Lailiya Nur Rokhman: “Aku ingin melakukan hal-hal baik, agar mampu memberi dampak yang baik.”

lailiya

Meski temen-temen sering memanggilku ‘Mami’, tapi percayalah kalau itu bukan nama asliku. Bukan pula nama panggilan yang disesuaikan dengan umurku. Namun, itu hanyalah sebutan bagi mereka yang sering bilang kalau aku adalah orang yang keibuan dan suka mengayomi, meskipun belum jadi ibu.

Khusus untuk Wovger, boleh juga sih kalau mau manggil gitu. Panggil namaku juga boleh: Lailiya Nur Rokhman. Jangan nama lengkap. Kepanjangan! Tapi temen-temen yang selain memanggilku ‘Mami’, mereka sering memanggilku: Laili.

Aku lahir di Lumajang pada tanggal 24 November 1991. Sekarang, aku lagi seneng-senengnya ikut kegiatan sosial. Sebenarnya, aku udah aktif ikut sejak awal kuliah sih. Jadi kalau tadi aku bilang ‘lagi seneng-senengnya’, itu berarti ‘seneng-senengnya’ yang sejak awal kuliah itu masih berlanjut sampai hari ini. Hehehe.

2. Lailiya Nur Rokhman Aktivis Universitas Brawijaya

Ini semua bermula dari tugas kuliah bikin semacam acara social campaign. Ya, yang namanya tugas pasti awalnya terasa ribet dan agak terpaksa. Karena dalam pelaksanannya, tugas ini mengharuskan untuk bikin poster, banner, hingga janjian dengan orang dan masih banyak lagi hal lainnya.

Tapi setelah terjun lapangan, aku merasa ada yang beda. Ada candu yang timbul dan membisiki pikiranku, bahwa ternyata bikin kegiatan sosial itu seru.

Campaign pertamaku dulu tentang pentingnya minum susu. Wah, bisa kebayang dong serunya main sama anak-anak sekolah dasar, menghadirkan dokter dan ahli gizi, membagi susu gratis, bikin anak-anak tersenyum di depan orangtua mereka juga. Berasa berperan jadi guru sekaligus badut untuk menghibur anak-anak. Tujuan dari campaign itu sebenernya simple: ingin menyadarkan orangtua tentang pentingnya pemenuhan gizi pada anak.

Aku jadi sadar bahwa apa yang aku lakukan tersebut nggak cuma sekedar mengerjakan proyek kuliah, tapi juga ada sisi positif untuk anak-anak. Selain itu, tujuan lainnya ialah turut menyadarkan para orangtua, bahwa susu itu penting bagi tumbuh kembang anak.

Berawal dari tugas kuliah itu, aku jadi tergerak untuk ikutan kegiatan sosial lainnya yang menurutku bermanfaat bagi orang banyak.

1. Gerakan Lailiya Nur Rokhman Universitas Brawijaya

Belum sempat aku ikutan acara sosial lainnya, eh ternyata aku dikasih kesempatan lagi untuk bikin social campaign lain tentang sampah dan lingkungan. Jadi ceritanya aku ditunjuk untuk ikut berkontribusi di campaign ‘finish your food’. Intinya, itu adalah kampanye yang berisi ajakan untuk menghabiskan makanan. Karena makanan yang nggak habis akan menjadi sampah. Lalu sampah sisa makanan tersebut menumpuk, dan secara nggak langsung akan menyebabkan global warming. Jika semua sisa makanan yang nggak habis itu dikumpulkan, maka kelak akan menguap, dan uapnya bisa mengikis lapisan ozon di bumi.

Ngeri kan? Makanya, jaga bumi tercinta ini, Wovger. Mulai dari diri kita sendiri. Yuk!

Selain ikutan campaign di dalam kampus, aku juga lumayan aktif ikutan acara serupa di luar kampus. Meskipun cuma jadi volunteer, tapi aku tetep semangat untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat dan hidup di lingkungan yang bersih.

Salah satu campaign lain yang pernah aku ikuti yaitu, ‘Do Something Indonesia’. Berbeda dari yang lainnya, kampanye ini dilakukan lewat media sosial. Jadi kami melakukan kampanye dengan tema yang sudah ditentukan oleh pusat, lalu kita share via sosmed. Banyak kok tema-tema positif yang bisa diikuti, seperti tantangan minum air putih, my mom my hero, berkunjung ke museum, seruan untuk menghentikan diskriminasi, dan masih banyak lagi. Semua kampanye itu dilakukan via medsos.

Selain kampanye sosial, aku juga ikutan salah satu komunitas, yaitu komunitas Tabrak Warna Malang (TMW). Semacam kumpulan orang dewasa yang hobi mewarnai. Awalnya aku tertarik gara-gara buku mewarnai milik temenku. Setelah banyak cari tahu, ternyata ada komunitasnya. Seru juga mengisi waktu luang dengan menambah kegiatan positif, pikirku.

3. Lailiya Nur Rokhman Universitas Brawijaya Malang

Mewarnai juga bisa berguna sebagai relaksasi. Ya, mewarnai adalah bentuk relaksasi otak, karena masing-masing warna memiliki fungsi bagi otak kita. Mewarnai bisa menjadi solusi untuk melepas penat setelah sepekan bekerja. Dalam Tabrak Warna, sering juga ada game seperti game challenge 3 warna — mewarnai puzzle berpasangan. Bagiku, ini bukan kegiatan yang kekanak-kanakan. Tapi justru merupakan sarana refreshing yang bisa bikin happy.

Tanpa terasa, kegiatan sosial yang bermula dari tugas kuliah tersebut, kini membawa banyak perubahan baik dalam diriku.

Tujuanku murni ingin berkegiatan sosial: aku ingin melakukan hal-hal baik, agar mampu memberi dampak yang baik.

Meski jumlah kegiatan sosial yang pernah aku ikuti masih bisa dihitung dengan jari, tapi kegiatan-kegiatan ini betul-betul membuatku lebih peduli dengan lingkungan.

Sekarang, aku sudah lulus kuliah. Saat ini, keinginanku ialah mengikuti semacam kelas-kelas inspirasi atau program menyapa Indonesia. Kalau Tuhan mengijinkan, aku juga sembari ingin melanjutkan pendidikan S2. Kuliah di mana? Biar Tuhan yang mengatur. Tetapi yang jelas, secara pribadi aku sedang mengupayakan agar bisa masuk di UI atau UNPAD.

Aku suka menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Selama itu positif, berdampak baik bagi alam dan manusia, aku berbahagia menjalaninya.