Nisa: “Orang yang Tuhan pilih untuk berada pada sebuah bidang, dialah orang yang Tuhan pilih untuk menjadi agen perubahan di bidangnya.”

Seperti yang Wovger bisa lihat pada gambar di atas, nama lengkapku: Sri Choirunnisa Syamsa. Aku biasa dipanggil Nisa. Umurku 21 tahun, tapi tahun lalu. Kalau tahun ini: 22 tahun. Aku lahir pada tanggal 9 Maret 1994 di Sidoarjo, dan sampai sekarang pun masih tinggal di kota yang sama.

Wovger ada yang baru aja lulus kuliah, tapi kerjanya bukan di bidang yang merupakan jurusannya?

Kalau ada, berarti kita harus bergandengan tangan, karena kita senasib. Yah, beginilah realita kehidupan. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata ada hikmah tak terduga yang justru aku temukan pasca menjalaninya.

Aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Tapi aku punya cerita yang ingin kubagi ke Wovger semua di manapun kalian berada. Semoga, cerita ini menginspirasi.

Sri Choirunnisa Syamsa Wisuda

Mari kita mulai…

Aku kuliah di jurusan kelautan. Dulu, aku punya cita-cita ingin memiliki profesi sebagai pengawas pelabuhan. Namun, akhirnya kandas gara-gara sekarang harus bekerja sebagai admin di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa logistik di daerah Surabaya. Bisa dibayangkan kan, gimana keribetan banting stirnya anak kelautan hingga jadi seorang admin?

Saat pertama kali masuk kerja, aku betul-betul nggak paham sama sekali dengan dunia per-admin-an ini. Banyak istilah-istilah dan hal-hal baru yang mau nggak mau harus aku pelajari dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tapi boleh dibilang, sebetulnya bekerja di sini, ada senang dan tidaknya. Senang karena sudah bisa bekerja dan kenal dengan orang-orang baru, serta tak begitu senang lantaran ini sama sekali bukan bidang disiplin ilmuku.

Proses belajar dari awal ini membuatku sering kali melakukan kesalahan saat bekerja, karena pembelajaranku yang masih dalam tahap meraba-raba ini harus siap beradaptasi dengan standar admin profesional. Fatalnya, atasan nggak begitu peduli tentang prosesku ini. Ia hanya mau: barang cepat sampai, dan nggak kena komplain dari customer. Itu saja! Sehingga, Wovger bisa bayangin sendiri lah ya, gimana bayi baru lahir kalau dipaksa harus bisa lari? Nah, itu yang aku rasakan sekarang.

Aku paham betul kalau cita-cita itu harus diraih. Harus banget. Cita-cita sebagai pengawas pelabuhan pun merupakan cita-cita yang sudah aku persiapkan segala sesuatunya, demi meraih apa yang aku impikan tersebut.

Aku bukannya mundur dari cita-cita. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, aku memang harus bisa memilih: mana yang lebih penting?

Karena untuk mencapai impianku sebagai pengawas pelabuhan mengharuskanku untuk jauh dari keluarga, maka bagiku, yang lebih penting adalah: bekerja apapun, selama itu halal dan selalu bisa dekat dengan keluarga.

For your information, Wovger, aku anak tunggal. Hanya aku, satu-satunya anak yang orangtuaku miliki. Dan hanya mereka, orangtua yang aku miliki. Sekali lagi, aku lebih memilih pekerjaan apapun, selama itu halal dan masih bisa terus bersama keluarga. Bukankah harta yang paling berharga adalah keluarga?

Jujur, awalnya memang aku pernah ngotot ingin mengejar cita-citaku. Tahu sendiri lah ya, darah muda kalau menggebu-gebu memperjuangkan sesuatu itu seperti apa. Tapi entah kenapa, hari-hariku selama beradu argumen dengan orangtuaku itu tak pernah membawa ketenangan dalam benakku. Selalu ada saja hal-hal yang membuat batinku resah, gelisah, tak tenang dan tak tentram.

