Laily Puspita: “Aku tak peduli surga atau neraka. Karena aku percaya, Tuhan lebih tahu tempat yang tepat untuk hamba-Nya.”

Menurutku, hidup itu penuh dengan kesempatan. Tinggal kita sebagai manusia: ingin memilih untuk mengambil kesempatan itu dan menjalaninya, atau melewatkannya begitu saja. Persis seperti yang kulakukan saat ini. Ketika semua orang bekerja keras mencari uang demi dunia, maka jalan hidup justru mengarahkanku untuk mengabdi kepada agamaku (Islam) dan masyarakat.

Maksudnya?

Hmm… sebelum membaca lanjutan ceritanya, aku perkenalan dulu ya.

Hai Wovger! Perkenalkan, namaku Laily Puspita. Aku lahir pada tanggal 23 April 1992. Sekarang, aku tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Salah satu kesibukanku saat ini ialah – seperti yang kubilang tadi – mengabdi untuk agama dan masyarakat.

 

Ijinkan aku melanjutkan ceritanya…

Jadi begini, sejak kecil aku dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat. Lingkungan tempatku tinggal, anak-anak mudanya paling menonjol pada dua hal: organisasi agama, dan olahraga.

Ketika aku berumur 19 tahun, ibu menyarankanku untuk ikut organisasi agama di desa. For your information, Wovger, itu bukan pesantren. Namun sekali lagi: organisasi untuk anak-anak muda di desa yang nantinya kami semua akan diajarkan tentang berbagai macam ilmu dan kehidupan mengenai Islam. Di beberapa daerah mungkin ada yang menamakan: remaja masjid. Kalau di desaku, namanya: anak muda masjid. Intinya sama saja. Kegiatan-kegiatan yang rutin diadakan diantaranya seperti pengajian, belajar dakwah, dan menjadi panitia pada event-event hari besar agama Islam.

Laily Puspita

Ke-aktif-anku dalam kegiatan anak muda masjid sempat menurun saat aku harus pindah ke Malang untuk kuliah. Tetapi jiwa melayani masyarakat alhamdulillah masih melekat. Sehingga tetap bisa aku lakukan meski bermukim di kota lain.

Entah kenapa, aku merasa apa yang aku lakukan ini berhubungan dengan cita-citaku, yakni ingin menjadi orang yang hidup bahagia. Aneh ya, ketika banyak orang berbondong-bondong memiliki cita-cita ingin jadi dokter, pilot, guru, aku malah ingin hidup bahagia.

Siapa bilang aku tak punya cita-cita dalam bidang-bidang yang mendatangkan penghasilan? Maksudku hidup bahagia adalah: berbahagia dengan apapun yang aku kerjakan. Sama seperti yang Mas Dewanto Ardi pernah paparkan kepada tim penulis Wovgo. Jadi kalau doa dan usahaku dijawab oleh Tuhan dengan takdir bekerja sebagai orang kantoran, maka aku ingin menjadi pegawai kantoran yang berbahagia. Jika doa dan usahaku dijawab oleh Tuhan dengan takdir menjadi pengusaha, aku ingin menjadi pengusaha yang hidupnya bahagia.

Setelah lulus kuliah, seperti sarjana-sarjana pada umumnya, aku berburu lowongan pekerjaan. Waktu itu, niat utamaku ialah ingin hidup mandiri. Singkat cerita, aku diterima kerja di sebuah perusahaan di daerah Sidoarjo, sebagai admin penjualan.

Laily Puspita background putih

Itu kali pertama aku mencicipi dunia kerja. Subhanallah, banting tulang banget! Berangkat pagi, pulang malam. Ternyata begini ya rasanya kerja, pikirku. Aku sempat stres gara-gara nggak kuat. Soalnya, basically aku tipe orang yang suka melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan orang. Sementara, posisi sebagai admin penjualan mengharuskanku duduk berjam-jam di depan komputer. Rasanya nggak kuat, Wovger. Nggak kuat! Jujur, aku kurang bisa beradaptasi. Akhirnya, aku memutuskan untuk resign.

