah mau berencana apa? Bisa dibilang, waktu itu bener-bener nggak ada persiapan sama sekali. Let it flow aja, yang penting ada niat baik dari kedua belah pihak. Lalu soal yang lainnya, itu urusan Tuhan mau diarahkan ke mana.

Sebagai Ibu muda, kalau dikasih kesempatan berkarir, ingin berkarir di bidang apa?

Ingin part time kerja di bidang jurnalistik, broadcast, tulis menulis atau wirausaha. Intinya berkarya, bukan bekerja untuk mencari penghasilan. Meskipun sekarang jadi mama muda, tapi aku pingin tetap terus berkarya. Aku lebih suka berkarya, meski sesimpel posting tulisan atau artikel, dan bikin sesuatu buat anak.

Setelah semuanya terjadi, menyesal atau tidak menjadi mama muda di usia 23 tahun? Atau justru mendapat kehidupan yang lebih baik?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Mama Muda Hamil

Jujur, sempat menyesal. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata malah banyak hal-hal yang berdampak baik ke karakter diriku sendiri. Kebiasaanku dulu yang suka males-malesan, setelah berumah tangga, punya suami, punya anak, jadi berubah. Lebih rajin dan lebih ngerti tanggung jawab. Jadi menikah muda ini lebih berdampak secara langsung terhadap kepribadianku.

Kalau misalnya aku berkarir, atau menjadi professional, mungkin belum tentu perubahan kepribadianku akan melesat secepat sekarang — ketika memilih menikah muda.

Selain beberapa perubahan di atas, juga ada banyak perubahan lain yang sekarang aku rasakan. Seperti jadi lebih feminim dalam berpenampilan, lebih sabar, rajin beres-beres rumah, sifat keibuan juga lebih muncul. Mungkin itu semua nggak bisa aku dapatkan kalau aku lebih memilih untuk fokus berkarir.

Ada pihak-pihak yang kontra dengan keputusanmu untuk menikah muda?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Motivasi

Alhamdulillah sih, kalau dari lingkungan keluargaku, saudara-saudaraku, nggak ada yang kontra. Justru lebih bagus kalau ada yang cocok dan mau serius dengan cara mengajak nikah. Tentunya, dia juga harus orang baik. Syukur-syukur dia juga datang dari keluarga yang baik-baik.

Intinya, keluarga mendukung. Malahan, banyak yang bersedia bantuin jaga anak waktu aku skripsi, atau pas aku tinggal-tinggal.

Kalau soal pandangan orang nggak tahu juga sih, tapi kayaknya ada yang sempet berpikiran ‘nggak lazim’ gitu deh. Atau berpendapat, ‘masih muda dan belum lulus kuliah kok udah nikah’. Apalagi, aku kan jarang deket sama cowok, kok tahu-tahu udah nikah? Temen-temen juga kadang ada yang nanya ‘loh, nggak deket sama siapa-siapa kok tiba-tiba aja ngasih undangan?’ tapi nada bertanyanya seolah kayak nyangkain kalau aku MBA (Married by Accident) atau semacamnya. Terserahlah, yang jelas, kami yang lebih tahu niat baik membangun bahtera rumah tangga ini.

Toh, aku cepet nikah juga bukan tiba-tiba menyampaikan pikiran tersebut ke orangtua, lalu beliau langsung menjawab: ‘oke besok nikah!’ Nggak segampang itu.

Tetep ada proses dan beragam rintangan. Datangnya pikiran-pikiran yang mengganggu lainnya juga pasti ada. Aku mengalami itu. Tapi selama kamu berpegang teguh pada tujuan mulia, Tuhan akan memberi solusi lewat jalan yang tak pernah kamu duga.

Sering merasa sayang nggak dengan pendidikan yang udah sampai S1, tapi malah menikah muda dan bahkan belum sempat berkarir?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Mama Muda

Kalau ngerasa sayang sama pendidikan aku rasa enggak sih, soalnya nggak ada hubungannya antara pendidikan sama pekerjaan. Belajar — termasuk kuliah — kan kewajiban setiap manusia, dan tujuannya pun bukan hanya untuk mencari kerja aja. Tapi pendidikan juga bisa dijadikan bekal untuk berkarya di luar jurusan atau gelar yang diperoleh. Bahkan dalam hal mendidik anak pun, orang yang belajarnya lebih banyak — khususnya belajar soal parenting, tentu punya cara yang berbeda dalam mendidik anak, dibanding orangtua-orangtua yang belajarnya lebih sedikit.

Sekarang, yang jadi PR atau yang perlu diperhatikan sebagai mama muda itu apa?