Sri Choirunnisa Syamsa di Kapal

Aku ngotot bukan karena tak berdasar. Malah justru dasar kuatlah yang membuatku betul-betul ingin memperjuangkan impianku, termasuk memperjuangkannya di hadapan orangtuaku. Dasar pertama, karena memang aku suka pada hal-hal yang berhubungan dengan laut. Dasar kedua, berangkat dari kemuakanku akan pungli yang sudah biasa terjadi di lingkungan pelabuhan. Asal Wovger tahu, tengah malam masuk pelabuhan itu dilarang. Tapi kok sampai sekarang banyak terjadi? Ya gara-gara apalagi penyebabnya, kalau bukan karena ada uang pelicin?! Itu baru satu hal loh. Tentu masih ada kebobrokan di lini-lini lainnya yang tak mungkin aku ceritakan disini.

Aku percaya, untuk merubah sistem, salah satu cara paling mungkin adalah masuk ke dalam sistem tersebut. Atau jika mau memakai cara lain, setidaknya memiliki power untuk memperketat dan mempertegas regulasi, sehingga tak ada lagi yang namanya penyalahgunaan dalam sistem. Untuk power, jelas aku tak punya. Harus jadi pejabat terkait dulu, untuk bisa mengatasi permasalahan melalui sektor ini. Jadi satu-satunya cara yang paling mungkin ialah: masuk ke dalam sistem untuk merubah birokrasi. Itulah alasan kenapa aku sampai ngotot untuk memperjuangkan impian ini di hadapan orangtuaku.

Kalau Wovger ada yang orang kelautan, mungkin saat ini ada yang sedang menertawakanku dengan mengatakan:

“Memangnya kamu siapa Dek, kok berani-beraninya sok-sokan mau merubah birokrasi?”

Sekali lagi: aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Tapi, tak bolehkah orang yang bukan siapa-siapa seperti aku ini, memiliki impian untuk menjadikan Indonesia lebih baik, melalui bidang yang aku (atau mungkin kami) mampu?

Saat ini, aku bahkan telah kehilangan seluruh akses untuk menjadikan dunia kelautan – terutama pelabuhan – menjadi lebih baik. Power tak punya, masuk sistem pun tidak. Tapi tak mengapa, karena keputusan untuk ‘memilih bekerja apapun selama bisa dekat dengan keluarga’ ini, bagiku bukanlah penghambat. Namun justru inilah keputusan yang paling tepat, sesuai dengan kondisiku saat ini.

Apakah itu berarti aku tak mau menjadi sebuah bagian dari perubahan? Oh tidak, bukan begitu logikanya. Aku percaya, siapapun orang yang Tuhan pilih untuk berada pada sebuah bidang, dialah orang yang Tuhan pilih untuk menjadi agen perubahan di bidangnya.

Sekarang, aku menjadi admin di bidang jasa logistik. Nah, berarti di sinilah tempat di mana aku harus menggerakkan perubahan.

Perubahan pun tak melulu merubah dari buruk ke baik. Tapi bisa juga dari baik, menjadi lebih dan lebih baik lagi.

Lalu kalau ada pertanyaan: siapa dong yang akan menjadi agen perubahan di bidang kelautan, terutama pelabuhan? Percaya saja, Tuhan pasti menunjuk manusia-manusia lain untuk berjuang di sana.

Kini, aku sedang berada pada titik dimana aku merasa bahagia dengan apa yang aku kerjakan. Dulu, kukira aku takkan bisa beradaptasi. Ternyata dugaanku selama ini salah. Meski bisa dibilang gajiku sekarang masih di bawah UMR, tapi entah kenapa aku merasa cukup dengan ini semua. Bahkan, aku bisa menyisihkan sebagian uangku untuk kuberikan kepada orangtua. Mungkin ini merupakan dampak dari berbakti kepada orangtua. Juga, doa yang tak henti-hentinya orangtua panjatkan di setiap sujudnya. Terutama doa ibu.