Fitri Erba Wahyuningsih: “Sesuatu yang indah akan datang pada waktunya. Kalau belum indah? Berarti memang belum waktunya.”

Perkenalkan, namaku: Fitri Erba Wahyuningsih, dan biasa dipanggil Fitri. Aku lahir di kota Tuban pada tanggal 5 April 1991. Sekarang, aku berprofesi sebagai Ahli Gizi. Meski sebetulnya, sejak kecil aku memiliki cita-cita ingin menjadi dokter.

Saat masuk kuliah, jurusan kedokteran adalah pilihan pertamaku. Menyusul, Gizi sebagai pilihan berikutnya. Tapi apa mau dikata, doa dan upaya sudah dijalankan, hingga pada akhirnya Tuhan menempatkan aku pada jurusan Gizi. Ya sudahlah.

Sekitar tahun 2010 aku pernah berada pada sebuah titik dimana aku merasa bahwa ini merupakan keputusan yang salah untuk mengambil jurusan Gizi. Karena sekali lagi, jurusan yang betul-betul aku inginkan ialah kedokteran. Ditambah lagi, jurusan Gizi juga kerap kali dipandang sebelah mata jika dibanding jurusan kedokteran. Dua hal itu pernah sukses membuatku down dalam menjalani masa-masa kuliah.

Waktu terus berjalan, dan aku kian mampu untuk mencoba bersikap legowo. Masih banyak orang di luar sana yang tak bisa merasakan bangku kuliah. Harusnya aku bersyukur! Pikirku saat itu.

Fitri Erba Wahyuningsih dan boneka

Tapi jujur, terkadang keinginan untuk menjadi bagian dari jurusan kedokteran itu masih terngiang-ngiang di kepala. Sampai akhirnya, dulu ketika kuliah, waktu luangnya aku gunakan untuk ikut organisasi kampus yang masih berhubungan dengan kedokteran. Singkat cerita, aku pun sanggup berdamai dengan keadaan hingga lulus kuliah.

Dulu, aku pikir salah jurusan itu sebuah masalah besar. Tapi ternyata tidak, karena pasca lulus, masalah baru rupanya menghadang: aku menganggur, Wovger.

Semenjak lulus, aku rajin ke sana-kemari mencari pekerjaan, lalu datang ke job fair, juga mengirim beragam lamaran baik via email maupun pos, dan mengikuti tes-tes yang diselenggarakan. Hasilnya? Nihil! Ternyata betul, kerja keras itu bukan jaminan seseorang bisa berhasil. Tapi, semua orang yang berhasil sudah pasti bekerja dengan keras.

Berbulan-bulan aku menjalani hidup sebagai pengacara: pengangguran banyak acara. Wovger bisa merasakan kan, gimana pedihnya menjalani hidup berstatus pengangguran? Aku melihat, orang-orang yang dulu memuji dan mengelu-elukan aku ketika diwisuda menjadi sarjana Ahli Gizi, kemudian berubah, mereka menjelma menjadi manusia-manusia yang kapan saja siap menerkamku dengan pertanyaan: kerja di mana?

Pertanyaan semacam itu, seolah menafikan kegigihanku yang sudah mencoba ikut tes dan gagal berkali-kali.

Hingga pada akhirnya aku tiba pada sebuah kesadaran bahwa: hidup itu memang tentang perkara tetap bersemangat atau tidak, telaten atau tidak, ketika badai besar menghadang. Dan aku percaya: sesuatu yang indah akan datang pada waktunya. Kalau belum indah? Berarti memang belum waktunya.

Aku bersyukur memiliki keluarga yang tak hanya memberikan dukungan secara materil, namun juga moril. Mereka selalu ada, baik saat aku sedang berada dalam keadaan suka maupun duka. Selain dari keluarga, dukungan moril juga datang dari sahabat-sahabatku.

Kalau dihitung-hitung, aku sudah menjadi manusia tak berpenghasilan selama sembilan bulan. Sembilan bulan? Ya, karena akhirnya pada bulan berikutnya sebuah keajaiban tiba: salah satu Rumah Sakit swasta di daerah Lamongan – tepatnya RS Abdurrahman Syamsuri (RS Arsy) – mengabarkan bahwa mereka membutuhkan tenaga medis seorang ahli gizi. Perjuangan panjang akhirnya menemukan ujungnya, batinku. Di sinilah awal mula aku berkarir.

Seperti yang kubilang di atas tadi: dulu, aku pikir salah jurusan itu sebuah masalah besar. Tapi ternyata tidak, karena pasca lulus, menganggurlah masalah yang menurutku paling besar. Tapi ketika aku sudah mendapat pekerjaan seperti sekarang, rupanya definisi ‘masalah besar’ masih ada, dan menurutku pun berubah. Definisi masalah besar sekarang: menghadapi pasien yang konsultasi, padahal aku lagi nggak mood dan sedang bosan-bosannya. Ditambah lagi, aku adalah tipe orang yang cenderung moody dan cepat bosan.

Fitri Erba Wahyuningsih dan teman-teman

Aku sadar bahwa aku harus belajar memperbaiki karakterku. Di dunia kerja, aku tak boleh manja dan harus bersikap lebih dewasa. Bukan saatnya lagi untuk banyak mengeluh, melainkan sudah waktunya untuk banyak-banyak memberikan solusi. Karena tugas ahli gizi adalah memberikan konseling (edukasi) tentang gizi, atau tentang diet untuk pasien sesuai dengan penyakit yang diderita, demi menunjang kesembuhan/pemulihan pasien. Ah, aku harus bersikap profesional, gumamku.

Menurutku, sekarang sudah bukan saatnya lagi mempertanyakan tentang jenis pekerjaan. Namun lebih kepada manfaat seseorang dalam bidang pekerjaan tersebut.

Dengan menjadi Ahli Gizi, aku dapat bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang baru setiap hari. Aku juga semakin sadar bahwa ternyata profesiku ini penting bagi pencegahan penyakit untuk orang lain. Kalau dokter sifatnya menyembuhkan pasien dengan cara menyembuhkan dan merekomendasikan obat, maka Ahli Gizi justru menyarankan makanan-makanan serta minuman yang sehat untuk dikonsumsi, demi mencegah pasien sebelum jatuh sakit.

Kalau ditanya soal pencapaian terbesarku selama bekerja sebagai Ahli Gizi, tentu masih belum bisa disebut pencapaian yang berarti, karena belum seberapa dibanding pencapaian orang-orang hebat di luar sana. Tapi aku punya mimpi, suatu hari nanti aku ingin bergabung di kemenkes RI, lalu berwirausaha dengan membuka catering sehat serta membuka praktik konsultasi gizi.

Apakah mimpiku terkesan muluk-muluk? Ah, sepertinya tidak. Aku tahu jalannya dan bagaimana untuk menuju ke sana. Tercapai atau tidak, itu belakangan. Kewajibanku hanyalah berdoa dan berusaha. Juga, tetap bersabar dan berjuang dalam menghadapi setiap masalah apapun.