Sekarang yang jadi PR banget bagiku itu manajemen waktu. Gimana membagi waktu antara ngurus atau mendidik anak yang sekarang lagi tumbuh di masa emasnya, dengan membagi waktu untuk pengembangan diri sendiri seperti mencoba bisnis, mempelajari hal-hal baru dan lain sebagainya.

Apa sih yang bikin anak muda jaman sekarang sensitif banget kalau ditanya kapan nikah, lalu akhirnya bikin mereka galau?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Hubungan Cinta

Menurutku, galau itu bisa timbul karena kurang bisa menikmati waktu. Bisa juga terjadi lantaran kurangnya pergaulan atau belum ketemu passion yang cocok. Belum ketemu sama apa yang betul-betul diinginkan dalam hidup. Gara-gara itu semua, akhirnya galau dan gampang sensi, termasuk dengan kalimat pertanyaan ‘kapan nikah?’ atau ‘kapan nyusul?’ kalau ditanya temennya yang udah nikah.

Saranku, nggak usah galau juga sih. Pokoknya, nikmati hidupmu. Kalau pingin kerja ya seneng-senengin aja. Kalau pingin ngerintis bisnis juga tetep enjoy aja. Saat kamu ngerasain itu semua, saat kamu berada di duniamu sendiri, aku yakin nggak akan ada rasa galau dalam memilih antara mau nikah muda atau berkarir dulu. Palingan, kalau galau cuma gara-gara nggak tahan dengan sindiran temen-temen semacam ‘kapan nikah-kapan nikah’ itu tadi. Hehehe.

Pesan buat temen-temen yang lagi galau di luar sana, enaknya nikah muda atau berkarir dulu?

Annisa Nuril Menikah Muda - Universitas Brawijaya - Mama Muda Mandiri

Saranku, coba deh cari buku motivasi. Atau nonton film-film inspiratif. Bisa juga tanya-tanya ke orang yang memilih nikah muda dan orang yang berkarir setelah kuliah. Bagaimana pengalaman mereka, apa saja hambatan-hambatannya, sampai bagaimana cara mengatasinya.

Setelah itu, bikinlah proposal hidup, karena itu penting banget. Wovger bisa memikirkan, lalu menuliskannya. Apa yang pingin dilakukan setelah sekolah atau kuliah. Karena itu ngaruh banget sama keputusan kamu untuk memilih nikah muda atau fokus merintis karir dulu.

Sebenarnya dua-duanya itu baik, ada plus dan minus-nya juga, ada konsekuensi dan hikmah yang bisa diambil juga. Pokoknya diusahain banget bikin proposal atau rencana-rencana apa aja yang harus dilakuin. Selama kamu nikah muda dengan cara dan proses yang baik, Insya Allah kamu bisa dapetin kemudahan. Alhamdulillah sejauh ini pun aku udah merasakan hal itu, ada aja kejutan dari Tuhan. Dengan catatan, kamu juga harus mempersiapkan pernikahan itu sebaik mungkin.

Menurutku, menempa diri menjadi sosok yang baik itu nggak harus melalui jadi ibu. Kalau satu-satunya cara menempa diri itu hanya dengan menjadi ibu, kasihan yang bapak-bapak dong. Hehehe. Menjadi ibu itu salah satu cara aja. Masih ada banyak cara lain untuk menempa diri.

Intinya, selalulah berbenah, introspeksi dan membaikkan diri. Insya Allah kelak kamu akan dipertemukan dengan orang yang sesuai dengan kualitas kepribadianmu. Jadi, jangan pernah ragu untuk memilih prinsip-prinsip hidup.

Pokoknya nggak usah galau soal jodoh. Kalau kamu udah niat menikah dan punya prinsip serta jati diri yang matang, Tuhan pasti bakalan ngasih pasangan yang bisa melengkapi kehidupanmu.

Sekarang, kadang aku menyesal: kenapa aku nggak mempersiapkan diri sendiri dari segi fisik dan mental sejak lama? Kalau aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak dini, paling nggak aku bisa jadi istri yang jauh lebih baik daripada sekarang. Jadi nggak kaget-kaget banget jadi ibu rumah tangga. Aku sih mencoba untuk bersikap positif, mungkin ini merupakan proses adaptasi yang harus aku jalani, dari aku yang single, lalu jadi ibu di usia muda. Itu kan butuh waktu yang nggak sebentar seperti setahun atau dua tahun untuk merubah kebiasaan.

Selama kamu dalam jalur yang benar, kelak kamu akan dipertemukan kok dengan orang yang sesuai kriteria, dan dia bersedia serius sama kamu. Pokoknya, teruslah membaikkan diri. Bukankah wanita yang baik itu untuk laki-laki yang baik, dan begitu pula sebaliknya?