Bias: “Mendidik secara akademik, mencerdaskan pikiran. Mendidik secara moral, mempercantik hati. Dan kombinasi keduanya ialah keseimbangan.”

Ibarat rumah, pondasi adalah dasar untuk membuat rumah yang kokoh. Sama seperti manusia, pondasinya adalah ilmu, sebagai landasan untuk bertahan dan menyikapi hidup. Tanpa adanya ilmu pengetahuan, manusia tak bisa berkembang dan akan menjadi terbelakang. Namun ilmu pengetahuan tanpa moral, hanya akan membuat manusia sewenang-wenang dengan apa yang dimilikinya.

Kenalkan, aku Bias. Nama lengkapku Bias Nur Elmira. Anak Madiun yang lahir di Magetan, 8 Juli 1992 silam. Wovger boleh bilang bahwa hidupku begitu random. Tapi meski demikian, aku tak pernah random soal passion.

Mari kita bedah dulu hal-hal yang membuat hidupku random.

Bias Nur Elmira guru bimbingan belajar

Pertama-tama, aku suka banget nyanyi. Yah, walaupun hanya sebatas menyanyi di kamar mandi. Tapi paling tidak, ada bakat terpendam yang hanya selalu aku asah di dalam ruangan khusus sambil mengimajinasikan gayung sebagai mic.

Random kedua, bukannya ikut paduan suara untuk menunjang vokalku, aku malah ikutan tim voli di kampus. Ya, aku suka banget voli. Bahkan, dulu ketika di kampus, timku sering kali ikut kejuaraan lomba voli antar fakultas.

Random ketiga, bukannya mengambil jurusan olahraga untuk menunjang kecintaanku pada voli, tapi saat kuliah aku malah mengambil jurusan Ilmu Perikanan dan Kelautan. Random abis kan? Eit, masih ada lagi…

Saat ini, aku sedang menempuh pendidikan S-2. Nah, bukannya melanjutkan study pada jurusan yang sama ketika S-1 dulu, namun aku malah mengambil jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia. Kurang random apalagi coba? Hehehe.

Bias Nur Elmira sedang mengajari siswa belajar

Tapi aku tidak pernah random pada satu hal: pendidikan. Ya, sejak kecil aku mencintai dunia pendidikan. Di usia sedini itu, aku bahkan sudah bercita-cita ingin menjadi dosen. Cuma, dosen apa? Nah, itu yang sejak dulu aku belum tahu.

Untuk mencapai cita-citaku itu, dari SD hingga SMA, aku rutin mewakili sekolah mengikuti lomba cerdas cermat. Tak hanya di kotaku sendiri, namun aku juga mengikuti lomba tersebut hingga luar kota.

Dulu sewaktu SMA, aku pernah ditawari jadi pengajar les bahasa inggris oleh seorang guruku SMP. Aku menerimanya, dan kemudian mengajar selama 2 bulan di tempat yang tak jauh dari rumahku. Dari situ, aku mulai memanfaatkan kesempatan ini untuk menabung pengalaman.

Beranjak kuliah, aku sempat vakum di dunia mengajar hingga semester 6 karena kesibukan kuliahku yang padatnya luar biasa. Kemudian, di akhir semester, entah kenapa hasrat untuk menjadi pengajar kembali muncul. Namun aku terkendala satu hal: aku tak punya kendaraan. Dengan apa aku mendatangi rumah-rumah siswa kalau bukan menggunakan kendaraan? Tentu tidak enak kalau setiap hari meminjam motor teman.

Bias Nur Elmira dan siswinya

Hingga suatu hari, Tuhan menjawab apa yang aku butuhkan. Orangtua menghadiahi aku sebuah motor. Dari situlah aku mulai berkelana mengembangkan skil mengajar yang kumiliki. Aku memberanikan diri untuk mendaftar sebagai tentor di salah satu bimbel di dekat kampus. Saat itu posisiku sebagai tentor lepas, artinya bukan pegawai tetap. Jadi mengajarnya harus mendatangi rumah-rumah siswa.

Pertama kali menjadi tentor, rasanya senang sekali. Tapi juga sekaligus struggle, karena harus menempuh jarak yang cukup jauh dan hanya untuk mengajar 1 murid saja. Sedangkan, setelahnya aku harus bergantian mengajar ke rumah 3 murid lainnya. Panas, hujan, dan pulang larut malam adalah menu harianku. Belum lagi, sesampai di kos, seabrek jurnal skripsi sudah siap menyambut. Tapi tak mengapa, karena aku menikmatinya, batinku.

Setelah wisuda, aku terpaksa resign lantaran harus pulang ke Madiun. Mau tak mau, aku harus mencari peruntungan lain selain menjadi pengajar. Bagiku, itu perasaannya seperti patah hati, dimana aku sudah begitu mencintai bidang yang aku kerjakan, tetapi diharuskan berpisah. Ketika pulang kampung, aku mencoba melamar banyak pekerjaan, namun hasilnya nihil. Pada titik inilah aku menyadari nelangsanya hidup sebagai mahasiswa yang pernah salah jurusan. Sudah tahu ingin menjadi dosen, malah mengambil jurusan perikanan. Ah, tapi aku yakin, ilmu yang kupelajari selama kuliah, suatu hari nanti pasti akan berguna. Entah sebagai profesi, atau membuka bisnis seperti budidaya ikan lele. Intinya, ilmu yang aku peroleh tetap bisa bermanfaat.

Bias Nur Elmira dan tentor lainnya

Suatu hari yang cerah, demi membuang jenuh di rumah, aku keliling kota untuk jalan-jalan. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah tempat bimbingan belajar yang di papan pengumumannya tertulis: dibutuhkan tentor baru. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Setelahnya, aku langsung melamar dan alhamdulillah diterima.

Inilah kegiatanku sekarang, Wovger: menempuh S-2 dan menjadi tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar di kota tercintaku, Madiun.

Awalnya, aku hanya jadi tentor part time. Sekarang, full time. Dulu gajinya juga masih sedikit, tapi alhamdulillah sekarang meningkat. Seneng banget pokoknya, dibayar untuk melakukan hal-hal yang aku sukai. Penuh pengalaman pula.

Menurutku, mengajar itu bukan hanya passion semata, tapi juga ibadah. Karena bisa membagi ilmu yang dimiliki untuk orang lain. Di samping itu, aku juga harus bisa menjadi orangtua, kakak, dan sahabat bagi murid-muridku. Jadi selain memberi pelajaran akademik, aku juga menyisipkan pelajaran-pelajaran tentang moral, agar anak-anak Indonesia, selain cerdas dari segi akademik, juga cerdas secara moral.

Bagiku, mendidik secara akademik, mencerdaskan pikiran. Mendidik secara moral, mempercantik hati. Dan kombinasi keduanya ialah keseimbangan.

Pengalaman ini bisa membuatku lebih mandiri menghadapi orang-orang baru, mengajari agar aku pantang menyerah serta terus belajar, dan membuatku mengerti bahwa ilmu itu nggak ada habisnya untuk dipelajari.

Dengan profesi saat ini, aku berharap semoga impianku untuk menjadi dosen bisa tercapai. Dan semoga murid-murid bimbingan belajarku bisa menjadi manusia yang lebih berguna serta lebih bermanfaat dari tentornya ini.

Saat ini, bagiku, tak ada kata yang lebih penting selain memajukan pendidikan di Indonesia.