Setelah resign, aku tetap menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan, meskipun tak begitu fokus. Saat itu aku belum cukup sadar bahwa ternyata kegiatan-kegiatan keagamaan itu memberi dampak yang baik bagi perkembangan kepribadianku. Jadi aku masih menganggap: yah, untuk mengisi waktu luang saja. Sehingga aku masih rajin ikut job fair, serangkaian tes wawancara dan mengejar hal-hal lain yang berbau duniawi.

Usahaku pun membuahkan hasil. Aku mendapat panggilan tes kerja, dan diterima, tetapi ada syaratnya. Nah, syaratnya inilah yang bikin aku mundur. Yaitu: harus bersedia melepas jilbab. Tanpa pikir panjang, aku tolak syarat itu.

Tahukah Wovger, bagaimana perasaanku saat secara tegas menyatakan hal itu?

Hatiku bergetar. Tak pernah aku se-berani itu sebelumnya. Saat tindakan itu kulakukan, seperti ada bisikan: ‘bekerjalah, tapi jangan pernah sampai menggadaikan kewajibanmu sebagai umat muslim’.

Aku galau, namun sekaligus lega. Galau karena harus merelakan kesempatan di depan mata, dan lega karena aku tak menggadaikan nilai-nilai yang aku percayai dalam agamaku.

Laily Puspita Universitas Brawijaya

Demi mengisi kekosongan, waktu-waktu luang aku gunakan untuk membantu bapak berbisnis di bidang penjualan buku. Dengan jadwal yang lebih fleksibel ini, membuatku dapat kembali aktif mengikuti kegiatan bersama anak muda masjid. Kegiatan ini membuatku pada akhirnya didapuk untuk mewakili desa, mengikuti pelatihan pustakawan. Selain itu, aku juga sering mendapat job di acara-acara nikahan dan tabligh akbar. Di titik inilah pikiranku kemudian terbuka: aku menemukan jiwaku di sini. Hingga akhirnya aku mantap untuk mengabdikan diriku melayani masyarakat dan agama.

Jujur, aku tak peduli surga atau neraka. Karena aku percaya, Tuhan (Allah) lebih tahu tempat yang tepat untuk hamba-Nya. Dialah yang paling berhak untuk memutuskan surga atau neraka untuk manusia. Dalam hal ini, tugas dan niatku: lillahi ta’ala untuk mengabdi kepada agama dan masyarakat.

Entah kenapa aku merasa betul-betul berbahagia dengan apa yang aku lakukan. Persis seperti cita-cita yang aku sebutkan di awal tadi. Dari sini, kesempatan demi kesempatan semakin terbuka lebar. Aku ditunjuk oleh dewan masjid Indonesia di islamic centre Surabaya, untuk mewakili desa dalam pelatian ekonomi syariah. Kadang-kadang juga sering ditunjuk mewakili desa untuk lomba MC. Dan, kesempatan-kesempatan lainnya yang sebelumnya tak pernah aku duga.

Pelajaran yang aku petik: jika sesuatu itu mendatangkan kebaikan, lakukanlah. Jangan pernah menunggu. Dan jika Tuhan (Allah) meletakkanmu pada sebuah tanggung jawab, jangan keluhkan apapun posisimu. Tapi, lakukanlah yang terbaik apa-apa yang ada di depan matamu.

Harapanku ke depan, aku masih ingin bekerja kantoran, selama tak ada larangan mengenakan jilbab. Posisi yang kuinginkan, public relation. Tapi sungguh, dari lubuk hati yang terdalam, aku ingin berwirausaha juga, bantu-bantu bapak mengembangkan bisnis penjualan bukunya. Eh, ada lagi keinginanku, aku ingin segera mendapat jodoh. Hahaha.

Untuk Wovger sekalian, pesanku, jadilah anak muda yang paham ilmu agama. Bagi yang muslim, ramaikan dan cintailah masjid. Mengaculah juga pada pilar muslim, yakni harus memiliki akidah bersih, iman yang kokoh, dan mampu secara ekonomi atau berpenghasilan.