Karunianto: “Lebih baik bermimpi setinggi langit. Karena kalau pun jatuh, setidaknya, tempat jatuhnya berada di antara bintang-bintang.”

Namaku Christian Karunianto, aku biasa dipanggil Chris oleh teman-temanku, atau Nian oleh orang-orang yang mengenalku sejak kecil. Aku lahir di Purworejo, 18 Maret 1991. Secara umur sih aku sudah cukup, secara ekonomi juga sudah lumayan mapan. Tapi kalau Wovger bertanya kapan menikah? Nanti dulu lah. Hehehe.

Karena tuntutan pekerjaan, sekarang aku berdomisili di Rawamangun, Jakarta Timur. Aku bekerja di Bea Cukai. Banyak orang bilang kalau pekerjaanku cukup bergengsi. Tapi menurutku, ini semua semata karena keberuntungan dan kasih karunia dari Tuhan.

Boleh dibilang, aku bisa masuk Bea Cukai karena lulusan STAN. Tapi asal Wovger tahu, aku bahkan sudah bermimpi ingin masuk STAN sejak kelas 6 SD. Tapi waktu itu aku belum tahu STAN itu sekolah macam apa. Pokoknya setahuku waktu itu, kalau sekolah di situ gratis, dan bisa langsung kerja, tapi syaratnya harus pinter Matematika. Makanya, sejak kecil aku selalu berusaha belajar dengan cukup keras.

Saat itu aku sempat berpikir:

Mungkin mimpiku terlalu berlebihan. Tapi bagiku, lebih baik bermimpi setinggi langit. Karena kalau pun jatuh, setidaknya, tempat jatuhnya berada di antara bintang-bintang.

Waktu lulus SMA, aku masih tetap keukeuh ingin mengejar impianku untuk masuk STAN. Aku tidak berusaha masuk ke tempat lain, karena keluargaku tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. STAN menjadi satu-satunya kesempatanku untuk bisa melanjutkan masuk perguruan tinggi yang tanpa biaya.

Jalanku masuk STAN tidak segampang yang dibayangkan. Awalnya, aku dikenalkan oleh seorang ibu yang anaknya lulusan STAN. Puji Tuhan, ibu itu mengarahkanku banyak cara agar bisa diterima di STAN.

Oleh ibu itu, aku disarankan untuk mengikuti bimbel di Jogja. Aku bimbel selama sebulan sebelum tes masuk. Tidak mudah untukku mengikuti bimbel ini. Karena ada sekitar 700 peserta yang ikut bimbel ini, dan semua memiliki harapan yang sama untuk bisa lolos ke STAN. Aku berusaha belajar siang malam di asrama bimbel. Waktu itu satu rumah isinya 20 orang, dan cuma ada 4 kamar. Bisa Wovger bayangkan lah, bagaimana sumpeknya suasana di rumah itu.

Christian Karunianto selfie

Di bimbel itu, ada sebuah try out yang dapat dijadikan tolok ukur sebelum para peserta melakukan tes yang sesungguhnya di STAN. Dari 700 peserta bimbel yang mengikuti try out, aku berada di peringkat 150-an, dan tidak lulus di tes Bahasa Inggris. Karena untuk lulus, setiap peserta harus menjawab dengan benar 1/3 dari jumlah soal, dan itu betul-betul menjadi perkara yang sulit bagiku.

Tapi kegagalan saat try out tidak menciutkan niatku. Bermodal sikap hati yang ngotot, “Pokoknya harus kuliah di STAN!!!”, aku berjuang keras untuk bisa lolos di tes masuk. Bahkan setiap ada kelas Bahasa Inggris, aku selalu mengikuti kelas tersebut, tak peduli itu kelasku atau bukan. Itulah bukti dari niatku.

Tak lama setelahnya, tes masuk STAN yang sesungguhnya pun dimulai. Jujur, sebetulnya saat itu aku masih ragu dengan kemampuanku menghadapi tes Bahas Inggris. Tapi, sekarang bukan waktunya lagi untuk ragu, kataku saat itu. Aku pun mengerjakan tes dengan penuh keyakinan.

Sesuatu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba: pengumuman penerimaan. Aku dinyatakan lulus tes dan bisa masuk STAN. Saat itu, aku masih ragu antara mau percaya atau tidak, takut kalau yang sebetulnya tertulis itu bukan namaku. Dan ternyata, benar, itu namaku. Sekali lagi, aku mendapat kasih karunia yang luar biasa.

Saat lolos masuk STAN, mau tak mau aku harus merantau. Cukup takut awalnya, saat harus jauh dari orangtua. Tapi aku kembali bersyukur karena bisa berkumpul dengan teman-teman se-kotaku, dan bisa tinggal dalam satu kos. Di sana, ada komunitas bernama KMaP: Keluarga Mahasiswa Purworejo yang menjadi keluarga baruku selama merantau.

