Christine: “Mandiri itu bukan soal umur. Melainkan, tentang kesediaan mengambil tanggung jawab pribadi, berapapun usianya.”

Kalau aku memperkenalkan diri dengan nama lengkap: Christine Yuli Ronita Nababan, Wovger bisa nebak aku berasal dari mana kah? Hehehe. Jangan langsung memikirkan nama Putra Nababan si penyiar berita dan pemimpin redaksi yang tampan itu. Nanti yang terlintas di pikiran malah menyangka bahwa aku berasal dari Jakarta.

Okelah, langsung mengaku saja. Aku berasal dari kecamatan Sidikalang, kabupaten Dairi, provinsi Sumatera Utara. Aku lahir pada tanggal 26 Juli 1996. Hobiku menyanyi, juga, memainkan alat musik gitar dan piano. Tetapi aku tidak pernah melakukan ketiganya secara bersamaan. Hahaha.

Aku adalah mantan anak manja. Dulu, baju ada yang nyuciin. Makan ada yang masakin. Berangkat dan pulang sekolah selalu antar-jemput. Main nggak pernah jauh-jauh. Pokoknya dulu aku anak manja dan rumahan banget, lah. Tapi ada sebuah proses hidup yang mana proses tersebut mengantarkanku untuk menjadi pribadi mandiri.

Christine Yuli Ronita Nababan

Kemandirianku ditempa ketika merantau. Nggak kebayang kan, gimana ceritanya, anak manja dan penakut kok berani-beraninya merantau. Sebetulnya ini dilatarbelakangi oleh ambisi teman-temanku yang setelah lulus sekolah, ingin melanjutkan kuliah ke luar Sumatra. Seru juga kayaknya, pikirku saat itu.

Mama adalah orang yang paling gigih menentang ketika aku mengemukakan kemauanku untuk kuliah di luar Sumatra. Sementara Papa, mengucapkan ‘do your best’ dan menunjukkan sikap mendukungku. Gesekan ini menimbulkan perdebatan sengit dalam keluargaku. Namun itu semua bisa aku hentikan setelah mengeluarkan ancaman bahwa aku nggak akan kuliah kalau nggak diijinkan menempuh pendidikan di luar Sumatra. Akhirnya, permintaanku disetujui.

Mula-mula aku menunjukkan keseriusanku kepada orangtua dengan cara ikut bimbingan belajar secara intensif, demi bisa diterima di kampus favorit. Setelah itu aku mendaftar di IPB, dan Puji Tuhan diterima di jurusan Perkebunan. Tapi orangtua nggak setuju dengan jurusannya. Aku pun mendaftar lagi. Kali ini, kampus selanjutnya ialah Universitas Brawijaya, Malang. Aku mengambil jurusan Perikanan dan Kelautan. Lagi-lagi, Puji Tuhan, aku diterima!

Christine Yuli Ronita Nababan 7

Bulan-bulan awal kuliah, perjuangan beratku sebagai anak rantau dimulai. Karena baru pertama, otomatis harus adaptasi dulu. Merasakan bahwa segala sesuatunya harus disiapkan sendiri. Mulai dari nyuci baju sendiri, hingga makan pun cari sendiri. Apesnya, ternyata rasa makanan di Jawa itu berbeda banget dengan di Sumatera. Lidahku belum bisa langsung menerima. Tapi mau nggak mau aku harus adaptasi.

Selain soal makanan, juga tempat tinggal. Kalau dulu di rumah aku biasa tinggal bersama keluarga, maka ketika di Malang, aku harus hidup sendiri. Masa-masa awal kuliah sering banget nangis-nangis sendiri, kangen orang rumah. Apalagi ketika sakit. Rasanya pingin nyerah dan mau pulang. Tapi kalau nyerah dan pulang sekarang, pasti mental jadi nggak tertempa, kataku saat itu. Dan yang pasti, aku malu dengan keluarga kalau sampai gagal. Dulu pernah ngotot-ngotot pingin kuliah di luar Sumatera, setelah dituruti, masa malah mundur.

Christine Yuli Ronita Nababan 6

Kesedihan-kesedihan yang kutahan ini lambat laun menjelma menjadi kekuatan. Ya, aku tiba-tiba seperti menjadi pribadi yang kuat, Wovger. Pribadi mandiri. Mulai saat itulah aku menjadi terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri.

Aku melihat, ada banyak sekali teman-teman seusiaku, bahkan yang lebih tua, namun belum juga mandiri. Menurutku, mandiri itu bukan soal umur. Melainkan, tentang kesediaan mengambil tanggung jawab pribadi, berapapun usianya.

Oh ya Wovger, di tempat yang baru ini, aku banyak mendapat teman baru dan pelajaran hidup yang baru. Di tempat baru ini pula, aku jadi lebih rajin ikut kegiatan di gereja. Seandainya aku memilih kuliah di Sumatera, mungkin aku belum bisa menjadi pribadi yang mandiri. Seandainya aku memilih kuliah di Sumatera, mungkin aku pergi ke gereja-nya tak serajin ketika aku tinggal di Malang.

Sekarang aku semester empat, dan sangat betah tinggal di Jawa. Harapanku, kelak aku juga bisa mendapat pekerjaan di Jawa. Meski demikian, suatu hari nanti aku tetap ingin pulang ke Sumatra. Melihat potensi daerahku yang bagus, sepertinya kelak aku ingin membuka usaha di kampung halaman, yaitu buka tambak ikan. Aku ingin mengumpulkan banyak uang, ingin menabung, agar bisa membawa kedua orangtua serta adik-adikku ke Roma, Italia, berkunjung ke Gereja Vatikan di sana. Amin.