Supriyono: “Karena semakin hari manusia pasti menua, maka aku ingin berproses, demi menjadi manusia yang lebih baik.”

Banyak orang melihatku sebagai orang yang tidak normal. Walaupun tak pernah mendapatkan diskriminasi secara verbal, tapi sorot mata orang-orang yang melihat kekuranganku ini benar-benar mengganggu. Ayolah, aku sama saja dengan kalian.

Aku tak pernah merasa menjadi orang yang tidak normal. Aku masih bisa kok melakukan hal-hal normal, meski dengan cara-cara yang tidak normal.

Oh ya, perkenalkan, namaku Supriyono. Sekarang aku berstatus sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester dua belas, dan sedang jenuh-jenuhnya meladeni berondongan pertanyaan: kapan lulus?

Bersyukurlah Wovger, jika kalian terlahir dan hidup dengan seluruh anggota badan normal. Karena aku cuma punya satu tangan untuk melakukan segala hal, dan itu pun hanya tangan kiri. Tapi meski demikian, aku ingin apa-apa yang aku kerjakan bisa terselesaikan dengan baik, layaknya orang-orang normal mengerjakannya.

Superi

Aku sudah terbiasa dengan pikiran-pikiran orang yang menganggapku cacat. Juga, tatapan-tatapan aneh mereka yang seakan menusukku. Tapi percayalah, aku tidak akan marah.

Banyak orang berusaha mengasihani aku. Beberapa lainnya, betul-betul iba. Sementara sebagian yang lain, mencoba mengasihani, padahal tujuan utamanya hanyalah untuk meningkatkan pamornya sendiri agar dikenal sebagai orang yang peduli.

Sekali lagi, secara pribadi, aku sama sekali tak pernah merasa perlu untuk dikasihani. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Aku benar-benar tak mau menjadi orang yang manja. Jadi, biarkan aku melakukan berbagai hal dengan caraku sendiri.

Gus Dur

Wovger, aku punya cerita…

Dulu saat lulus SMP, aku sempat ingin mendaftar di SMK. Sejak awal, aku berusaha realistis dengan kondisi fisikku. Tentu aku tidak mungkin mengambil jurusan seperti mesin industri, kelistrikan, atau jurusan sejenisnya. Sehingga waktu itu aku mencoba mendaftar di jurusan komputer. Pikirku, jurusan itu masih sangat mungkin aku jalani dengan kekurangan fisikku ini. Tapi sayangnya saat itu aku ditolak, bahkan 3 SMK menolakku karena masalah fisikku ini.

Waktu itu aku memang sempat drop dan berhenti sekolah selama satu tahun, sampai akhirnya seorang saudara mendaftarkanku ke sebuah SMA di Semarang, dan akhirnya aku bisa melanjutkan study lagi.

Dulu, aku sempat marah dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi ya inilah hidup. Aku harus mau berproses.

Aku percaya, setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing. Karena semakin hari manusia pasti menua, maka aku ingin berproses, demi menjadi manusia yang lebih baik.

Mbak e

Boleh dibilang, kesediaanku untuk serius menjalani proses terjadi saat aku menyadari kelebihanku dalam menggambar. Sebetulnya, aku sudah mulai suka menggambar sejak kecil. Namun berawal dari keisenganku menggambar wajah seorang teman, akhirnya pada tahun 2012 lalu aku betul-betul memantapkan hati untuk menekuni dunia menggambar ini. Aku percaya, inilah proses yang harus aku jalani agar taraf hidupku dapat meningkat.

Siang-malam, hari demi hari, aku menempa diri agar sanggup menghasilkan uang dari kemampuanku menggambar. Lambat laun, apa yang aku upayakan rupanya membuahkan hasil. Aku memperoleh orderan menggambar. Dari sinilah akhirnya aku bisa lebih mandiri.

Aku tak pernah menyebut diriku seniman. Aku cuma seorang kuli gambar. Karena jujur saja, aku menggambar untuk mencari uang. Makanya aku memilih lukis wajah atau karikatur, yang notabene putaran uangnya lebih cepat.

Pak karno

Tapi walau bagaimanapun, aku juga masih punya sisi idealisme. Terkadang, aku melukis di kanvas dengan cat. Tapi khusus untuk karya ini, hanya aku jadikan sebagai koleksiku pribadi. Tidak untuk dijual.

Aku sadar sekali bahwa aku memang punya kekurangan, tapi kekurangan itu bukanlah penghalang bagiku untuk meningkatkan kualitas hidup. Bahkan, justru kekurangan inilah yang menjadi pendorong kekuatan bagiku.

Aku bersyukur, karena dari kegiatanku menggambar ini, aku bisa hidup mandiri. Dari yang awalnya sekedar hobi, sekarang malah bisa menghidupi. Meski hasilnya tak menentu dan tidak begitu besar juga, tapi paling tidak, cukuplah untuk bayar kos, beli paketan internet, atau buat ngopi-ngopi.

Selama menjadi kuli gambar, karyaku bahkan pernah sampai ada yang terjual hingga Manado dan Riau. Sungguh, bagiku ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Terima kasih sebesar-besarnya aku ucapkan kepada sosial media, terutama Instagram, yang selama ini banyak membantu dalam hal penjualan lukisanku.

Hingga hari ini, meski salah satu alasanku menggambar ialah karena uang, tapi dari lubuk hati yang paling dalam, aku menggambar karena suka. Ya, suka. Seperti yang aku katakan tadi: aku sudah mulai suka menggambar sejak kecil. Inilah hal yang aku perjuangkan selama ini, dan mampu membuatku merasa benar-benar hidup. Aku berharap, sampai kapanpun, aku dapat terus menggerjakan hal-hal yang aku sukai.