Selama menempuh pendidikan di STAN, semuanya berjalan dengan lancar. Walaupun tuntutannya juga cukup berat, tapi aku tetap bisa menyelesaikannya. Lha nyatanya aku bisa lulus dan masuk Bea Cukai. Hehe.

Christian Karunianto dan saudara

Sistem kuliah di sini memang cukup berat. Untuk kehadiran, mahasiswa dituntut tidak boleh ijin (entah itu sakit, ijin, apalagi tanpa keterangan) lebih dari 3 kali selama satu semester. Untuk tuntutan IP per semester juga cukup sulit. IP harus di atas 2,25 di semester ganjil, dan di atas 2,75 di semester genap. Saat masuk tingkat 2, mata kuliahnya tambah berat lagi. Banyak yang tak bisa memenuhi target nilai dan terpaksa harus di DO. Aku sangat bersyukur, bisa memenuhi tuntutan itu dengan baik.

Setelah lulus dari STAN, aku tak begitu panik soal pekerjaan. Karena STAN memiliki ikatan dinas. Tapi takdir berkata lain. Waktu itu aku harus mendapati kenyataan bahwa pada angkatanku, ternyata sedang terjadi moratorium PNS atau penghentian penerimaan PNS. Akhirnya aku harus menunggu sampai satu tahun, atau dengan kata lain, selama satu tahun itu aku harus menganggur.

Selama 1 tahun itu aku tidak serta merta menganggur juga, aku tidak mau pendidikanku sia-sia. Makanya aku mencoba mengisi waktuku dengan memberikan les kepada anak-anak SD di rumah. Aku juga sempat diperbantukan untuk menjadi pengajar di sebuah SD yang kekurangan guru. Waktu itu, kepala sekolahnya langsung memercayakanku untuk mengajar kelas 4 SD.

Sejak menjadi guru, aku bersyukur karena mendapat banyak sekali pengalaman. Aku bisa melihat bagaimana pendidikan di desa, jika dibanding di kota besar seperti Jakarta. Saat mengajar di sekolah tersebut, aku sering ditunjuk untuk menjadi pembimbing setiap kali sekolah akan mengikuti lomba-lomba, dan Puji Tuhan, sekolah kami sering juara. Kemenangan dari lomba-lomba yang diikuti oleh anak-anak yang aku bimbing ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri buatku. Bukan. Bukan aku yang hebat. Melainkan, anak-anak itulah yang gigih menggali potensi diri mereka lebih jauh.

Christian Karunianto

Tahun 2013 aku mendengar kabar bahwa akan ada tes TKD (semacam tes untuk PNS tapi khusus lulusan STAN). Tanpa pikir panjang, aku mengikutinya. Meski TKD yang aku ikuti tak menuntutku untuk bersaing dengan calon pendaftar PNS (umum) lain, tapi tetap saja ada standar yag harus dipenuhi. Yakni, standar nilai lulus tesnya harus di atas 285.

Saat mengikuti tes, aku cukup kesulitan, karena sebetulnya aku masih mengajar di SD dan sedang sibuk-sibuknya lantaran ada banyak lomba. Puji Tuhan, meski demikian, akhirnya aku bisa lolos tes tersebut, walau dengan nilai mepet dari target minimal, yakni 309.

Puncak dari ucapan syukurku ini adalah saat aku diterima di Bea Cukai. Waktu itu aku diminta untuk mengisi minat penempatan, dan aku memilih Inspektorat Jendral Kemenkeu, Pajak, serta Bea Cukai. Pilihan pertama dan kedua, belakangan aku baru tahu kalau penempatannya di luar pulau. Aku bersyukur, karena dengan masuk Bea Cukai, aku masih bisa tetap tinggal di Jakarta. Awalnya aku juga tak pernah membayangkan kalau bakalan masuk di Bea Cukai yang merupakan pilihan ketigaku. Tapi ini benar-benar rencana yang indah banget dari Tuhan.

Aku seolah sedang hidup dalam mimpi. Semuanya berjalan dengan mulus. Atau kalau ada kerikil-kerikil kecil, aku yakin ada pembelajaran dibaliknya. Keberuntungan dan keberhasilan yang Tuhan beri itu tidak tanggung-tanggung. Benar-benar diluar ekspektasiku. Mungkin aku terlalu religius karena banyak menyebut Tuhan. Tapi ya inilah aku, aku bersyukur karena Tuhan selalu memberi kasih karunianya untukku. Saat mengandalkan Tuhan aku benar-benar tidak dikecewakan.

Mungkin ada 1001 alasan untuk mengeluh dalam hidup. Tapi aku menemukan 1 juta alasan untuk bersyukur atas apa yang Tuhan beri dalam hidupku.